Kita sering merasa baik-baik saja. Setidaknya, itu yang kita katakan. Padahal, yang terlihat tenang bisa jadi malah penuh gelombang.

Ada momen ketika seseorang ditanya, “lagi kenapa?” lalu menjawab singkat, “nggak kenapa-kenapa”. Kalimat itu terdengar ringan, hampir otomatis keluar tanpa dipikir panjang. Seolah cukup untuk menutup percakapan, tanpa perlu menjelaskan lebih jauh.

Padahal, di balik kalimat itu, sering ada sesuatu yang ditahan. Bisa rasa lelah, kecewa, atau sekadar pikiran yang terlalu penuh. Tidak selalu besar, tapi cukup untuk membuat seseorang memilih diam.

Baca Juga: Komunikasi Intrapersonal, Dialog Sunyi yang Menentukan Kualitas Diri

Bahasa yang Terlalu Cepat Menyederhanakan

Dalam komunikasi sehari-hari, kita terbiasa menggunakan kalimat yang memudahkan. Bukan untuk menjelaskan, tapi untuk menyederhanakan. Apa yang kompleks diringkas menjadi sesuatu yang terasa aman untuk diucapkan.

Kalimat seperti “nggak kenapa-kenapa” jadi salah satu bentuknya. Ia bukan sekadar jawaban, tapi juga mekanisme. Cara cepat untuk menghindari percakapan yang mungkin terasa berat.

Masalahnya, penyederhanaan ini tidak selalu netral. Ketika sesuatu yang sebenarnya kompleks terus-menerus diringkas, ada bagian dari realita yang hilang. Dan sering kali, itu justru bagian yang paling penting.

Baca Juga: Ketika Komunikasi Macet karena Jarak AntarGenerasi

Antara Menjaga dan Menghindari

Tidak semua orang berdusta dengan sengaja. Banyak yang hanya ingin menjaga situasi tetap ringan. Tidak ingin membebani orang lain, atau tidak ingin membuka sesuatu yang belum siap dibicarakan.

Dalam konteks ini, kalimat itu terasa masuk akal. Ia menjadi batas yang melindungi, sekaligus memberi jarak. Ada hal-hal yang memang tidak selalu harus dibagikan.

Namun, di sisi lain, kebiasaan ini bisa berubah menjadi pola. Ketika terlalu sering digunakan, ia bukan lagi pilihan, tapi refleks. Dan di titik itu, yang terjadi bukan lagi menjaga, tapi menghindari.

Baca Juga: Di Balik Ricuhnya Komunikasi Publik Kita

Realita yang Tidak Pernah Sesederhana Itu

Perasaan manusia jarang sesederhana satu kalimat. Apa yang dirasakan sering bercampur, berubah, dan tidak selalu bisa dijelaskan dengan cepat. Tapi bahasa yang digunakan justru cenderung merapikannya.

Ini terlihat jelas dalam banyak situasi. Seseorang yang sedang lelah bilang “cuma capek aja”. Seseorang yang kecewa bilang “ya sudah lah”. Semua terasa lebih ringan, tapi tidak benar-benar menggambarkan keadaan.

Akibatnya, komunikasi menjadi dangkal tanpa disadari. Bukan karena tidak ingin jujur, tapi karena terbiasa menyederhanakan. Dan semakin sering dilakukan, semakin sulit untuk kembali pada kejujuran yang utuh.

Baca Juga: Peran Vital Media Center Mengelola Informasi di Tengah Bencana

Dampak yang Pelan Tapi Nyata

Ketika bahasa terus menyederhanakan realita, ada jarak yang mulai terbentuk. Bukan hanya dengan orang lain, tapi juga dengan diri sendiri. Apa yang dirasakan tidak sepenuhnya diakui, karena sudah terbiasa diringkas.

Dalam jangka panjang, ini bisa membuat seseorang sulit mengenali apa yang sebenarnya ia alami. Perasaan terasa samar, karena tidak pernah benar-benar dihadapi. Dan di situlah sering muncul kebingungan yang sulit dijelaskan.

Komunikasi yang terlihat lancar tidak selalu berarti sehat. Kadang, justru yang paling halus adalah yang paling banyak menyembunyikan.

Baca Juga: Kala Kata-kata di Tengah Musibah Malah Membuat Resah

Belajar Mengatakan Lebih dari Sekadar Aman

Tidak semua hal harus langsung dibuka. Tidak semua perasaan harus dijelaskan panjang lebar. Tapi memberi sedikit ruang untuk lebih jujur bisa menjadi awal yang penting.

Mengganti “nggak kenapa-kenapa” dengan sesuatu yang lebih mendekati realita, meski sederhana, bisa membuat perbedaan. Bukan untuk orang lain, tapi untuk diri sendiri.

Karena pada akhirnya, bahasa bukan hanya alat komunikasi. Ia juga cara kita memahami apa yang kita rasakan. Dan di situlah kejujuran mulai punya peran. [][Eva Evilia/KK]

[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]