Oleh Adrian Damar

Bangsa ini tampaknya sangat percaya bahwa mengganti nama adalah bentuk perubahan.

Setiap beberapa tahun, istilah baru muncul seperti musim yang terus berganti. Nama program berubah, sistem diperbarui, slogan diperkenalkan ulang, lalu masyarakat diminta menyesuaikan diri sekali lagi. Kadang perubahan itu terdengar besar di konferensi pers, tetapi terasa kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Orang yang lahir di generasi berbeda bahkan bisa tumbuh dengan istilah yang berbeda untuk hal yang sebenarnya mirip. Ujian Nasional berubah menjadi USBN, lalu bergeser lagi menjadi Asesmen Nasional. Kurikulum berganti nama berkali-kali, dari KBK, KTSP, Kurikulum 2013, sampai Merdeka Belajar.

Namun ketika berbicara dengan siswa, guru, atau orang tua murid, kegelisahannya sering tetap sama. Tekanan akademik masih ada, ketimpangan pendidikan masih terasa, dan kualitas belajar tidak otomatis berubah hanya karena istilahnya diperbarui. Yang berubah paling cepat sering justru kop surat dan materi sosialisasi.

Fenomena seperti ini sebenarnya tidak hanya terjadi di dunia pendidikan. Hampir semua sektor di Indonesia punya kebiasaan serupa. Nama berubah, istilah diperhalus, sistem direbranding, tetapi pengalaman masyarakat sering terasa tidak bergerak terlalu jauh.

Jamkesmas berubah menjadi BPJS dan KIS. Honorer bergeser menjadi PPPK. PSBB berubah menjadi PPKM dengan berbagai level dan variasinya. Pegawai sekarang disebut ASN, mahasiswa disebut peserta didik, dan razia berubah menjadi operasi penertiban. 

Kadang perubahan itu memang memiliki penyesuaian teknis tertentu. Namun ada kesan bahwa bangsa ini terlalu sering sibuk mendekor ulang papan nama, sementara isi ruangannya masih berantakan seperti sebelumnya. Seolah-olah masalah terbesar ada pada istilah, bukan pada substansi.

Yang melelahkan sebenarnya bukan perubahan namanya. Masyarakat bisa belajar istilah baru kapan saja. Yang membuat jenuh adalah ketika energi besar dipakai untuk menciptakan kesan pembaruan, sementara persoalan utamanya tetap berjalan di tempat.

Ada sekolah yang berganti kurikulum berkali-kali, tetapi murid tetap belajar dengan cara menghafal. Ada reformasi birokrasi bertahun-tahun, tetapi masyarakat masih kesulitan menghadapi pelayanan yang lambat dan berbelit. Ada perubahan istilah bantuan sosial, tetapi penerimanya tetap merasa hidupnya tidak benar-benar aman.

Baca Juga: Masalahnya Mungkin Bukan Nasi, Tapi Kejujuran Negara

Kita Seperti Percaya Bahwa Istilah Bisa Mengubah Realitas

Mungkin bangsa ini terlalu lama hidup dalam budaya administratif yang percaya pada kekuatan simbol. Ketika sesuatu terasa gagal, yang pertama diubah sering kali bukan cara kerjanya, tetapi namanya. Seolah-olah publik akan merasa memasuki era baru hanya karena istilahnya terdengar lebih segar.

Padahal masyarakat sebenarnya cukup peka membedakan mana perubahan sungguhan dan mana perubahan kosmetik. Orang bisa merasakan apakah hidupnya benar-benar membaik atau hanya sedang diperkenalkan pada istilah baru yang lebih modern. Pengalaman hidup tidak mudah ditipu oleh desain presentasi.

Yang menarik, kebiasaan ini ternyata tidak hanya hidup di level negara atau birokrasi. Dunia kerja modern juga melakukan hal serupa. PHK berubah menjadi rightsizing, sales berubah menjadi konsultan, dan admin berubah menjadi support specialist.

