Pesannya mungkin hanya berisi satu pertanyaan sederhana. Namun ketika balasannya tak kunjung datang, pikiran bisa menyusun berbagai kemungkinan yang jauh lebih rumit.

Sebuah pesan dikirim pukul sembilan pagi. Beberapa menit kemudian, tanda pesan sudah dibaca muncul, tetapi tidak ada balasan. Tangan kemudian beberapa kali membuka aplikasi yang sama, seolah jawaban bisa muncul lebih cepat hanya karena layar diperiksa berulang-ulang.

Semula tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan. Pesannya bukan pengakuan besar, bukan pula kabar buruk, hanya pertanyaan atau percakapan sehari-hari yang biasanya selesai dalam beberapa balasan. Namun setelah setengah jam berlalu, pertanyaan baru mulai muncul: apakah ada kata yang salah, apakah orang itu tersinggung, atau apakah diamnya memang sengaja?

Kecemasan semacam ini tidak harus berarti seseorang terlalu sensitif. Komunikasi melalui pesan teks memang meninggalkan banyak informasi yang biasanya tersedia ketika manusia berbicara langsung. Nada suara, ekspresi wajah, jeda, tatapan, dan respons spontan menghilang, sementara otak tetap mencoba memahami apa yang sedang terjadi.

Baca Juga: Mengapa Ada Orang yang Cepat Paham Setelah Menonton Video, Sementara yang Lain Lebih Memilih Membaca?

Ketika Tidak Ada Jawaban, Pikiran Mulai Mengisi Bagian yang Kosong

Ketidakpastian mempunyai hubungan yang cukup erat dengan kecemasan. Michel Dugas, profesor psikologi dari Université du Québec en Outaouais yang lama meneliti intolerance of uncertainty, menunjukkan bahwa kesulitan menghadapi ketidakpastian merupakan komponen penting dalam kekhawatiran dan gangguan kecemasan. Ketika informasi belum tersedia, sebagian orang lebih sulit membiarkan keadaan tetap belum jelas dan terdorong mencari kepastian secepat mungkin.

Pesan yang belum dibalas menyediakan ruang ketidakpastian yang hampir sempurna. Seseorang mengetahui pesannya sudah dikirim, mungkin bahkan sudah dibaca, tetapi tidak mengetahui alasan di balik keheningan setelahnya. Dalam ruang kosong itulah berbagai penjelasan mulai diproduksi, meski belum tentu satu pun sesuai kenyataan.

Padahal penyebabnya bisa sangat biasa. Penerima pesan mungkin sedang rapat, menyetir, ingin menjawab setelah menyelesaikan pekerjaan, membuka pesan pada waktu yang tidak tepat, atau sekadar lupa setelah berniat membalas nanti. Namun informasi tersebut tidak tersedia kepada pengirim, sehingga otak hanya mempunyai satu bahan untuk diolah: tidak ada jawaban.

Psikolog sosial Nicholas Epley dari University of Chicago banyak meneliti bagaimana manusia mencoba membaca pikiran orang lain dan betapa mudahnya perkiraan tersebut meleset. Dalam kajiannya mengenai mind perception, Epley menunjukkan bahwa manusia terus membuat inferensi mengenai pikiran, niat, dan perasaan orang lain, meskipun akses terhadap keadaan mental orang lain sebenarnya terbatas. Pesan yang tak terbalas membuat kecenderungan tersebut bekerja dengan bahan informasi yang bahkan lebih sedikit.

Pengalaman sebelumnya ikut menentukan cerita apa yang kemudian dipilih. Seseorang yang pernah ditinggalkan tanpa penjelasan mungkin lebih cepat menghubungkan keterlambatan balasan dengan penolakan. Orang yang baru saja berselisih dengan pasangannya dapat membaca diam selama satu jam secara berbeda dibandingkan ketika hubungan sedang baik-baik saja.

Karena itu, dua orang dapat menghadapi pesan yang belum dibalas dengan respons yang sangat berbeda. Satu orang meletakkan ponsel dan melanjutkan pekerjaan, sedangkan orang lain memeriksa layar setiap beberapa menit. Yang berbeda bukan hanya lamanya menunggu, tetapi makna yang diberikan kepada penantian tersebut.

