Ngopi boleh. Memancing lebih seru. Banyak pria tampaknya lebih nyaman bertemu teman ketika ada kegiatan yang dilakukan bersama, meski obrolan tetap berjalan.
Coba perhatikan cara sebagian kelompok pertemanan pria membuat janji. Ajakan "ketemu, yuk, ngobrol" terkadang terasa kurang lengkap sampai muncul tambahan seperti main badminton, nonton bola, utak-atik motor, memancing, atau sekadar mencari makan. Aktivitas seperti memberi alasan mengapa mereka perlu berada di tempat yang sama.
Bukan berarti pria tidak menyukai percakapan atau tidak mampu membangun kedekatan melalui kata-kata. Dalam sejumlah persahabatan pria, percakapan justru muncul lebih mudah ketika perhatian tidak sepenuhnya diarahkan satu sama lain. Ada sesuatu yang dikerjakan, sementara cerita perlahan mengikuti.
Pola ini menarik karena menunjukkan bahwa kedekatan tidak selalu dibangun dengan bentuk yang sama. Bagi sebagian orang, duduk berhadapan dan berbicara panjang terasa natural, sedangkan bagi yang lain kebersamaan lebih nyaman ketika berlangsung sambil bergerak atau melakukan sesuatu.
Baca Juga: Mengapa Banyak Persahabatan Laki-Laki Tak Dihiasi Banyak Bicara, tetapi Tetap Bertahan Lama?
Aktivitas Bisa Menjadi Ruang Aman untuk Percakapan
Geoffrey Greif, profesor di University of Maryland School of Social Work dan penulis Buddy System: Understanding Male Friendships, membagi persahabatan pria ke dalam beberapa bentuk berdasarkan tingkat kedekatannya. Dalam penelitiannya terhadap ratusan pria, Greif juga melihat pentingnya aktivitas bersama sebagai salah satu cara laki-laki menjaga hubungan dengan teman.
Bentuk kedekatan semacam ini kerap digambarkan sebagai side-by-side friendship. Dua orang tidak harus duduk saling menatap untuk merasa sedang menghabiskan waktu bersama. Mereka bisa berjalan, menyetir, bermain gim, memperbaiki sesuatu, atau menonton pertandingan sambil sesekali bertukar cerita.
Aktivitas membantu mengurangi tekanan bahwa pertemuan harus terus diisi percakapan. Ketika dua teman sedang memancing, misalnya, beberapa menit tanpa bicara tidak terasa seperti kegagalan sosial karena perhatian dapat kembali kepada kail dan air. Dalam situasi makan berdua tanpa kegiatan lain, keheningan yang sama mungkin terasa lebih kentara.
Hal ini juga dapat membuat topik pribadi muncul tanpa harus diumumkan sebagai ‘percakapan serius’. Cerita tentang pekerjaan bisa keluar ketika sedang menyetir, persoalan keluarga muncul di sela permainan, sedangkan kekhawatiran yang cukup berat mungkin baru diceritakan setelah obrolan mengenai hal lain berlangsung cukup lama. Aktivitas menjadi semacam latar yang membuat percakapan tidak terasa seperti interogasi.
Psikolog perkembangan Niobe Way melalui penelitiannya tentang persahabatan anak laki-laki dan remaja menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap hubungan emosional dekat sebenarnya juga kuat pada laki-laki. Namun ketika bertambah usia, norma maskulinitas tertentu dapat membuat keterbukaan emosional menjadi lebih sulit dipertahankan. Artinya, keinginan untuk dekat tidak otomatis hilang hanya karena cara menunjukkannya berubah.
Baca Juga: Walau Sering Terlihat Tenang, Bukan Berarti Pikiran Pria Sedang Baik-Baik Saja
"Ayo Main" Kadang Juga Berarti "Ayo Ketemu"
Ada alasan mengapa ajakan bermain futsal setiap Jumat dapat bertahan bertahun-tahun. Aktivitas menciptakan struktur yang mudah diulang: ada waktu, tempat, dan sesuatu yang dilakukan. Persahabatan tidak perlu menunggu seseorang mempunyai cerita penting terlebih dahulu agar pertemuan terasa layak dilakukan.
Jeffrey Hall, profesor komunikasi di University of Kansas, pernah meneliti hubungan antara waktu yang dihabiskan bersama dan perkembangan persahabatan. Penelitiannya menunjukkan bahwa kedekatan membutuhkan investasi waktu yang cukup besar, sementara cara waktu tersebut dihabiskan juga berhubungan dengan perkembangan hubungan. Bercanda, berbincang, dan melakukan aktivitas rekreasional bersama dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
Itu membuat pertandingan badminton dua jam mempunyai fungsi sosial yang lebih besar daripada skor akhirnya. Perjalanan menuju lapangan, ejekan setelah pukulan meleset, makan sesudah bermain, dan percakapan di sela istirahat menjadi kumpulan interaksi kecil yang memelihara hubungan. Olahraganya mungkin alasan yang tertulis di grup percakapan, tetapi kebersamaannya sering menjadi alasan orang terus datang.
Pola serupa terlihat pada kegiatan yang bahkan tidak membutuhkan banyak bicara. Dua sahabat bisa menghabiskan sore memperbaiki motor dengan percakapan terputus-putus, lalu tetap merasa telah menikmati waktu bersama. Kedekatan tidak selalu harus dibuktikan melalui jumlah rahasia yang dibagikan dalam satu pertemuan.
Namun aktivitas bersama juga bukan pengganti komunikasi dalam setiap keadaan. Ketika seorang teman sedang menghadapi persoalan serius, kemampuan untuk mendengarkan, bertanya, dan memberikan ruang tetap penting. Persahabatan yang hanya mempunyai kegiatan tetapi tidak pernah menyediakan kesempatan untuk berbicara dapat membuat kebutuhan tertentu sulit terlihat.
Karena itu, kebiasaan pria bertemu sambil melakukan sesuatu tidak perlu buru-buru dibaca sebagai ketidakmampuan berbicara tentang perasaan. Bisa jadi justru itulah salah satu jalur yang membuat percakapan terasa lebih mudah. Tidak setiap kedekatan harus dimulai dengan kalimat, "Kita perlu bicara."
Kadang undangan paling sederhana sudah membawa pesan sosial yang jauh lebih panjang. "Mancing, yuk," "ngopi sambil nonton bola," atau "temenin ke bengkel" mungkin terdengar seperti ajakan melakukan kegiatan biasa. Namun bagi dua orang yang sudah berteman lama, kalimat itu juga dapat berarti sesuatu yang sangat sederhana: sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.