Teknologi menjanjikan lebih sedikit kerepotan. Anehnya, untuk menikmati kemudahan itu, kita justru semakin sering diminta mendaftar, masuk, dan mengingat identitas digital.
Niat awalnya mungkin hanya ingin melihat harga sebuah produk. Namun beberapa detik kemudian muncul permintaan membuat akun, memasukkan alamat surel, menentukan kata sandi, memverifikasi nomor telepon, lalu mengetik kode OTP. Barang yang ingin dilihat belum tentu dibeli, tetapi identitas digital sudah lebih dulu diminta.
Situasi serupa muncul di banyak tempat. Membaca artikel meminta registrasi, memesan makanan membutuhkan aplikasi, menyimpan dokumen mengharuskan akun, televisi pintar meminta pengguna masuk ke layanan tertentu, bahkan beberapa perangkat rumah tangga kini menawarkan fungsi tambahan setelah terhubung dengan aplikasi. Teknologi memang membuat banyak pekerjaan lebih mudah, tetapi jalan menuju kemudahan itu kadang terasa semakin panjang.
Paradoks tersebut bukan sekadar perasaan pengguna. Perusahaan keamanan siber NordPass melaporkan pada 2024 bahwa rata-rata pengguna mengelola 168 kata sandi untuk kepentingan pribadi dan 87 untuk pekerjaan. Angkanya memberikan gambaran tentang sesuatu yang dulu hampir tidak ada dalam kehidupan sehari-hari: manusia modern harus mengelola begitu banyak pintu digital sekaligus.
Baca Juga: Barang Elektronik Semakin Pintar. Tapi Kenapa Kita Justru Semakin Sering Bingung?
Ketika Setiap Layanan Ingin Mengenali Kita
Bagi penyedia layanan, akun sebenarnya mempunyai fungsi yang masuk akal. Akun memungkinkan riwayat transaksi tersimpan, preferensi pengguna dikenali, data dapat disinkronkan antarperangkat, langganan dikelola, dan pengalaman dibuat lebih personal. Tanpa identitas pengguna, banyak layanan digital modern memang akan kehilangan sebagian kemampuannya.
Masalahnya muncul ketika kebutuhan perusahaan untuk mengenali pengguna bertemu dengan kebutuhan pengguna yang jauh lebih sederhana. Seseorang mungkin hanya ingin membeli tiket satu kali, membaca satu artikel, atau mencoba sebuah layanan sebelum memutuskan akan kembali. Ketika semua aktivitas tersebut mensyaratkan akun, kemudahan yang dijanjikan teknologi mulai memiliki biaya berupa waktu, perhatian, dan data pribadi.
Fenomena ini semakin terasa karena setiap perusahaan membangun ekosistemnya sendiri. Akun Google belum tentu dapat digunakan pada semua layanan, begitu pula akun Apple, Microsoft, Meta, atau identitas dari platform lainnya. Fitur sign in with Google atau sign in with Apple memang mengurangi kebutuhan membuat kata sandi baru, tetapi pengguna tetap membangun hubungan akun dengan semakin banyak layanan.
Perusahaan teknologi memiliki alasan bisnis untuk mempertahankan hubungan tersebut. Pengguna yang telah memiliki akun lebih mudah dikenali ketika kembali, riwayat perilakunya dapat digunakan untuk personalisasi, dan layanan tambahan lebih mudah ditawarkan. Akun bukan lagi sekadar kunci untuk membuka layanan, tetapi juga menjadi fondasi hubungan jangka panjang antara platform dan penggunanya.
Konsekuensinya, sesuatu yang awalnya dirancang sebagai kemudahan dapat berubah menjadi beban pengelolaan identitas. Kata sandi harus berbeda, alamat surel harus diverifikasi, nomor telepon harus tetap aktif, dan metode autentikasi harus tersedia ketika perangkat berganti. Teknologi mengurangi sejumlah pekerjaan lama, tetapi diam-diam menciptakan pekerjaan baru yang sebelumnya tidak perlu dilakukan.
