Konser sekarang terlihat semakin meriah. Ribuan lampu dari layar ponsel menyala bersamaan, tetapi tidak semua orang benar-benar menyanyikan lagu yang sedang dimainkan.
Fenomena ini semakin sering terlihat di berbagai konser dan festival musik. Banyak penonton sibuk merekam hampir sepanjang pertunjukan, mulai dari pembuka sampai lagu terakhir. Kamera terus terangkat, sementara perhatian perlahan terbagi antara menikmati musik dan memastikan hasil video terlihat bagus.
Di satu sisi, teknologi memang membuat momen konser lebih mudah disimpan dan dibagikan. Orang bisa mengulang kenangan, mengunggah suasana acara, atau menunjukkan pengalaman yang dianggap berharga kepada orang lain.
Namun, ada perubahan kecil yang mulai terasa. Sebagian penonton datang bukan karena benar-benar dekat dengan musiknya, melainkan karena konser telah berubah menjadi pengalaman sosial dan visual yang sangat besar.
Profesor media dan budaya Nicholas Mirzoeff dalam How to See the World [2015] menjelaskan bahwa manusia modern hidup dalam budaya visual yang membuat pengalaman sering lebih dihargai berdasarkan bagaimana tampilannya di layar. Hal itu membuat banyak aktivitas perlahan bergeser dari pengalaman langsung menjadi pengalaman yang terus didokumentasikan.
Akibatnya, konser tidak lagi hanya tentang mendengar dan merasakan musik. Ada kebutuhan untuk merekam, membagikan, dan menunjukkan bahwa seseorang pernah berada di sana.
Baca Juga: Clean Look yang Kita Sukai, Seberapa Besar Pengaruh Budaya Korea di Baliknya?
Banyak Orang Datang ke Konser untuk Mengalami Suasana, Bukan Selalu Musiknya
Perubahan ini sebenarnya cukup wajar di era media sosial. Konser sekarang menjadi bagian dari gaya hidup dan identitas sosial, terutama di kalangan anak muda. Ada pengalaman kolektif yang terasa penting ketika seseorang hadir di acara yang sedang ramai dibicarakan.
Karena itu, tidak sedikit orang membeli tiket meski hanya mengenal satu atau dua lagu yang viral. Sisanya sering terasa asing, tetapi suasana konser tetap dianggap menarik untuk diikuti.
Musikolog dan kritikus budaya Simon Frith dalam Performing Rites: On the Value of Popular Music [1996] pernah menjelaskan bahwa musik populer bukan hanya soal suara, tetapi juga tentang pengalaman sosial yang dibangun di sekitarnya. Konser menjadi ruang tempat manusia merasa terhubung dengan tren, komunitas, dan momen budaya tertentu.
Media sosial memperkuat perubahan tersebut. Lagu pendek yang viral di platform video sering lebih dikenal dibanding keseluruhan karya musisinya. Akibatnya, banyak orang hafal potongan reff yang sering muncul di internet, tetapi tidak benar-benar mengenal lagu secara utuh.
Fenomena ini membuat konser modern terasa berbeda dibanding dulu. Penonton tetap ramai dan antusias, tetapi hubungan dengan musiknya sendiri kadang menjadi lebih tipis.
Dalam The Anxious Generation [2024], psikolog sosial Jonathan Haidt menjelaskan bahwa generasi digital tumbuh dalam lingkungan yang sangat dipengaruhi validasi visual dan pengalaman kolektif daring. Banyak aktivitas akhirnya lebih fokus pada momen yang bisa dibagikan dibanding pengalaman personal yang benar-benar dirasakan.
Baca Juga: Clean Girl vs Real Face: Kita Menilainya dari Budaya yang Mana?
Kamera Membantu Menyimpan Kenangan, Tapi Kadang Mengambil Fokus dari Panggung
Tidak semua orang yang merekam konser kehilangan rasa menikmati musik. Banyak penonton tetap bernyanyi dan menikmati suasana meski sambil memegang ponsel.
Namun ketika hampir seluruh konser dilihat lewat layar kamera sendiri, pengalaman langsung perlahan terasa berubah. Mata lebih sibuk memastikan rekaman stabil dibanding menikmati detail kecil di atas panggung.
Beberapa musisi dunia bahkan mulai meminta penonton menurunkan ponsel selama pertunjukan tertentu agar suasana konser terasa lebih hidup dan intim. Mereka ingin penonton benar-benar hadir di momen itu, bukan hanya membawa pulang rekamannya.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana teknologi perlahan mengubah hubungan manusia dengan hiburan. Konser tetap ramai, musik tetap dimainkan, dan sorak penonton tetap terdengar. Namun cara manusia menikmati semuanya mulai bergerak ke arah yang berbeda.
Mungkin itu sebabnya konser sekarang dipenuhi kamera HP, tetapi tidak semua orang benar-benar hafal lagu yang sedang dinyanyikan. Bukan karena musik kehilangan penggemarnya, melainkan karena pengalaman menghadiri konser telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih visual dibanding sebelumnya. [][Liora Maheswari/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.