Pikiran sedang menghadapi masalah pekerjaan, tetapi jantung ikut berdebar dan perut terasa tidak nyaman. Mengapa stres yang terasa mental bisa menjalar ke seluruh tubuh?

Sebuah pesan dari atasan masuk ketika pekerjaan belum selesai. Beberapa detik kemudian jantung terasa lebih cepat, bahu menegang, dan pikiran mendadak sulit berpindah ke hal lain. Tidak ada luka atau ancaman fisik di depan mata, tetapi tubuh sudah bereaksi.

Itulah salah satu hal menarik tentang stres. Ia bukan hanya pengalaman yang terjadi di pikiran, melainkan respons biologis yang melibatkan otak, sistem saraf, hormon, jantung, otot, pencernaan, dan berbagai sistem tubuh lainnya. American Psychological Association [APA] menyebut tubuh manusia sebenarnya cukup baik menangani stres dalam dosis kecil; persoalan menjadi berbeda ketika stres berlangsung lama atau terus berulang.

Maka jantung yang berdebar ketika menghadapi tenggat bukan tubuh yang sedang berlebihan. Tubuh sedang menjalankan mekanisme yang selama ribuan tahun membantu manusia menghadapi ancaman. Hanya saja, ancaman manusia modern tidak selalu datang dalam bentuk sesuatu yang bisa dilawan atau ditinggalkan.

Baca Juga: Tubuh Tidak Sedang Sakit, Tapi Mengapa Rasanya Tidak Benar-Benar Sehat?

Ketika Otak Membunyikan Alarm, Tubuh Bersiap Bertahan

Respons stres bermula ketika otak menilai sesuatu sebagai ancaman atau tantangan. Sistem saraf simpatik kemudian membantu mengaktifkan respons yang sering disebut fight-or-flight. Kelenjar adrenal melepaskan hormon seperti adrenalin, sementara sistem respons stres lainnya melibatkan kortisol untuk membantu tubuh menyediakan energi menghadapi situasi tersebut.

Perubahannya dapat berlangsung sangat cepat. Detak jantung meningkat, napas menjadi lebih cepat, glukosa dalam darah meningkat untuk menyediakan energi, dan proses pencernaan dapat berubah. Otot pun menegang, seolah tubuh sedang mempersiapkan diri untuk bergerak menghadapi sesuatu.

Inilah sebabnya stres bisa terasa sangat fisik. Kepala dapat terasa tegang, leher dan bahu kaku, telapak tangan berkeringat, jantung berdebar, atau perut mendadak tidak nyaman. Pada sebagian orang, stres juga dapat memicu napas cepat dan memperburuk masalah pernapasan yang sebelumnya sudah ada.

Sistem pencernaan ikut terlibat karena otak dan saluran cerna mempunyai komunikasi yang erat. APA mencatat stres dapat memengaruhi pergerakan makanan melalui tubuh dan berkaitan dengan keluhan seperti mual, nyeri, kembung, diare, atau konstipasi pada sebagian orang. Selera makan pun dapat berubah ketika tubuh berada di bawah tekanan.

Namun semua perubahan tersebut tidak otomatis buruk. Ketika seseorang harus bereaksi cepat terhadap keadaan darurat, peningkatan kewaspadaan dan tersedianya energi tambahan justru berguna. Setelah ancaman berlalu, sistem parasimpatik membantu tubuh kembali menuju keadaan sebelum stres.

Masalahnya, kehidupan sehari-hari tidak selalu memberikan akhir ancaman yang begitu jelas. Tenggat selesai lalu datang pekerjaan berikutnya, persoalan keuangan belum terselesaikan, konflik keluarga terus berlangsung, atau seseorang tetap memikirkan masalah bahkan ketika sudah berada di tempat tidur. Alarm biologis yang dirancang untuk membantu menghadapi keadaan sementara bisa berkali-kali dinyalakan.

Baca Juga: Setelah Burnout, Haruskah Kita Kembali Menjadi Diri yang Sama?