Baca Juga: Saat Algoritma Jadi 'Yang Maha Mengatur'
Kemudahan Digital Ternyata Juga Memiliki Biaya
Persoalan kata sandi bahkan telah menjadi masalah keamanan yang cukup serius. National Institute of Standards and Technology [NIST] di Amerika Serikat dalam panduan identitas digital terbarunya tidak lagi menyarankan perubahan kata sandi secara berkala tanpa bukti adanya kompromi. NIST juga mendorong penggunaan password manager dan menekankan pentingnya kata sandi yang panjang dibandingkan aturan komposisi rumit yang sering membuat pengguna kesulitan.
Perubahan pendekatan tersebut menarik karena memperlihatkan bagaimana sistem keamanan harus mulai mempertimbangkan perilaku manusia. Meminta pengguna mengingat puluhan kata sandi rumit ternyata bukan solusi yang ideal. Ketika tuntutan keamanan terlalu merepotkan, manusia justru mencari jalan pintas seperti menggunakan kembali kata sandi yang sama atau membuat pola yang mudah ditebak.
Industri teknologi sendiri mulai mencoba keluar dari persoalan tersebut melalui passkey. FIDO Alliance menggambarkan passkey sebagai pengganti kata sandi yang memungkinkan pengguna masuk menggunakan metode autentikasi pada perangkat, seperti biometrik atau PIN. Apple, Google, Microsoft, dan berbagai perusahaan lain telah mengadopsi teknologi ini untuk mengurangi ketergantungan terhadap kata sandi tradisional.
Namun passkey menyelesaikan persoalan cara masuk, bukan sepenuhnya persoalan jumlah akun. Pengguna mungkin tidak lagi perlu mengingat kata sandi untuk dua puluh layanan, tetapi dua puluh hubungan digital tersebut tetap ada. Data profil, riwayat penggunaan, langganan, izin akses, dan pengaturan privasi masih tersebar di berbagai tempat.
Di sinilah pertanyaan tentang kemudahan teknologi menjadi lebih menarik. Kemudahan sering diukur dari seberapa cepat sebuah tugas dapat dilakukan setelah seseorang berada di dalam sistem. Jarang yang ikut menghitung berapa banyak langkah yang diperlukan untuk masuk ke sistem tersebut, berapa banyak identitas yang harus dikelola, atau berapa banyak data yang harus diserahkan agar seluruh kemudahannya bekerja.
Sebuah aplikasi bisa memangkas proses pemesanan dari sepuluh menit menjadi dua menit. Namun pengguna mungkin sebelumnya harus mengunduh aplikasi, membuat akun, melakukan verifikasi, memberikan izin lokasi, dan memasukkan metode pembayaran. Jika seluruh rangkaian tersebut ikut dihitung, definisi 'mudah' menjadi sedikit lebih rumit.
Teknologi tentu telah menghilangkan banyak kerepotan yang dahulu dianggap biasa. Tagihan dapat dibayar tanpa antre, tiket dapat dibeli dari rumah, dokumen tersimpan lintas perangkat, dan komunikasi melintasi ribuan kilometer dalam hitungan detik. Tidak masuk akal mengabaikan seluruh kemudahan itu hanya karena layar meminta pengguna melakukan login.
Namun kemajuan juga layak dinilai dari jumlah kerepotan baru yang diciptakannya. Jika setiap benda, aplikasi, toko, media, dan layanan ingin memiliki akun sendiri, manusia bisa sampai pada keadaan ketika kemudahan digital harus dibayar dengan semakin banyak identitas yang perlu dijaga. Teknologi mungkin berhasil membuat hampir semua hal mempunyai pintu yang lebih mudah dibuka, sementara kita justru sibuk membawa semakin banyak kuncinya. [][Rudi Tenggarawan/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.