Panggung rock Indonesia kehilangan salah satu nadinya. Dentum bass yang selama puluhan tahun menjadi fondasi musik God Bless, kini tinggal kenangan. Donny Fattah berpulang, meninggalkan jejak panjang dalam sejarah musik Tanah Air.
Kabar duka datang pada Sabtu, 7 Maret 2026. Bassist sekaligus salah satu pendiri band legendaris God Bless, Donny Fattah, meninggal dunia di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta.
Informasi tersebut diumumkan melalui akun Instagram resmi God Bless yang menyampaikan ucapan duka atas kepergian sosok yang selama ini menjadi bagian penting dari perjalanan band tersebut.
Dikutip dari antaranews.com, Donny Fattah meninggal dunia pada usia 77 tahun setelah berjuang melawan sejumlah masalah kesehatan, termasuk sarkopenia, penyumbatan vaskular, dan penyakit autoimun.
Baca Juga: Mengelola Ekspektasi Keluarga
Sosok Penting di Balik Lahirnya God Bless
Donny Fattah, yang memiliki nama asli Jidon Patta Onda Gagola, dikenal sebagai salah satu pendiri God Bless. Band ini terbentuk pada awal 1970-an dan kemudian menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan musik rock Indonesia.
Dalam formasi awal band tersebut, peran bass bukan sekadar pengiring. Permainan Donny membantu membangun struktur musik yang kokoh, memberi ruang bagi vokal Achmad Albar dan permainan gitar Ian Antono.
Sejak berdiri pada 1973, God Bless dikenal melalui lagu-lagu yang kemudian menjadi klasik, seperti "Rumah Kita", "Semut Hitam", hingga "Huma di Atas Bukit".
Selain aktif di God Bless, Donny juga pernah terlibat dalam berbagai proyek musik lain dan membantu proses produksi sejumlah musisi rock Indonesia, termasuk Ikang Fawzi dan Nicky Astria.
Baca Juga: Mengenali Tanda Burnout Sejak Dini
Warisan Seorang Musisi yang Bertahan Puluhan Tahun
Di dunia musik, tak banyak band yang mampu bertahan lebih dari lima dekade. God Bless termasuk salah satu yang berhasil melakukannya, dan Donny Fattah berada di jantung perjalanan tersebut.
Sebagai bassist, perannya mungkin tidak selalu berada di depan panggung. Namun justru di sanalah kekuatannya: menjaga ritme, memberi fondasi, dan memastikan energi musik tetap bergerak.
Banyak pengamat musik menilai bahwa keberadaan Donny adalah bagian dari generasi perintis yang membentuk identitas rock Indonesia sejak era 1970-an.
Kehadirannya di panggung, bahkan saat kesehatan mulai menurun, sering dianggap sebagai simbol dedikasi terhadap musik yang telah menjadi bagian besar hidupnya.
Kepergian Donny Fattah menjadi pengingat bahwa perjalanan panjang musik Indonesia dibangun oleh banyak sosok yang bekerja konsisten selama puluhan tahun. [][Rudi Tenggarawan/KK]
[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi