Pernahkah Anda merasa sebuah unggahan media sosial yang menurut Anda penting justru sepi perhatian? Sebaliknya, konten yang sederhana atau bahkan tidak terlalu bernilai bisa mendapatkan ribuan interaksi dalam waktu singkat. Banyak orang menganggap hal ini terjadi karena selera audiens. Padahal, ada "penjaga gerbang" lain yang bekerja sebelum pesan kita sampai kepada manusia lain: algoritma.
Bayangkan Anda ingin bertemu seseorang di sebuah gedung perkantoran. Sebelum bertemu orang tersebut, Anda harus melewati satpam di pintu masuk. Jika identitas Anda dianggap sesuai, Anda dipersilakan masuk. Jika tidak, akses Anda dibatasi. Dalam dunia digital, algoritma berperan seperti satpam tersebut. Ia menentukan pesan mana yang layak ditampilkan, kepada siapa, dan seberapa luas jangkauannya.
Gagasan ini dibahas oleh Wendra Wilendra, S.Sos., M.MT, lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (UNPAD) dan magister dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dalam bukunya Psikologi Komunikasi di Era Algoritmik: Antara Empati, Data, dan Ilusi Makna. Menurutnya, komunikasi digital modern telah memasuki fase baru yang tidak lagi sepenuhnya berlangsung dari manusia ke manusia. Sebelum sampai kepada audiens, pesan harus melewati lapisan sistem digital yang ikut menentukan bagaimana pesan tersebut ditampilkan dan dimaknai.
Dalam buku tersebut, Wendra memperkenalkan konsep Komunikasi Biaxial (Biaxial Communication), yaitu model komunikasi yang menggambarkan proses manusia → mesin → manusia. Ia menjelaskan bahwa dalam komunikasi digital saat ini, pesan tidak hanya dikirim, tetapi juga "difilter, ditafsirkan, dan disusun ulang oleh sistem algoritmik sebelum mencapai manusia lainnya"
Ketika menyadari keberadaan "satpam digital" ini, banyak orang mulai mengubah cara mereka berkomunikasi. Mereka memilih kata-kata tertentu, menggunakan tagar populer, menyisipkan emoji tertentu, atau menyesuaikan format konten agar lebih mudah diterima oleh sistem.
Wendra menyebut fenomena ini sebagai adaptasi ekspresi. Dalam penjelasannya, komunikator "tidak lagi mengekspresikan diri secara natural, melainkan menyesuaikan gaya bicara, format tulisan, emoji, hingga waktu pengiriman agar dipahami atau dihargai oleh sistem"
Contohnya dapat dilihat pada seorang kreator yang sebenarnya ingin membahas kesehatan mental secara mendalam. Namun karena khawatir tidak mendapat jangkauan yang baik, ia mengubah judul menjadi lebih provokatif, memperpendek pembahasan yang kompleks, atau mengikuti tren tertentu. Tanpa disadari, pesan mulai disesuaikan bukan hanya untuk manusia, tetapi juga untuk mesin.
Di sinilah muncul paradoks komunikasi modern. Kita merasa sedang berbicara kepada manusia, tetapi pada saat yang sama kita juga sedang bernegosiasi dengan algoritma.
Dalam salah satu bagian bukunya, Wendra menulis:
"Kita tidak hanya berbicara — kita bernegosiasi dengan sistem, bahkan sebelum pesan kita sampai ke sesama manusia."
Kalimat ini menjelaskan mengapa banyak konten hari ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan algoritma terlebih dahulu sebelum memenuhi kebutuhan manusia. Akibatnya, pesan yang paling banyak dilihat belum tentu menjadi pesan yang paling bermakna.
Menjelang akhir pembahasannya, Wendra mengingatkan bahwa tantangan komunikasi digital bukan sekadar membuat pesan sampai kepada audiens. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan makna tidak hilang selama proses kurasi algoritmik berlangsung. Sebagaimana ia tuliskan:
"Yang penting bukan hanya pesannya sampai, tapi apakah ia tiba dalam bentuk yang masih utuh — dan masih bermakna."
Karena itu, literasi digital masa kini tidak cukup hanya memahami cara menggunakan media sosial atau kecerdasan buatan. Kita juga perlu memahami bagaimana algoritma memengaruhi cara kita berbicara, berpikir, dan memaknai realitas. Dengan memahami mekanisme tersebut, kita tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang lebih cerdas, tetapi juga tetap mampu menjaga nilai dan makna dalam komunikasi yang semakin dimediasi oleh mesin. [Salim Elantara/KK]