Wajah yang tenang tidak selalu menggambarkan isi kepala. Sebagian pria justru terbiasa menyimpan tekanan sambil tetap bekerja, bercanda, dan menjalani hari seperti biasa.
Pagi hari ia tetap berangkat kerja. Di kantor masih bisa bercanda, membalas pesan, mengikuti rapat, dan ketika ditanya kabar menjawab singkat, 'aman'. Tidak banyak yang terlihat berbeda, meski mungkin ada persoalan keluarga, pekerjaan, uang, atau kekhawatiran lain yang sudah berhari-hari memenuhi pikirannya.
Gambaran semacam itu tidak berlaku kepada semua pria. Namun ada alasan mengapa sebagian laki-laki terlihat mampu menjalani rutinitas ketika kondisi emosionalnya sebenarnya sedang tidak baik. Cara laki-laki dibesarkan, tuntutan untuk mandiri, hingga anggapan bahwa masalah sebaiknya diselesaikan sendiri dapat memengaruhi bagaimana tekanan diperlihatkan kepada orang lain.
Dikutip dari American Psychological Association, Psikolog Ronald F. Levant, profesor emeritus University of Akron yang lama meneliti psikologi laki-laki dan maskulinitas, menyebut adanya fenomena normative male alexithymia. Istilah tersebut menggambarkan kesulitan sebagian pria mengenali dan menjelaskan emosi yang berkaitan dengan proses sosialisasi, bukan anggapan bahwa laki-laki secara biologis tidak mempunyai perasaan. Levant bahkan menemukan bahwa ketika ditanya mengenai perasaan, sebagian pria lebih mudah menjelaskan apa yang dipikirkan atau apa yang akan dilakukan daripada menyebutkan emosi yang sedang dirasakan.
Baca Juga: Benarkah Pria Kurang Bisa Multitasking Dibandingkan Wanita? Atau Kita Selama Ini Salah Memahaminya?
Ketika 'Baik-Baik Saja' Menjadi Jawaban yang Paling Mudah
Anak laki-laki masih cukup akrab dengan pesan tentang bagaimana seorang pria seharusnya menghadapi kesulitan. Jangan cengeng, harus kuat, jangan mengeluh, selesaikan sendiri, atau jangan memperlihatkan kelemahan terdengar seperti nasihat untuk membangun ketangguhan. Masalahnya muncul ketika ketangguhan kemudian diterjemahkan sebagai kewajiban untuk selalu terlihat tidak terganggu.
Masih dari American Psychological Association [APA] mencatat bahwa karakter yang kerap diasosiasikan dengan maskulinitas, seperti keberanian, kekuatan, kepemimpinan, dan ketegasan, dapat memberikan dampak positif. Namun norma yang terlalu kaku mengenai pengendalian dan penekanan emosi dapat membawa konsekuensi berbeda. Penelitian yang dirangkum APA menunjukkan bahwa laki-laki dan anak laki-laki yang dibiasakan memendam perasaan cenderung lebih enggan mencari pertolongan ketika mengalami tekanan psikologis.
World Health Organization [WHO] menemukan pola yang serupa dalam kajiannya mengenai maskulinitas dan perilaku mencari bantuan kesehatan mental. Hambatan yang banyak muncul mencakup tuntutan untuk mandiri, kesulitan mengekspresikan emosi, dan kebutuhan mempertahankan kontrol diri. Namun WHO juga menekankan bahwa pria dapat menunjukkan kerentanan dan mencari pertolongan ketika berada bersama orang atau komunitas yang mereka percaya.
Ini membantu menjelaskan mengapa pertanyaan sederhana seperti 'ada masalah?' tidak selalu mendapatkan jawaban panjang. Seseorang mungkin memang belum siap bercerita, tetapi ada pula kemungkinan ia sendiri kesulitan memberi nama kepada sesuatu yang sedang terjadi di dalam dirinya. Yang terasa mungkin hanya lelah, mudah kesal, sulit tidur, tidak ingin bertemu siapa-siapa, atau kehilangan minat kepada hal yang biasanya menyenangkan.
