Banyak orang masih bisa mengingat momen memalukan bertahun-tahun lalu. Sebaliknya, berbagai pencapaian yang pernah diraih justru sering perlahan menghilang dari ingatan.

Hampir setiap orang memiliki kenangan yang sebenarnya ingin dilupakan. Bisa berupa salah mengucapkan sesuatu di depan banyak orang, terjatuh di tempat umum, membuat kesalahan saat bekerja, atau mengalami momen canggung yang terjadi bertahun-tahun lalu. Menariknya, meskipun waktu sudah berlalu cukup lama, ingatan tersebut terkadang masih muncul dengan sangat jelas seolah baru terjadi kemarin.

Di sisi lain, banyak pengalaman yang membanggakan justru tidak selalu tersimpan dengan kekuatan yang sama. Pujian yang pernah diterima, keberhasilan menyelesaikan tantangan besar, atau pencapaian yang pernah diraih sering kali tidak muncul sesering kenangan memalukan. Fenomena ini membuat sebagian orang bertanya-tanya mengapa pikiran tampak lebih rajin menyimpan kegagalan dibanding keberhasilan.

Dalam psikologi, kondisi tersebut bukanlah sesuatu yang aneh. Cara otak menyimpan dan memproses pengalaman ternyata tidak selalu bekerja secara seimbang. Ada kecenderungan tertentu yang membuat pengalaman negatif memperoleh perhatian lebih besar dibanding pengalaman positif.

Baca Juga: Kenapa Banyak Kesalahan yang Sama Terulang Kembali?

Otak Lebih Peka terhadap Pengalaman yang Dianggap Mengancam

Para psikolog mengenal istilah negativity bias, yaitu kecenderungan manusia untuk memberikan perhatian lebih besar terhadap pengalaman negatif dibanding pengalaman positif. Bias ini berkembang sebagai bagian dari mekanisme bertahan hidup yang telah terbentuk sejak lama dalam sejarah manusia.

Dari sudut pandang evolusi, mengingat pengalaman yang tidak menyenangkan memiliki nilai penting. Kesalahan, ancaman, atau situasi yang berpotensi merugikan perlu disimpan dengan baik agar tidak terulang di kemudian hari. Karena alasan itulah, otak cenderung memberikan "penanda khusus" pada pengalaman yang memicu rasa malu, takut, atau tidak nyaman.

Psikolog dan peneliti emosi dari University of California, Berkeley, Prof. Dacher Keltner, dalam berbagai kajiannya tentang emosi sosial, menjelaskan bahwa rasa malu memiliki fungsi sosial yang kuat dalam kehidupan manusia. Emosi tersebut membantu seseorang menyadari norma sosial dan menyesuaikan perilakunya di dalam kelompok. Akibatnya, pengalaman yang berkaitan dengan rasa malu sering meninggalkan jejak yang lebih kuat dalam memori.

Hal inilah yang membuat kesalahan kecil yang terjadi bertahun-tahun lalu masih dapat muncul tiba-tiba ketika seseorang sedang bersantai atau hendak tidur. Padahal, orang lain yang menyaksikan kejadian tersebut mungkin sudah lama melupakannya.

Baca Juga: Take It for Granted Bukan Soal Syukur, Tapi Soal Perhatian

Kita Sering Menilai Diri Sendiri Lebih Keras daripada Orang Lain

Selain karena cara kerja otak, ada faktor lain yang membuat kenangan memalukan bertahan lebih lama. Banyak orang memiliki kecenderungan untuk menjadi kritikus paling keras bagi dirinya sendiri. Ketika melakukan kesalahan, mereka tidak hanya mengingat peristiwanya, tetapi juga terus mengulang penilaian terhadap diri mereka sendiri.

Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai spotlight effect. Istilah tersebut menggambarkan kecenderungan manusia untuk merasa bahwa orang lain lebih memperhatikan kesalahan mereka daripada yang sebenarnya terjadi. Padahal dalam kenyataannya, sebagian besar orang lebih sibuk memikirkan dirinya sendiri daripada mengingat kesalahan orang lain.

Penelitian yang dilakukan psikolog Thomas Gilovich dan rekan-rekannya dari Cornell University menunjukkan bahwa manusia sering melebih-lebihkan perhatian yang diberikan orang lain terhadap dirinya. Akibatnya, sebuah momen yang dianggap sangat memalukan bisa terus hidup dalam pikiran seseorang meskipun hampir tidak ada lagi yang mengingatnya.

Menariknya, keberhasilan sering tidak mendapatkan perlakuan yang sama. Ketika memperoleh pencapaian tertentu, banyak orang cenderung menganggapnya sebagai sesuatu yang memang seharusnya terjadi. Sebaliknya, ketika melakukan kesalahan, mereka memberi perhatian jauh lebih besar. Pola inilah yang membuat ingatan negatif terkadang terasa lebih ‘lengket’ dibanding pengalaman positif.

Mengingat hal-hal memalukan sebenarnya merupakan bagian yang wajar dari cara kerja pikiran manusia. Namun bukan berarti kenangan tersebut harus terus menjadi beban. Kesalahan yang pernah terjadi dapat menjadi sumber pembelajaran tanpa harus terus dijadikan ukuran untuk menilai diri sendiri. Barangkali yang sering terlupakan adalah bahwa setiap orang memiliki momen yang membuatnya malu, tetapi tidak semua orang membiarkan momen itu menentukan siapa dirinya hari ini. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.