Di banyak pameran sekarang, ada satu pemandangan yang hampir selalu muncul. Orang berdiri di depan karya beberapa detik, mengangkat kamera, mengambil foto, lalu berjalan lagi ke titik berikutnya.
Kadang yang paling ramai bukan karya paling sunyi atau paling personal. Justru instalasi yang paling fotogenik, paling terang, atau paling cocok masuk story media sosial sering menjadi pusat antrean pengunjung.
Fenomena itu membuat pengalaman datang ke pameran terasa berubah. Ruang seni yang dulu identik dengan kontemplasi pelan sekarang bercampur dengan budaya dokumentasi digital yang bergerak sangat cepat.
Namun menariknya, perubahan itu sebenarnya tidak sesederhana “orang sekarang cuma cari konten.” Ada sesuatu yang lebih dalam tentang cara manusia modern mengalami budaya, ruang publik, dan identitas dirinya sendiri.
Profesor budaya visual Nicholas Mirzoeff menjelaskan bahwa masyarakat modern semakin hidup dalam budaya visual, di mana pengalaman sering dianggap lebih nyata ketika bisa direkam dan dibagikan. Dalam konteks itu, memotret sebuah pengalaman bukan lagi sekadar dokumentasi, tetapi bagian dari cara manusia menunjukkan keberadaannya di ruang sosial. Dan pameran seni sekarang berada tepat di tengah perubahan itu.
Baca Juga: Poster Acara Sekarang Bagus-Bagus, Tapi Orang Jarang Ingat Isi Event-nya
Media Sosial Membuat Pengalaman Budaya Ikut Berubah Bentuk
Dulu orang datang ke pameran untuk melihat karya, membaca proses kreatif seniman, atau menikmati suasana ruang yang tenang dan reflektif. Sekarang banyak pengunjung datang sambil memikirkan angle foto, lighting terbaik, dan bagaimana ruang itu akan terlihat di layar ponsel mereka.
Hal itu bukan sepenuhnya salah. Media sosial memang membuat budaya visual menjadi jauh lebih dekat dengan generasi sekarang. Banyak anak muda yang awalnya tertarik datang ke galeri justru karena melihat unggahan orang lain lebih dulu di internet.
Masalahnya, ketika pengalaman budaya terlalu cepat berubah menjadi dokumentasi digital, perhatian manusia juga ikut berubah. Orang bisa sangat sibuk merekam momen sampai lupa benar-benar tinggal cukup lama untuk melihat karya itu sendiri.
Fenomena tersebut perlahan memengaruhi cara pameran dirancang. Banyak ruang seni sekarang dibuat lebih immersive, lebih teatrikal, dan lebih mudah ‘hidup’ di kamera. Instalasi yang interaktif atau visual yang mencolok lebih mudah viral dibanding karya yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dipahami.
Kurator seni dan penulis Claire Bishop dalam Installation Art [2005] menjelaskan bahwa seni kontemporer modern memang semakin bergerak ke arah pengalaman ruang dan partisipasi audiens. Pengunjung bukan lagi hanya melihat karya, tetapi ikut menjadi bagian dari pengalaman visual itu sendiri.
Dan media sosial mempercepat perubahan tersebut dengan sangat besar.
Akibatnya, batas antara menikmati karya dan mendokumentasikan diri di depan karya menjadi semakin tipis. Orang datang bukan hanya untuk melihat seni, tetapi juga untuk membuktikan bahwa mereka pernah hadir di ruang budaya tertentu.
Baca Juga: Konser Makin Ramai Kamera HP, Tapi Sedikit yang Benar-Benar Hafal Lagunya
Kadang yang Dicari Bukan Sekadar Karya, Tapi Identitas Sosial di Baliknya
Fenomena ini sebenarnya sangat manusiawi kalau dilihat lebih pelan. Di era digital, banyak orang membangun identitas melalui tempat yang mereka datangi, musik yang mereka dengarkan, dan ruang budaya yang mereka tampilkan di media sosial.
Karena itu, datang ke pameran sering bukan cuma soal menikmati karya seni. Ada juga keinginan untuk merasa menjadi bagian dari lingkungan kreatif, intelektual, atau budaya tertentu.
Sosiolog Pierre Bourdieu dalam konsep cultural capital menjelaskan bahwa pengalaman budaya sering menjadi bagian dari cara manusia membangun citra sosial dan identitas dirinya di lingkungan sekitar. Apa yang dikonsumsi seseorang secara budaya sering ikut membentuk bagaimana ia ingin dilihat oleh orang lain.
Mungkin itu sebabnya sekarang banyak orang ingin menunjukkan bahwa mereka datang ke pameran, menonton film festival, atau hadir di ruang seni tertentu. Bukan selalu karena pura-pura peduli budaya, tetapi karena pengalaman itu sudah menjadi bagian dari bahasa sosial modern.
Namun, di tengah semua itu, muncul pertanyaan kecil yang menarik: apakah manusia masih memberi cukup waktu untuk benar-benar melihat karya di depannya? Karena ada perbedaan besar antara memotret sebuah karya dan tinggal cukup lama sampai karya itu benar-benar berbicara kepada kita.
Di banyak pameran hari ini, kadang orang lebih lama menyesuaikan kamera dibanding memperhatikan detail karya yang sedang dilihatnya. Ada yang datang hanya ke instalasi tertentu yang sedang viral, lalu pulang tanpa benar-benar menjelajahi ruang lainnya.
Padahal seni sering bekerja dengan cara yang lambat. Ada karya yang baru terasa setelah dilihat beberapa menit. Ada karya yang justru hidup ketika seseorang berhenti sebentar dan membiarkan dirinya diam.
Penulis dan pengamat budaya Susan Sontag dalam On Photography [1977] pernah menulis bahwa kebiasaan memotret dapat mengubah cara manusia mengalami realitas. Ketika segala sesuatu terlalu cepat dijadikan gambar, manusia kadang kehilangan kesempatan untuk benar-benar hadir penuh di dalam pengalaman itu sendiri.
Mungkin itu sebabnya pertanyaan tentang pameran hari ini terasa menarik. Karena di balik ramainya kamera dan story media sosial, ada kegelisahan kecil tentang apakah manusia modern masih benar-benar melihat sesuatu, atau hanya semakin sibuk membuktikan bahwa mereka pernah ada di sana. [][Liora Maheswari/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.