Media sosial juga penuh dengan perubahan istilah seperti itu. Marah disebut toxic, sedih disebut burnout, dan pengangguran sering diperhalus menjadi 'sedang mencari peluang baru'. Ada kecenderungan besar dalam masyarakat modern untuk mengganti bahasa agar kenyataan terasa lebih nyaman diterima.

Masalahnya, mengganti istilah tidak selalu mengubah pengalaman manusia. Orang tetap kehilangan pekerjaan meskipun disebut rightsizing. Tekanan mental tetap terasa meskipun diberi nama yang lebih trendi. Kesulitan hidup tidak otomatis hilang hanya karena bahasanya diperhalus.

Ada kemungkinan bahwa budaya seperti ini lahir dari ketakutan menghadapi perubahan yang benar-benar besar. Mengubah nama jauh lebih mudah daripada mengubah sistem. Rebranding terasa lebih aman dibanding membongkar akar persoalan yang sebenarnya.

Karena itu, bangsa ini terlihat sangat rajin menciptakan istilah baru, tetapi sering lambat menyentuh substansi yang lebih sulit. Padahal masyarakat sebenarnya tidak selalu meminta sesuatu yang rumit. Banyak orang hanya ingin merasakan perubahan nyata dalam pengalaman hidupnya sehari-hari.

Mungkin karena itu, publik sekarang semakin sinis terhadap jargon dan slogan baru. Terlalu banyak istilah pernah datang dengan janji besar, lalu menghilang tanpa meninggalkan perubahan yang benar-benar terasa. Masyarakat akhirnya belajar bahwa nama baru tidak selalu berarti kenyataan baru.

Baca Juga: Rupiah Melemah: Ekonomi Ambruk atau Kepercayaan Runtuh?

Perubahan yang Terlalu Sibuk Terlihat Baru

Ada sesuatu yang cukup ironis dalam budaya perubahan hari ini. Banyak institusi tampak lebih sibuk terlihat modern daripada benar-benar menjadi lebih baik. Energi besar dihabiskan untuk membuat identitas baru, sementara persoalan lama tetap hidup diam-diam di belakangnya.

Padahal perubahan sejati sering tidak terlalu sibuk memperkenalkan dirinya sendiri. Ia terasa dari pengalaman masyarakat, bukan hanya dari materi sosialisasi atau peluncuran istilah baru. Orang tahu sebuah sistem membaik ketika hidup mereka benar-benar terasa lebih ringan, bukan ketika singkatannya berubah.

Namun bangsa ini tampaknya sangat mencintai simbol pembaruan. Setiap pergantian rezim biasanya membawa istilah baru. Setiap kebijakan baru terasa perlu memiliki nama baru. Kadang bahkan sesuatu yang sebenarnya mirip tetap harus diperkenalkan ulang seolah-olah baru ditemukan pertama kali.

Akibatnya, masyarakat hidup dalam kelelahan administratif yang aneh. Orang dipaksa terus menghafal istilah baru tanpa benar-benar yakin apa yang sebenarnya berubah. Generasi berbeda tumbuh dengan nama berbeda untuk masalah yang kurang lebih sama.

Mungkin karena itu, banyak orang sekarang lebih tertarik melihat hasil daripada mendengar jargon. Publik mulai lelah dengan bahasa yang terlalu optimistis tetapi tidak terasa dalam kehidupan sehari-hari. Ada jarak yang semakin besar antara narasi perubahan dan pengalaman nyata masyarakat.

Padahal bangsa ini sebenarnya tidak kekurangan kemampuan untuk berubah. Yang sering kurang hanyalah keberanian menyentuh isi persoalannya secara jujur dan mendalam. Karena perubahan yang benar-benar besar biasanya tidak nyaman, mahal, dan sering tidak bisa selesai hanya dalam satu periode kekuasaan.

Mengganti nama memang lebih cepat. Ia membuat sesuatu terlihat baru tanpa harus terlalu banyak membongkar fondasi lama. Namun semakin sering dilakukan, semakin terasa bahwa bangsa ini sebenarnya bukan kekurangan istilah baru. Sepertinya, daftar perubahan ini masih akan terus berlanjut, dan entah sampai kapan. Tetapi yang lebih langka justru keberanian untuk mengubah isinya. []