Tanda tekanan psikologis pada pria juga tidak selalu menyerupai gambaran kesedihan yang mudah dikenali. APA mencatat bahwa pada sebagian pria, depresi dapat muncul bersama kelelahan, mudah tersinggung, kemarahan, gangguan tidur, atau hilangnya minat terhadap pekerjaan dan hobi. Penggunaan alkohol atau zat lain dan perilaku berisiko juga dapat menyamarkan persoalan sehingga orang di sekitarnya tidak langsung membaca bahwa ada tekanan psikologis yang perlu diperhatikan.
Karena itu, pria yang masih datang ke kantor tepat waktu atau tetap tertawa bersama teman tidak otomatis sedang baik-baik saja. Kemampuan menjalankan rutinitas menunjukkan bahwa seseorang masih menjalankan fungsi tertentu, tetapi tidak memberikan akses penuh kepada kondisi pikirannya. Ada banyak hal yang memang tidak bisa dibaca hanya dari ekspresi wajah.
Baca Juga: Mengapa Banyak Laki-Laki Lebih Mudah Memperbaiki Barang daripada Membicarakan Perasaannya?
Diam Bisa Menenangkan, Tetapi Tidak Harus Menjadi Satu-Satunya Cara
Menariknya, memendam emosi sesekali tidak otomatis buruk. Wizdom Powell, psikolog yang meneliti kesehatan pria dan maskulinitas, menerangkan bahwa penekanan emosi menjadi lebih bermasalah ketika digunakan secara habitual sebagai cara utama menghadapi hampir semua tekanan. Emosi yang terus ditekan dapat muncul kembali melalui bentuk lain, sehingga kemampuan mengelola perasaan menjadi lebih penting daripada sekadar menahannya.
Sebagian pria memang membutuhkan waktu sendiri sebelum mampu membicarakan masalah. Ada yang memilih berkendara, berolahraga, bermain gim, mengerjakan sesuatu dengan tangan, atau sekadar duduk tanpa percakapan untuk mengurai pikirannya. Cara tersebut tidak perlu langsung dianggap sebagai penghindaran selama masalah tetap dapat diproses dan tidak terus menumpuk tanpa jalan keluar.
Persoalannya berbeda ketika 'mengurus sendiri' menjadi satu-satunya pilihan yang dianggap pantas. Masalah pekerjaan disimpan karena tidak ingin membuat pasangan khawatir, persoalan keuangan ditanggung sendirian karena merasa harus menjadi penyedia, sementara kegagalan tidak diceritakan karena takut terlihat tidak mampu. Satu masalah mungkin masih dapat dibawa, tetapi beberapa tekanan yang datang bersamaan bisa membuat beban terasa jauh berbeda.
Keadaan tersebut juga menunjukkan mengapa respons orang terdekat penting. Memaksa seseorang segera bercerita belum tentu membantu, sama seperti menganggap diamnya sebagai bukti bahwa tidak ada persoalan. Ruang yang aman dapat dimulai dari sesuatu yang lebih sederhana: hadir, mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi, dan memberi kesempatan untuk berbicara ketika ia siap.
Meminta pertolongan pun tidak seharusnya diposisikan sebagai lawan dari kemandirian. Levant menunjukkan bahwa semakin kuat seseorang terikat kepada norma maskulinitas tertentu, semakin tidak positif pula sikapnya terhadap pencarian bantuan. Padahal berbicara kepada orang terpercaya atau mencari bantuan profesional ketika tekanan sudah mengganggu kehidupan justru dapat menjadi bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Tenang dan baik-baik saja memang dapat terlihat sama dari luar. Seseorang masih bisa bekerja, tertawa, mengantar anak, bertemu teman, atau menjawab 'aman' ketika ditanya kabarnya. Perbedaannya mungkin baru diketahui ketika ada cukup ruang baginya untuk mengatakan bahwa ternyata tidak semuanya sedang aman.
Barangkali karena itulah perhatian kepada pria tidak selalu perlu dimulai dengan pertanyaan besar. Kadang percakapan bisa datang saat makan bersama, perjalanan pulang, atau kegiatan yang membuat pembicaraan tidak terasa seperti pemeriksaan. Sebab ada pria yang memang sedang baik-baik saja ketika terlihat tenang, tetapi ada pula yang sedang bekerja sangat keras hanya untuk tetap terlihat demikian. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.