Tenggorokan mulai terasa kering atau nyeri, lalu kita mencari air hangat. Rasanya memang lebih nyaman. Tetapi sebenarnya, bagian mana yang sedang dibantu?

Kebiasaan itu mungkin sudah dilakukan jauh sebelum kita mengenal istilah faringitis atau infeksi saluran pernapasan. Ketika tenggorokan terasa tidak nyaman, segelas air hangat, teh, atau kuah hangat seperti mempunyai kemampuan membuat keadaan terasa sedikit lebih baik. Efeknya sederhana, tetapi cukup nyata sehingga kebiasaan tersebut bertahan lintas generasi.

Namun rasa nyaman tidak sama dengan penyembuhan. Tenggorokan dapat terasa sakit akibat infeksi virus, bakteri, alergi, udara kering, asap, hingga iritasi lainnya, sehingga penyebabnya tidak bisa diselesaikan hanya dengan menaikkan suhu minuman. Air hangat lebih tepat dipahami sebagai salah satu cara membantu meredakan gejala tertentu sambil tubuh menghadapi penyebab di baliknya.

Menariknya, minuman hangat bukan sekadar sugesti yang sama sekali tidak mempunyai dasar. Sebuah uji klinis kecil terhadap 30 orang dengan gejala pilek atau flu menemukan minuman panas memberikan perbaikan subjektif pada sejumlah keluhan, termasuk sakit tenggorokan, batuk, bersin, menggigil, dan rasa lelah. Namun penelitian itu juga menemukan tidak ada perbaikan objektif pada aliran udara hidung, menunjukkan perbedaan penting antara merasa lebih lega dan perubahan terukur pada penyakit itu sendiri.

Baca Juga: Kompres Hangat atau Dingin, Kenapa Kita Sering Tertukar Memilihnya?

Yang Dibantu Ternyata Lebih Banyak Rasa Nyamannya

Salah satu hal paling sederhana yang dibutuhkan tenggorokan yang sedang teriritasi adalah kelembapan. Mayo Clinic menyebut cairan membantu menjaga tenggorokan tetap lembap, sementara minuman hangat seperti kaldu, teh tanpa kafein, atau air hangat dengan madu dapat memberi efek menenangkan. Menariknya, makanan atau minuman dingin seperti es juga dapat memberi rasa nyaman pada sebagian orang.

Artinya, ‘hangat’ bukan satu-satunya suhu yang bekerja untuk semua tenggorokan. Harvard Health juga memasukkan cairan hangat maupun dingin sebagai pilihan untuk membantu menenangkan tenggorokan, selain menjaga asupan air agar tubuh tidak mengalami dehidrasi. Respons seseorang terhadap suhu minuman dapat berbeda, sehingga pilihan yang terasa nyaman tidak harus selalu sama.

Penelitian mengenai minuman panas tadi memberikan petunjuk lain. Profesor Ron Eccles dan koleganya dari Common Cold Centre, Cardiff University, menduga manfaat subjektif minuman panas dapat berkaitan dengan peningkatan produksi saliva dan sekresi saluran napas, selain kemungkinan adanya komponen psikologis. Dengan demikian, sensasi lega setelah menyeruput minuman hangat bukan bukti bahwa virus atau penyebab sakit tenggorokan telah hilang.

Ada pula efek yang sangat sederhana tetapi sering terlupakan: minum membuat kita menambah asupan cairan. Ketika sedang sakit, menjaga hidrasi membantu mencegah tenggorokan semakin kering. CDC karena itu memasukkan minuman hangat dan kecukupan cairan sebagai bagian dari langkah yang dapat dilakukan untuk merasa lebih nyaman ketika mengalami sakit tenggorokan.

Lalu bagaimana dengan air hangat yang ditambahkan madu? CDC menyebut madu dapat digunakan untuk membantu meredakan batuk pada orang dewasa dan anak berusia satu tahun atau lebih. Batas usia tersebut penting karena madu tidak boleh diberikan kepada bayi di bawah satu tahun akibat risiko botulisme infantil.

Baca Juga: Yang Membuat Pusing Tidak Selalu Ada di Kepala

Membantu Gejala Bukan Berarti Mengobati Penyebabnya

Di sinilah home remedy sering disalahpahami. Sesuatu dapat membuat kita merasa lebih baik tanpa harus menjadi terapi terhadap penyebab penyakit. Air hangat dapat membantu kenyamanan tenggorokan, tetapi tidak otomatis berarti ia membunuh virus, mengatasi infeksi bakteri, atau mempercepat kesembuhan.

Hal serupa berlaku pada berkumur menggunakan air garam hangat. Mayo Clinic menyebut larutan air garam dapat membantu menenangkan sakit tenggorokan untuk sementara, tetapi manfaat tersebut tetap berada pada wilayah peredaan gejala. Penggunaannya juga perlu disesuaikan dengan usia karena anak kecil mungkin belum mampu berkumur dan membuang larutan dengan aman.

Pemahaman itu penting terutama ketika sakit tenggorokan membuat seseorang tergoda menggunakan antibiotik sendiri. CDC menegaskan kebanyakan sakit tenggorokan disebabkan virus dan biasanya membaik sendiri dalam waktu sekitar satu minggu, sedangkan antibiotik tidak membantu infeksi virus. Jika penyebabnya adalah infeksi bakteri tertentu seperti strep throat, barulah pemeriksaan dan terapi yang sesuai menjadi penting.

Karena itu, segelas air hangat sebaiknya tetap ditempatkan pada porsinya. Ia dapat menjaga tenggorokan terasa lembap, menjadi cara nyaman menambah cairan, dan membantu meredakan sebagian keluhan. Yang dilakukannya bukan menggantikan diagnosis atau terapi ketika penyebab sakit tenggorokan memang membutuhkan penanganan khusus.

Sakit tenggorokan yang berat, sulit menelan atau bernapas, disertai dehidrasi, darah pada ludah atau dahak, ruam, atau gejala yang memburuk dan tidak membaik perlu mendapatkan perhatian medis. CDC juga menyarankan pemeriksaan ketika sakit tenggorokan tidak menunjukkan perbaikan dalam beberapa hari atau justru semakin berat.

Jadi ketika lain kali tenggorokan terasa tidak nyaman dan tangan secara refleks mencari segelas air hangat, kebiasaan itu tidak perlu dianggap sekadar mitos. Rasa lega yang muncul memang masuk akal dan didukung sebagai bagian dari perawatan gejala. Hanya saja, air hangat membantu kita merasa lebih nyaman selama sakit, bukan otomatis menghilangkan alasan mengapa tenggorokan menjadi sakit. [][Adrian Damar/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.