Dua orang mempelajari hal yang sama. Yang satu langsung mencari video penjelasan, sementara yang lain justru membuka artikel atau buku. Siapa yang lebih benar? Mungkin tidak ada.
Pemandangan seperti itu semakin mudah ditemukan. Ketika ingin belajar memasak, memperbaiki komputer, memahami investasi, atau bahkan menggunakan aplikasi baru, sebagian orang merasa lebih cepat mengerti setelah melihat demonstrasi dalam bentuk video. Di sisi lain, ada yang justru memilih membaca karena merasa lebih mudah mengikuti alur penjelasan melalui teks.
Perbedaan itu sering menimbulkan anggapan bahwa setiap orang memiliki 'gaya belajar' yang berbeda. Ada yang disebut sebagai pembelajar visual, ada yang auditori, ada pula yang lebih cocok dengan praktik langsung. Gagasan tersebut memang sangat populer. Namun, penelitian dalam psikologi pendidikan menunjukkan bahwa persoalannya tidak sesederhana itu.
Yang membedakan bukan semata-mata jenis medianya, melainkan bagaimana otak memproses informasi, seberapa besar perhatian yang dapat diberikan, serta pengalaman yang telah dimiliki seseorang terhadap materi yang sedang dipelajari.
Baca Juga: Kita Lebih Mudah Mengingat Rasa Malu daripada Rasa Bangga, Mengapa?
Otak Tidak Hanya Menerima Informasi, Tetapi Juga Mengolahnya
Ketika seseorang menonton video, otak menerima gambar bergerak, suara, ekspresi, serta urutan peristiwa secara bersamaan. Bagi banyak orang, kombinasi tersebut membantu membangun gambaran yang lebih utuh sehingga konsep yang rumit terasa lebih mudah dipahami.
Sebaliknya, membaca memberi ruang yang berbeda. Teks memungkinkan pembaca mengatur kecepatannya sendiri, berhenti pada bagian tertentu, mengulang kalimat yang belum dipahami, atau merenungkan sebuah gagasan tanpa tergesa mengikuti alur video. Proses ini sering membantu ketika materi membutuhkan konsentrasi dan penalaran yang lebih dalam.
Psikolog Allan Paivio melalui teori Dual Coding menjelaskan bahwa manusia dapat mengolah informasi melalui jalur verbal dan visual. Ketika keduanya saling mendukung, pemahaman sering menjadi lebih kuat. Namun, bukan berarti semua orang harus selalu belajar dengan video atau selalu membaca. Efektivitasnya bergantung pada jenis materi dan cara informasi tersebut disusun.
Pandangan itu diperkuat oleh Prof. Daniel T. Willingham, psikolog kognitif dari University of Virginia. Dalam berbagai tulisannya mengenai pendidikan, termasuk Why Don't Students Like School? [2009], Willingham menjelaskan bahwa bukti ilmiah belum mendukung anggapan setiap orang memiliki satu 'gaya belajar' yang tetap sehingga harus selalu diajarkan dengan cara tertentu. Menurutnya, yang lebih penting adalah menyesuaikan metode belajar dengan karakter materi yang dipelajari dan membantu pembelajar berpikir secara aktif.
Artinya, seseorang yang menyukai video bukan berarti tidak mampu belajar melalui teks. Begitu pula sebaliknya. Pilihan tersebut sering kali merupakan strategi yang dirasa paling nyaman berdasarkan pengalaman, bukan identitas belajar yang tidak dapat berubah.
Baca Juga: Ada Orang yang Baru Menyadari Dirinya Stres, Setelah Tubuhnya Mulai Sakit
Yang Terpenting Bukan Medianya, Melainkan Keterlibatan Saat Belajar
Pernahkah menonton video berdurasi tiga puluh menit, tetapi setelah selesai sulit mengingat isinya? Sebaliknya, ada pula orang yang hanya membaca beberapa halaman, lalu mampu menjelaskan kembali dengan cukup baik. Perbedaannya sering bukan terletak pada video atau bukunya, melainkan pada perhatian yang diberikan selama proses belajar.
Psikologi kognitif menjelaskan bahwa perhatian merupakan pintu masuk bagi terbentuknya memori. Informasi yang hanya lewat di depan mata tanpa benar-benar diproses akan lebih mudah terlupakan. Sebaliknya, ketika seseorang berhenti sejenak untuk membuat catatan, menghubungkan materi dengan pengalaman pribadi, atau mencoba menjelaskan kembali menggunakan bahasanya sendiri, peluang informasi tersimpan dalam ingatan menjadi lebih besar.
Karena itu, tidak sedikit orang yang memperoleh hasil terbaik justru dengan menggabungkan beberapa cara sekaligus. Mereka menonton video untuk memahami gambaran besarnya, lalu membaca artikel untuk memperdalam konsep, kemudian mencoba mempraktikkannya agar pengetahuan tersebut benar-benar melekat.
Di era digital, pilihan sumber belajar semakin melimpah. Video, artikel, buku elektronik, podcast, hingga AI dapat membantu kita memahami berbagai hal. Kemudahan itu sering membuat kita sibuk mencari media yang dianggap paling sempurna, padahal yang lebih menentukan adalah bagaimana kita berinteraksi dengan informasi tersebut.
Mengenali cara yang paling membantu diri sendiri memang penting. Namun, tujuan akhirnya bukan memberi label bahwa kita hanya bisa belajar melalui video atau hanya bisa memahami teks. Tujuannya adalah menemukan strategi yang membuat proses berpikir menjadi lebih aktif, lebih sadar, dan lebih bermakna.
Mungkin itulah sebabnya dua orang dapat memilih jalan yang berbeda untuk mempelajari hal yang sama. Yang satu merasa lebih dekat dengan gambar dan suara, sementara yang lain menemukan ketenangan melalui rangkaian kata. Selama keduanya benar-benar memahami apa yang dipelajari, tidak ada cara yang lebih tinggi daripada yang lain. Yang ada hanyalah cara yang paling membantu seseorang bertumbuh pada saat itu. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.