Jarang berkirim kabar. Hampir tidak pernah curhat panjang. Namun ketika bertemu lagi setelah berbulan-bulan, persahabatan itu seolah tidak pernah terputus.

Dua sahabat bisa tidak saling menghubungi selama beberapa minggu. Percakapan terakhir di WhatsApp mungkin hanya berisi tautan video lucu, pertanyaan tentang pertandingan sepak bola, atau ajakan ngopi yang tidak pernah benar-benar dijadwalkan. Anehnya, ketika salah seorang membutuhkan bantuan, yang lain bisa datang tanpa memerlukan percakapan pembuka yang panjang.

Pola seperti ini cukup sering terlihat dalam persahabatan laki-laki. Kedekatan tidak selalu ditunjukkan dengan intensitas komunikasi, cerita mengenai kehidupan pribadi, atau pernyataan bahwa mereka saling menyayangi. Kadang hubungan justru dipelihara melalui kegiatan bersama, lelucon lama, bantuan praktis, dan keyakinan sederhana bahwa seorang teman masih dapat diandalkan.

Tentu laki-laki bukan kelompok dengan satu cara berteman yang seragam. Ada yang sangat terbuka secara emosional dan berbicara dengan sahabat hampir setiap hari. Namun penelitian tentang persahabatan menunjukkan adanya pola menarik tentang bagaimana sebagian laki-laki membangun dan mempertahankan kedekatan.

Baca Juga: Walau Sering Terlihat Tenang, Bukan Berarti Pikiran Pria Sedang Baik-Baik Saja

Kedekatan Tidak Selalu Dibangun dengan Duduk dan Bercerita

Psikolog Geoffrey Greif dari University of Maryland, yang meneliti persahabatan laki-laki dan menulis Buddy System: Understanding Male Friendships, menemukan bahwa hubungan antarlaki-laki kerap berkembang melalui aktivitas bersama. Kedekatan dapat muncul ketika mereka berolahraga, bekerja pada sesuatu, bepergian, bermain gim, memancing, atau sekadar menghabiskan waktu bersama tanpa merasa harus terus mengisi percakapan.

Pola tersebut kadang digambarkan sebagai hubungan side-by-side, berbeda dengan gambaran persahabatan yang lebih berorientasi pada percakapan face-to-face. Perbedaannya bukan berarti laki-laki tidak memiliki emosi atau tidak membutuhkan kedekatan. Aktivitas bersama justru dapat menjadi ruang tempat kepercayaan dan keakraban tumbuh tanpa selalu harus dinyatakan secara verbal.

Itu menjelaskan mengapa dua teman dapat menghabiskan beberapa jam memperbaiki sepeda motor sambil hanya sesekali berbicara tentang persoalan pribadi. Percakapan mengenai pekerjaan, keluarga, atau kekhawatiran mungkin muncul di sela-sela aktivitas, lalu berhenti tanpa kesimpulan panjang. Bagi orang lain terlihat seperti mereka hampir tidak membicarakan apa-apa, sementara bagi keduanya pertemuan itu sendiri sudah menjadi bentuk kebersamaan.

Penelitian psikolog Niobe Way mengenai persahabatan anak laki-laki juga memberikan lapisan penting. Dalam penelitiannya terhadap remaja laki-laki, Way menemukan bahwa banyak anak laki-laki sebenarnya menginginkan persahabatan yang dekat dan secara emosional intim. Ketika beranjak dewasa, tekanan terhadap gambaran maskulinitas tertentu dapat membuat sebagian dari mereka semakin berhati-hati menunjukkan kerentanan tersebut.

Karena itu, sedikit bicara tidak selalu dapat diterjemahkan sebagai sedikit kedekatan. Bisa jadi bahasa persahabatannya memang berbeda. Kalimat "kalau butuh apa-apa, bilang" terkadang membawa bobot yang jauh lebih besar daripada panjang kalimatnya.

Baca Juga: Bukan Tidak Peduli, Banyak Laki-Laki Menunjukkan Sayang Lewat Tindakan, Bukan Kata-Kata

Lama Tak Bertemu Bukan Berarti Hubungannya Tidak Perlu Dirawat

Persahabatan yang terasa santai mempunyai satu keuntungan: hubungan dapat bertahan tanpa tuntutan komunikasi terus-menerus. Teman lama yang sudah berpindah kota, menikah, mempunyai anak, atau sibuk bekerja mungkin hanya bertemu beberapa kali setahun. Riwayat pengalaman bersama membuat keduanya tidak selalu merasa perlu membangun kedekatan dari awal setiap kali bertemu.

Namun, ada risiko jika ketahanan tersebut terlalu dipercaya. Psikolog Jeffrey Hall dari University of Kansas meneliti hubungan antara waktu yang dihabiskan bersama dan perkembangan persahabatan. Penelitiannya menunjukkan bahwa persahabatan membutuhkan investasi waktu; kedekatan bukan sesuatu yang terbentuk begitu saja tanpa interaksi.

Masalahnya, seseorang dapat menganggap sahabatnya ‘pasti mengerti’ terlalu lama. Ketika hidup sedang sulit, ia menunggu temannya bertanya, sementara sang teman mengira diam berarti semuanya baik-baik saja. Persahabatan yang selama bertahun-tahun berhasil bertahan dengan sedikit kata dapat menemui batas ketika kedua pihak sama-sama mengandalkan tebakan.

Hal ini semakin penting ketika kehidupan laki-laki berubah. Pekerjaan, pernikahan, perpindahan tempat tinggal, dan tanggung jawab keluarga dapat menghilangkan aktivitas yang dahulu secara otomatis mempertemukan mereka. Tidak ada lagi latihan futsal setiap Jumat atau nongkrong setelah kuliah, sehingga ruang untuk berbicara yang sebelumnya tercipta tanpa direncanakan ikut menghilang.

Mempertahankan persahabatan karena itu tidak harus berarti menelepon setiap malam dan membicarakan perasaan selama berjam-jam. Pesan singkat, ajakan makan, mengirim sesuatu yang mengingatkan kepada teman, atau bertanya "lu baik-baik aja?" dapat menjadi cara sederhana untuk memastikan hubungan tidak hanya hidup di dalam kenangan.

Mungkin itulah salah satu keunikan banyak persahabatan laki-laki. Sebagian tidak membutuhkan banyak seremoni untuk membuktikan bahwa hubungan tersebut masih ada, tetapi bukan berarti persahabatan dapat terus berjalan tanpa perawatan. Teman yang bisa diajak diam bersama tetap perlu sesekali mendengar bahwa ketika ia ingin bicara, ada seseorang yang benar-benar bersedia mendengarkan. [][Rommy Rimbarawa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.