Baca Juga: Kita Lebih Mudah Mengingat Rasa Malu daripada Rasa Bangga, Mengapa?

Tanda 'Sudah Dibaca' Memberi Informasi, Sekaligus Membuka Kecemasan Baru

Teknologi sebenarnya mencoba mengurangi ketidakpastian dalam komunikasi. Aplikasi memberi tahu apakah pesan terkirim, diterima, dibaca, bahkan kapan seseorang terakhir aktif. Ironisnya, semakin banyak informasi kecil yang tersedia, semakin banyak pula bahan yang bisa digunakan untuk menebak sesuatu yang belum diketahui.

Sebelum adanya read receipt, seseorang dapat menganggap pesan belum sempat dibuka. Setelah tanda tersebut muncul, satu kemungkinan hilang, tetapi pertanyaan lain segera menggantikannya: kalau sudah membaca, mengapa belum menjawab? Informasi yang seharusnya memberikan kepastian justru dapat menciptakan jenis ketidakpastian baru.

Penelitian mengenai attachment juga membantu memahami mengapa penantian semacam ini terasa lebih berat bagi sebagian orang. Mario Mikulincer dan Phillip Shaver, dua peneliti yang banyak mengembangkan kajian adult attachment, menjelaskan bahwa orang dengan kecenderungan attachment anxiety lebih waspada terhadap tanda-tanda kemungkinan penolakan atau ketidaktersediaan figur yang dianggap penting. Dalam hubungan yang berarti secara emosional, keheningan kecil karena itu dapat memperoleh bobot yang jauh lebih besar.

Namun merasa gelisah menunggu balasan tidak otomatis menunjukkan seseorang memiliki masalah psikologis tertentu. Konteks tetap penting karena menunggu jawaban dari atasan mengenai pekerjaan, pasangan setelah pertengkaran, atau dokter mengenai hasil pemeriksaan tentu berbeda dengan menunggu teman membalas kiriman meme. Semakin besar arti sebuah hubungan atau jawaban, semakin masuk akal apabila ketidakpastiannya ikut terasa.

Yang dapat diperhatikan adalah apa yang dilakukan pikiran selama menunggu. Ada perbedaan antara menyadari kemungkinan seseorang sedang sibuk dengan langsung menyimpulkan bahwa hubungan sedang bermasalah. Memisahkan fakta dari interpretasi bisa membantu: faktanya adalah pesan belum dibalas, sedangkan 'dia marah', 'dia tidak peduli', atau 'ada yang salah' masih berupa dugaan.

Kebiasaan terus memeriksa ponsel juga tidak selalu memberikan kepastian yang dicari. Setiap pemeriksaan memang menawarkan kemungkinan mendapatkan balasan, tetapi ketika layar kembali kosong, siklus pertanyaan dapat dimulai lagi. Mengalihkan perhatian kepada pekerjaan lain dan memberi ruang waktu yang wajar sering kali lebih berguna daripada mencoba memperoleh jawaban dari layar yang belum mempunyai informasi baru.

Pesan singkat telah membuat manusia dapat saling menjangkau hampir kapan saja, tetapi kemampuan mengirim dalam hitungan detik tidak menciptakan kewajiban bahwa semua orang harus membalas dalam hitungan detik pula. Di antara pesan terkirim dan jawaban yang datang tetap ada kehidupan orang lain yang tidak terlihat dari layar. Kadang rapat belum selesai, kendaraan masih melaju, pekerjaan sedang menumpuk, atau seseorang hanya membutuhkan waktu untuk memikirkan jawabannya.

Mungkin itulah bagian yang paling sulit dari menunggu balasan pesan. Yang harus ditunggu bukan hanya jawaban dari orang lain, tetapi juga kemampuan untuk membiarkan sesuatu belum diketahui tanpa buru-buru memberinya cerita. Sebab tiga titik yang tidak kunjung muncul di layar memang dapat terasa panjang, tetapi keheningan belum tentu sedang mengatakan sesuatu. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.