Ketika orang lain melakukan kesalahan, kita sering berkata, "Semua orang bisa keliru." Namun saat kesalahan itu datang dari diri sendiri, kalimat yang muncul justru jauh lebih keras. Mengapa belas kasih terasa lebih mudah diberikan kepada orang lain daripada kepada diri sendiri?

Ada sebuah ironi yang sering luput disadari. Kita mampu menjadi pendengar yang baik bagi teman yang sedang merasa gagal. Kita meyakinkan mereka bahwa satu kesalahan tidak menentukan seluruh hidupnya. Namun ketika mengalami kegagalan yang serupa, kita justru menjadi hakim yang paling keras bagi diri sendiri.

Suara-suara seperti "Aku memang tidak cukup baik", "Seharusnya aku bisa lebih baik", atau "Ini semua salahku" sering muncul tanpa diminta. Seolah-olah kesalahan kecil cukup untuk membuktikan bahwa diri kita memang tidak layak dihargai.

Padahal, kesalahan adalah pengalaman yang dimiliki semua orang. Yang membedakan bukan banyaknya kesalahan, melainkan cara kita memaknainya.

Baca Juga: Mengapa Kita Lebih Mudah Mengingat Kritik daripada Pujian?

Kita Menilai Orang Lain dari Situasi, tetapi Menilai Diri dari Identitas

Dalam psikologi, ada kecenderungan menarik yang membuat kita lebih mudah memaklumi orang lain. Ketika teman terlambat datang karena terjebak macet, kita menganggap situasinya memang tidak mendukung. Ketika kita sendiri terlambat, pikiran justru berkata bahwa kita ceroboh atau tidak mampu mengatur waktu.

Perbedaan cara berpikir itu membuat kesalahan orang lain terasa sebagai sebuah peristiwa, sedangkan kesalahan diri sendiri berubah menjadi label tentang siapa kita. Akibatnya, rasa bersalah yang seharusnya membantu kita belajar justru berkembang menjadi kritik tanpa akhir terhadap diri sendiri.

Tidak sedikit orang juga tumbuh dengan keyakinan bahwa bersikap keras kepada diri merupakan cara agar tetap disiplin. Mereka khawatir jika terlalu mudah memaafkan diri, semangat untuk berkembang akan hilang. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa self-compassion atau belas kasih kepada diri sendiri justru membantu seseorang lebih mampu bangkit setelah mengalami kegagalan, karena energinya tidak habis untuk terus menghukum diri.

Baca Juga: Merasa Punya Banyak Teman, tetapi Tetap Jauh dari Orang Lain?

Memaafkan Diri Bukan Berarti Menganggap Kesalahan Itu Wajar

Ada perbedaan besar antara memaafkan diri dan mencari pembenaran. Memaafkan diri berarti berani mengakui bahwa kita telah melakukan kesalahan, menerima konsekuensinya, lalu memberi kesempatan kepada diri untuk belajar dan memperbaikinya. Sebaliknya, mencari pembenaran justru menolak tanggung jawab atas apa yang telah terjadi.

Belas kasih kepada diri sendiri juga bukan berarti menurunkan standar hidup. Sebaliknya, ia membantu kita melihat bahwa menjadi manusia memang berarti memiliki ruang untuk keliru. Dengan cara itu, kita tetap bertanggung jawab tanpa harus kehilangan penghargaan terhadap diri sendiri.

Mungkin sudah saatnya kita mencoba satu hal yang sederhana. Ketika melakukan kesalahan, tanyakan pada diri sendiri, "Jika sahabatku mengalami hal yang sama, apa yang akan kukatakan kepadanya?" Jawaban atas pertanyaan itu sering kali jauh lebih lembut daripada kalimat yang selama ini kita tujukan kepada diri sendiri.

Barangkali, bukan karena kita terlalu pandai memaafkan orang lain. Bisa jadi, kita hanya belum belajar memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan yang sama. Dan sering kali, itulah langkah pertama yang dibutuhkan untuk benar-benar pulih. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.