Program Santripreneur tumbuh menjadi salah satu gerakan pemberdayaan ekonomi santri dan pesantren di Indonesia yang mendapat dukungan luas dari pemerintah, lembaga zakat, dan perguruan tinggi. Program ini bertujuan mencetak santri yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga mandiri dan kreatif secara ekonomi.


Pada 2025, Santripreneur menjadi salah satu program prioritas Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI untuk mendorong santri menjadi pelaku usaha produktif. BAZNAS meluncurkan Kick Off Kompetisi Santripreneur 2025 di Jakarta sebagai upaya membangkitkan perekonomian santri di seluruh tanah air. Kompetisi ini menyasar santri tingkat akhir dan alumni dari berbagai pesantren.


Program ini dirancang untuk melahirkan santri yang inovatif dan mandiri melalui pelatihan, mentoring bisnis, dan bantuan modal usaha. Sampai 2025, program ini telah membantu dan mendampingi lebih dari 1.200 santri dari 948 pesantren di 28 provinsi di Indonesia.


Salah satu kegiatan utama Santripreneur 2025 adalah Bootcamp dan Grand Final yang digelar di IPB University. Sebanyak 50 peserta dari 100 finalis terpilih mengikuti pembinaan intensif di kampus tersebut, mendapatkan bimbingan langsung dari pakar dan akademisi untuk mengembangkan usaha berbasis kreativitas dan digital.


Selain kompetisi utama, BAZNAS juga menyelenggarakan Boothcamp Kompetisi Digital Marketing Travel Haji dan Umrah dan mengumumkan 10 peserta terbaik yang berhasil meraih penghargaan serta modal usaha melalui kegiatan tersebut.


Di tingkat regional, BAZNAS DIY telah menyalurkan bantuan modal usaha bagi para santri sebagai bagian dari program Santripreneur untuk memperkuat ekonomi pesantren di Daerah Istimewa Yogyakarta. Bantuan ini tidak hanya berupa dana tetapi juga pendampingan manajemen usaha agar santri dapat tumbuh sebagai pengusaha yang mandiri dan berkelanjutan.


Selain dukungan lembaga zakat, pemerintah juga menunjukkan komitmen melalui penguatan ekosistem pendidikan dan ekonomi santri. Dalam Peringatan Hari Santri Nasional 2025, Wakil Presiden menegaskan dukungan pemerintah terhadap penguatan ekonomi mandiri di lingkungan pesantren, termasuk pelatihan teknologi dan adaptasi digital untuk santri.


Menghadapi 2026, inisiatif Santripreneur makin meluas melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi. Misalnya, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) meluncurkan program “Professor Goes to Pesantren” untuk mencetak 1.000 santri wirausaha di Jawa Barat, dengan pendekatan nilai-nilai Islam dan praktik langsung dalam menyusun rencana bisnis.  


Secara keseluruhan, Santripreneur telah berkembang dari program lokal menjadi ekosistem nasional yang melibatkan pemerintah, lembaga zakat, dan akademisi. Program ini bukan hanya menciptakan wirausaha santri tetapi juga menanamkan nilai produktivitas, integritas, dan keberlanjutan ekonomi pesantren di era modern. [][Akbar Aidil/KK]

 

Foto: Pabian