Kita bekerja keras untuk hidup lebih nyaman. Banyak hal kini bisa dilakukan tanpa beranjak. Namun, mengapa memulai sesuatu justru kadang terasa semakin berat?
Memesan makanan, membeli kebutuhan rumah, hingga mengurus pekerjaan kini dapat dilakukan melalui layar. Teknologi menghilangkan banyak kerepotan yang dahulu dianggap sebagai bagian biasa dari kehidupan. Waktu dan tenaga yang berhasil dihemat seharusnya memberi kita lebih banyak kesempatan untuk melakukan hal lain.
Namun, kemudahan juga dapat mengubah kebiasaan secara perlahan. Ketika hampir semua kebutuhan tersedia tanpa banyak usaha, aktivitas yang membutuhkan sedikit kerepotan mulai terasa kurang menarik. Berjalan ke toko, memasak sendiri, atau menemui teman tanpa alasan khusus bisa berubah menjadi sesuatu yang terus ditunda.
Kenyamanan tentu bukan persoalan yang harus dicurigai. Kehidupan yang lebih mudah dapat mengurangi kelelahan dan memberi ruang bagi kebutuhan yang lebih penting. Persoalan muncul ketika kita mulai kehilangan kebiasaan melakukan sesuatu hanya karena kegiatan tersebut menuntut usaha.
Baca Juga: Kita Punya Banyak Cara Menghemat Waktu, Kenapa Tetap Merasa Tidak Punya Waktu?
Ketika Kemudahan Mengubah Ukuran Kesulitan
Manusia cenderung mempertimbangkan usaha yang diperlukan sebelum mengambil keputusan. Dalam psikologi, kecenderungan memilih tindakan dengan biaya usaha lebih rendah berkaitan dengan konsep effort discounting, yakni menurunnya daya tarik suatu hasil ketika usaha untuk mencapainya meningkat. Kecenderungan ini tidak selalu buruk karena membantu manusia mengelola energi dan menentukan prioritas.
Namun, lingkungan yang menyediakan banyak pilihan mudah dapat mengubah cara kita menilai kerepotan. Jika makanan selalu dapat diantar, perjalanan singkat untuk membeli sesuatu mungkin terasa tidak sepadan. Jika hiburan tersedia tanpa batas, keluar rumah untuk mencari pengalaman baru dapat terasa seperti pekerjaan tambahan.
Perubahan tersebut sering berlangsung tanpa keputusan yang benar-benar disadari. Kita tidak pernah secara khusus memutuskan untuk berhenti berjalan kaki atau mengurangi pertemuan dengan teman. Kita hanya semakin sering memilih alternatif yang membutuhkan usaha lebih sedikit, sampai pilihan tersebut menjadi kebiasaan.
Ada perbedaan penting antara beristirahat dan menghindari usaha. Istirahat membantu memulihkan kemampuan untuk kembali beraktivitas, sedangkan penghindaran yang terus berulang dapat membuat aktivitas tertentu semakin terasa berat. Seseorang mungkin membutuhkan waktu tenang setelah bekerja, tetapi terus-menerus membatalkan rencana keluar rumah belum tentu memberikan pemulihan yang sama.
Kenyamanan juga mempunyai ukuran yang berbeda bagi setiap orang. Bagi seseorang dengan keterbatasan fisik, layanan antar dan teknologi rumah tangga dapat memperluas kemandirian, bukan menguranginya. Karena itu, persoalannya bukan seberapa sering kita menggunakan kemudahan, melainkan apakah kemudahan tersebut memperluas atau justru mempersempit pilihan hidup.
Baca Juga: Rumah Sudah Penuh Barang, Kenapa Rasanya Selalu Ada yang Perlu Dibeli?
Hidup Nyaman Tidak Harus Berarti Berhenti Bertumbuh
Kita sering membayangkan perubahan besar sebagai hasil keputusan yang luar biasa. Padahal, kemampuan menghadapi tantangan juga dipelihara melalui kegiatan sederhana yang dilakukan berulang. Mencoba rute perjalanan baru, mempelajari keterampilan, atau menyelesaikan pekerjaan tanpa selalu mencari jalan tercepat dapat memberikan pengalaman yang berbeda dari rutinitas biasa.
Psikolog Albert Bandura memperkenalkan konsep self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuannya melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil tertentu. Pengalaman berhasil menghadapi tantangan merupakan salah satu sumber penting pembentukan keyakinan tersebut. Ketika seseorang semakin jarang mencoba sesuatu yang menuntut usaha, kesempatan memperoleh pengalaman keberhasilan semacam itu juga dapat berkurang.
Namun, menghadapi tantangan bukan berarti sengaja mempersulit hidup. Kita tidak perlu meninggalkan teknologi, menolak layanan praktis, atau mengubah setiap kegiatan menjadi ujian ketahanan diri. Yang lebih berguna adalah mempertahankan ruang bagi aktivitas yang memberikan pengalaman, keterampilan, dan hubungan sosial meskipun membutuhkan sedikit usaha.
Contohnya bisa sesederhana memilih berjalan kaki ketika jaraknya memungkinkan. Memasak sesekali dapat menjadi kesempatan memahami bahan makanan, sementara menemui teman secara langsung menawarkan pengalaman yang berbeda dari percakapan melalui layar. Kegiatan tersebut tidak harus lebih baik dalam setiap keadaan, tetapi memberi pilihan yang mungkin hilang ketika kenyamanan selalu menjadi pertimbangan utama.
Ada pula kenyamanan yang berhubungan dengan pikiran. Kita dapat bertahan dalam rutinitas yang sudah dikenal karena tidak ingin menghadapi kemungkinan gagal, ditolak, atau merasa canggung. Dalam keadaan seperti ini, yang dipertahankan bukan semata kemudahan fisik, melainkan rasa aman dari ketidakpastian.
Kenyamanan seharusnya memberi kita kebebasan untuk memilih, termasuk memilih melakukan sesuatu yang menantang. Jika kehidupan yang semakin praktis justru membuat pilihan kita semakin sempit, mungkin ada kebiasaan yang perlu diperiksa kembali. Bukan untuk menjadikan hidup lebih sulit, melainkan agar kita tetap mempunyai kemampuan menjalani hal-hal yang tidak selalu mudah.
Sebab kehidupan yang nyaman tidak harus menjadi kehidupan yang diam. Kita boleh menikmati kemudahan tanpa kehilangan rasa ingin tahu, keberanian mencoba, dan kesediaan bergerak. Kenyamanan menjadi persoalan bukan ketika hidup terasa lebih ringan, melainkan ketika kita mulai takut meninggalkan segala sesuatu yang sudah terasa mudah. [][Liora Maheswari/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.