Percakapannya sudah selesai. Orang lain mungkin sudah lupa. Namun kepala kita masih sibuk mengulang kalimat yang tadi diucapkan dan membayangkan jawaban yang seharusnya diberikan.
Dalam perjalanan pulang, sebuah percakapan mendadak diputar kembali. "Tadi nada bicaraku terlalu ketus, nggak, ya?" Beberapa menit kemudian muncul pertanyaan lain: "Kenapa dia menjawab seperti itu?" Lalu otak mulai menyusun versi percakapan yang terasa lebih sempurna.
Menariknya, percakapan yang terus dipikirkan tidak harus berupa pertengkaran besar. Komentar singkat dari atasan, lelucon yang terasa sedikit salah tempat, pesan yang dibalas pendek, atau ekspresi seseorang ketika kita berbicara dapat cukup untuk membuat pikiran bekerja berjam-jam. Kejadiannya sudah berhenti, tetapi percakapannya seolah mendapat perpanjangan waktu di dalam kepala.
Dalam psikologi, kecenderungan memikirkan sesuatu secara berulang dapat berkaitan dengan rumination. Susan Nolen-Hoeksema, psikolog yang banyak meneliti fenomena tersebut, menggambarkan rumination sebagai pola berulang memusatkan perhatian pada pikiran dan perasaan yang mengganggu beserta penyebab dan konsekuensinya. Masalahnya, berpikir lebih lama tidak selalu membawa kita lebih dekat kepada jawaban.
Baca Juga: Kenapa Kita Bisa Cemas Menunggu Balasan Pesan yang Sebenarnya Biasa Saja?
Otak Tidak Menyukai Cerita yang Terasa Belum Selesai
Percakapan sosial penuh dengan ketidakpastian. Kita mengetahui kata-kata yang diucapkan, tetapi tidak selalu mengetahui apa yang sebenarnya dipikirkan lawan bicara. Senyum dapat berarti ramah, canggung, atau sekadar kebiasaan, sementara balasan pendek bisa menunjukkan kejengkelan atau hanya seseorang yang sedang terburu-buru.
Ketidakjelasan semacam itu memberikan ruang besar bagi interpretasi. Nicholas Epley, profesor ilmu perilaku di University of Chicago, melalui berbagai penelitiannya menunjukkan bahwa manusia kerap merasa lebih mampu membaca pikiran orang lain daripada yang sebenarnya dapat dilakukan. Kita menggunakan ekspresi, nada bicara, pengalaman sebelumnya, dan asumsi pribadi untuk menebak sesuatu yang sesungguhnya tidak dapat kita akses secara langsung.
Karena itu, ketika sebuah interaksi terasa ganjil, otak dapat kembali memeriksa detailnya. Nada suara diingat lagi, pilihan kata ditimbang ulang, lalu ekspresi wajah dicari maknanya. Kita seolah sedang melakukan penyelidikan terhadap sebuah kejadian dengan bukti yang sebenarnya sangat terbatas.
Ada pula situasi ketika yang mengganggu bukan perkataan orang lain, melainkan penilaian terhadap diri sendiri. Kalimat "kenapa tadi aku bilang begitu?" dapat berkembang menjadi "pasti mereka menganggapku aneh." Satu percakapan kemudian tidak lagi hanya diperiksa untuk memahami kejadian, tetapi digunakan untuk menilai bagaimana diri kita terlihat di mata orang lain.
Psikolog Thomas Gilovich dan koleganya pernah menunjukkan kecenderungan manusia melebih-lebihkan seberapa besar orang lain memperhatikan penampilan dan tindakan kita, fenomena yang dikenal sebagai spotlight effect. Padahal sesuatu yang terus kita pikirkan setelah pertemuan belum tentu memperoleh perhatian sebesar itu dari orang lain. Mereka mungkin sudah berpindah memikirkan pekerjaan, makan malam, kemacetan, atau percakapan mereka sendiri.
Memikirkan Ulang Bisa Berguna, Sampai Pikiran Hanya Berputar
Tidak semua refleksi setelah percakapan perlu dihentikan. Memikirkan kembali sebuah interaksi dapat membantu seseorang menyadari bahwa ucapannya menyakiti orang lain, memahami mengapa sebuah diskusi gagal, atau menentukan cara berkomunikasi yang lebih baik pada kesempatan berikutnya. Refleksi mempunyai arah ketika menghasilkan sesuatu yang dapat dipelajari atau dilakukan.
Rumination berbeda karena pikiran cenderung kembali ke pertanyaan yang sama tanpa menghasilkan informasi baru. "Kenapa tadi aku begitu?" ditanyakan berkali-kali meskipun tidak ada jawaban tambahan. Alih-alih memperoleh pemahaman, seseorang justru semakin tenggelam dalam kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi.
Penelitian Ethan Kross dari University of Michigan dan koleganya menunjukkan bahwa mengambil jarak psikologis dari pengalaman dapat membantu seseorang memikirkan kejadian negatif dengan cara yang lebih adaptif. Salah satu caranya adalah melihat peristiwa seolah sedang mengamati pengalaman orang lain, bukan terus-menerus menghidupkannya kembali dari sudut pandang orang pertama.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat mengubah pertanyaannya. Daripada terus bertanya "apa yang salah denganku tadi?", pertanyaan seperti "apa yang sebenarnya terjadi, apa buktinya, dan adakah sesuatu yang perlu dilakukan?" memberi batas yang lebih jelas. Jika memang melakukan kesalahan, mungkin ada permintaan maaf yang perlu disampaikan; jika tidak tersedia informasi baru, terus mengulang percakapan juga tidak akan menciptakannya.
Kadang jawabannya bahkan lebih sederhana. Percakapan memang bisa terasa sedikit canggung tanpa harus mempunyai makna besar. Orang dapat salah memilih kata, terlambat merespons, kehilangan konsentrasi, atau sedang mempunyai persoalan lain yang sama sekali tidak berkaitan dengan kita.
Mungkin itu yang sulit diterima ketika kepala terus memutar percakapan lama: kita menginginkan kepastian tentang apa yang dipikirkan orang lain, sementara kepastian tersebut seringkali memang tidak tersedia. Refleksi dapat membantu kita belajar dari sebuah percakapan, tetapi ada saatnya analisis harus berhenti. Sebab percakapan yang sudah selesai tidak selalu menyimpan teka-teki yang masih perlu dipecahkan. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.