Tubuh Bisa Menghadapi Stres, Tetapi Ia Juga Membayar Biayanya

Mendiang ahli neuroendokrinologi Bruce McEwen dari Rockefeller University banyak membantu menjelaskan persoalan ini melalui konsep allostasis dan allostatic load. Allostasis menggambarkan proses tubuh mempertahankan kestabilan dengan melakukan perubahan untuk menyesuaikan diri terhadap tuntutan. Adrenalin, kortisol, dan mediator lain yang muncul ketika stres merupakan bagian dari sistem adaptasi tersebut.

Namun McEwen menunjukkan sisi lainnya. Jika sistem tersebut terlalu sering aktif, terlalu lama bekerja, atau tidak kembali turun sebagaimana mestinya, adaptasi mempunyai harga fisiologis. Akumulasi ‘keausan’ akibat tuntutan adaptasi berulang inilah yang disebut allostatic load.

Bayangkan tubuh seperti rumah yang mempunyai alarm kebakaran. Alarm sangat berguna ketika benar-benar ada asap, tetapi rumah akan menjadi tempat yang melelahkan jika alarm berbunyi berkali-kali sepanjang hari. Persoalannya bukan keberadaan alarm, melainkan keadaan ketika sistem terus dipaksa berjaga.

Stres kronis karena itu dapat berhubungan dengan lebih banyak hal daripada rasa tertekan. National Center for Complementary and Integrative Health [NCCIH] menyebut stres jangka panjang dapat berkontribusi atau memperburuk berbagai masalah, termasuk gangguan pencernaan, sakit kepala, dan gangguan tidur. Stres juga dapat memperburuk asma serta berkaitan dengan kondisi kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi.

Tidur dapat membuat lingkarannya semakin rumit. Seseorang stres sehingga sulit tidur, kemudian kurang tidur membuat tubuh dan pikiran lebih sulit menghadapi tuntutan pada hari berikutnya. Penelitian McEwen mengenai tidur juga menunjukkan gangguan tidur dan ritme sirkadian berkaitan erat dengan sistem stres dan beban adaptasi tubuh.

Tetapi, mengetahui hubungan ini tidak berarti setiap sakit kepala, gangguan perut, jantung berdebar, atau kelelahan boleh langsung dianggap berasal dari stres. Gejala fisik dapat mempunyai banyak penyebab. Keluhan yang menetap, berat, baru muncul, mengkhawatirkan, atau mengganggu aktivitas tetap perlu dinilai oleh tenaga kesehatan agar penyebab lain tidak terlewat.

Memahami mekanisme stres justru membantu kita melihat tubuh dengan cara yang berbeda. Ketika bahu menegang atau jantung berdebar saat menghadapi tekanan, tubuh tidak sedang gagal mengendalikan diri. Ia sedang mencoba menyesuaikan diri dengan sesuatu yang dibaca sebagai tantangan.

Yang dibutuhkan tubuh setelahnya adalah kesempatan untuk keluar dari keadaan siaga tersebut. Tidur yang cukup, aktivitas fisik, dukungan sosial, waktu pemulihan, serta teknik relaksasi dapat menjadi bagian dari pengelolaan stres, meskipun tekanan kronis yang berat terkadang juga membutuhkan bantuan profesional. NCCIH mencatat respons relaksasi dapat menghasilkan perubahan fisiologis yang berlawanan dengan respons stres, termasuk memperlambat detak jantung dan menurunkan tekanan darah.

Mungkin karena itu stres sebaiknya tidak hanya ditanyakan dengan “apa yang sedang memenuhi pikiran kita?” Pertanyaan lainnya adalah berapa lama tubuh sudah diminta bersiap menghadapi sesuatu. Sebab stres merupakan cara tubuh melindungi kita, tetapi perlindungan yang terus bekerja tanpa cukup waktu untuk pulih dapat berubah menjadi beban bagi tubuh yang semula ingin dilindunginya. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.