Dulu baterai ponsel bisa dilepas dalam hitungan detik. Sekarang, membuka perangkat saja terkadang membutuhkan alat, pengetahuan, dan keberanian khusus.
Ada masa ketika bagian belakang ponsel dapat dibuka dengan tangan. Baterai melemah setelah beberapa tahun, kita membeli penggantinya, memasangnya sendiri, lalu perangkat kembali digunakan. Pada banyak perangkat modern, pekerjaan sederhana semacam itu sudah jauh berbeda.
Laptop juga mengalami perubahan serupa. RAM, media penyimpanan, atau baterai pada beberapa model dahulu relatif mudah dijangkau, sedangkan kini semakin banyak komponen dibuat menyatu, direkatkan, atau ditempatkan dalam konstruksi yang lebih rumit. Headphone nirkabel, jam tangan pintar, dan berbagai perangkat kecil bahkan dapat terasa seperti benda yang memang tidak pernah dirancang untuk dibuka pemiliknya.
Perubahan tersebut bukan semata-mata karena produsen ingin membuat barang cepat rusak. Perangkat modern dituntut semakin tipis, ringan, kokoh, tahan air, sekaligus mempunyai banyak fungsi dalam ruang yang sangat terbatas. Namun konsekuensinya jelas: ketika satu bagian bermasalah, memperbaikinya sendiri dapat menjadi jauh lebih sulit.
Baca Juga: Kenapa Teknologi yang Katanya Memudahkan Justru Meminta Semakin Banyak Akun?
Ketika Desain yang Ringkas Membuat Perbaikan Lebih Rumit
Federal Trade Commission [FTC] Amerika Serikat pernah membahas persoalan ini dalam laporan Nixing the Fix. Penggunaan perekat, misalnya, dapat membuat baterai atau komponen tertentu lebih sulit dilepas. Produsen berargumen bahwa keputusan desain seperti penggunaan perekat juga dapat membantu menghasilkan perangkat yang lebih tipis, kokoh, tahan terhadap benturan, dan sesuai dengan tuntutan konsumen terhadap desain modern.
Joint Research Centre Uni Eropa mencatat perubahan menarik pada baterai ponsel. Pada awal 2000-an, baterai ponsel umumnya dapat diganti sendiri oleh pengguna, tetapi tren tersebut kemudian berbalik menuju baterai yang tidak mudah dilepas. Menurut lembaga itu, kemampuan memperbaiki perangkat ditentukan bukan hanya oleh desain, tetapi juga ketersediaan komponen pengganti dan informasi untuk melakukan diagnosis serta perbaikan.
Di sinilah masalah menjadi lebih luas daripada sekadar persoalan sekrup versus lem. Bayangkan sebuah ponsel masih bekerja dengan baik setelah empat tahun, tetapi baterainya sudah melemah. Jika baterai tersedia, perangkat mudah dibuka, dan panduan perbaikannya jelas, mengganti satu komponen dapat memperpanjang umur perangkat tersebut.
Sebaliknya, kerusakan kecil dapat menjadi persoalan besar ketika komponen pengganti sulit diperoleh. FTC menemukan bahwa pembatasan akses terhadap suku cadang dapat menyulitkan konsumen dan bengkel independen mengganti komponen yang memang akan aus selama penggunaan, termasuk baterai ponsel. Ketiadaan manual servis dan alat diagnostik juga dapat membuat perangkat yang sebenarnya masih dapat diperbaiki menjadi sangat sulit ditangani.
Perangkat modern bahkan mempunyai lapisan lain yang tidak terlihat dari luar: perangkat lunak. Salah satunya dikenal sebagai parts pairing, ketika komponen pengganti perlu dikenali atau mendapatkan persetujuan melalui sistem produsen agar dapat terintegrasi penuh dengan perangkat. FTC menyebut praktik tersebut sebagai salah satu bentuk pembatasan perbaikan yang dapat menghambat konsumen maupun bengkel independen.
Baca Juga: Barang Elektronik Semakin Pintar. Tapi Kenapa Kita Justru Semakin Sering Bingung?
Ketika Memiliki Barang Belum Tentu Berarti Bebas Memperbaikinya
Persoalan inilah yang kemudian melahirkan gerakan right to repair. Gagasannya sederhana: ketika seseorang membeli sebuah perangkat, ia seharusnya mempunyai akses yang masuk akal terhadap suku cadang, alat, informasi teknis, dan pilihan tempat perbaikan. Perdebatan muncul karena produsen juga membawa persoalan keamanan, keselamatan, kekayaan intelektual, serta kualitas perbaikan ke dalam pembicaraan tersebut.
FTC telah mempelajari sejumlah alasan yang digunakan untuk membatasi perbaikan. Dalam laporannya, lembaga itu menyatakan menemukan sedikit bukti yang mendukung banyak pembenaran yang diajukan terhadap pembatasan tersebut. FTC kemudian mendukung berbagai upaya memperluas akses konsumen terhadap perbaikan dan persaingan di antara penyedia jasa servis.
Perubahan regulasi mulai bergerak ke arah yang sama. Uni Eropa, misalnya, melalui kebijakan ecodesign mendorong produk yang lebih berkelanjutan dan memperhatikan kemampuan perangkat untuk diperbaiki. Arah kebijakannya menunjukkan bahwa umur sebuah perangkat tidak lagi hanya dilihat dari berapa lama ia dapat menyala, tetapi juga apakah komponen yang rusak dapat diganti sehingga keseluruhan perangkat tidak harus dibuang.
Bagi konsumen, ini berarti spesifikasi saat membeli perangkat mungkin perlu diperluas. Selama ini perhatian biasanya berhenti pada kapasitas baterai, kamera, prosesor, memori, ukuran layar, dan harga. Pertanyaan seperti apakah baterainya dapat diganti, berapa lama suku cadang tersedia, apakah penyimpanan dapat ditingkatkan, dan apakah ada layanan perbaikan independen justru baru muncul ketika perangkat sudah rusak.
FTC bahkan menyarankan konsumen mencari tahu sebelum membeli mengenai perkiraan umur produk, bagian yang kemungkinan mengalami kerusakan, serta seberapa sulit produk tersebut diperbaiki. Pertanyaan sederhana itu dapat memberikan gambaran mengenai biaya kepemilikan yang tidak terlihat pada label harga.
Tentu tidak semua orang harus kembali membongkar perangkat elektronik di meja makan dengan obeng kecil. Beberapa perangkat mempunyai baterai bertegangan tinggi, komponen sensitif, atau konstruksi yang memang membutuhkan teknisi terlatih. Kemampuan diperbaiki sendiri juga tidak berarti setiap perbaikan harus dilakukan sendiri.
Yang lebih penting adalah tersedianya pilihan. Perangkat dapat semakin canggih tanpa harus membuat pemiliknya kehilangan akses terhadap perbaikan yang wajar. Sebab kemajuan teknologi seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa banyak kemampuan yang dapat dimasukkan ke dalam sebuah benda kecil, tetapi juga seberapa lama benda tersebut masih masuk akal untuk dipertahankan ketika satu bagiannya berhenti bekerja. [][Rudi Tenggarawan/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.