AI menjanjikan pekerjaan lebih cepat dan mudah. Tetapi terlalu banyak menggunakan atau mengawasi hasilnya ternyata dapat membuat seseorang mengalami kelelahan mental.

Seorang pekerja kreatif membuka beberapa aplikasi kecerdasan buatan sekaligus. Satu aplikasi sedang membuat konsep video, aplikasi lainnya menyusun artikel, sementara aplikasi ketiga menghasilkan gambar untuk kebutuhan media sosial. Dalam waktu singkat, puluhan hasil pekerjaan tersedia dan menunggu untuk diperiksa.

Awalnya, ia merasa produktif karena pekerjaan yang biasanya membutuhkan waktu berjam-jam dapat diselesaikan lebih cepat. Tetapi setelah beberapa kali memperbaiki instruksi, membandingkan hasil, dan menemukan kesalahan, konsentrasinya mulai menurun. Ia kesulitan menentukan pilihan, bahkan untuk keputusan sederhana yang biasanya dapat dibuat tanpa banyak berpikir.

Pengalaman ilustratif tersebut menggambarkan sebuah fenomena yang mulai mendapat perhatian peneliti, yakni AI brain fry. Istilah ini merujuk pada kelelahan mental akibat penggunaan, interaksi, atau pengawasan sistem kecerdasan buatan yang terlalu intensif. Menariknya, kelelahan tersebut dapat muncul justru ketika teknologi sedang membantu manusia menyelesaikan lebih banyak pekerjaan.

Baca Juga: Kejahatan dengan AI, Masih Bisakah Kita Percaya pada Apa yang Kita Lihat?

Apa Itu AI Brain Fry dan Mengapa Bisa Terjadi?

Istilah AI brain fry dibahas dalam penelitian yang dipublikasikan Harvard Business Review pada 5 Maret 2026. Penelitian yang melibatkan Boston Consulting Group dan peneliti dari University of California, Riverside tersebut mengamati pengalaman 1.488 pekerja penuh waktu di Amerika Serikat. Para peneliti mempelajari hubungan antara pola penggunaan AI, beban kerja, serta kondisi kognitif dan emosional pekerja.

Hasilnya, 14 persen responden yang menggunakan AI untuk bekerja mengaku pernah mengalami kelelahan mental yang sesuai dengan definisi AI brain fry. Mereka menggambarkan pengalaman seperti pikiran berkabut, kesulitan berkonsentrasi, keputusan yang semakin lambat, hingga sakit kepala. Persentase tersebut merupakan laporan pengalaman responden, bukan angka prevalensi gangguan medis pada seluruh pengguna AI.

Penelitian itu juga menemukan bahwa pekerja dengan tingkat pengawasan AI yang tinggi melaporkan upaya mental 14 persen lebih besar, kelelahan mental 12 persen lebih tinggi, dan kelebihan informasi 19 persen lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan pengawasan rendah. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa mengawasi pekerjaan AI dapat menuntut perhatian yang tidak sedikit. Meski demikian, temuan survei tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa penggunaan AI merupakan penyebab tunggal kelelahan seseorang.

Mengapa teknologi yang membantu menyelesaikan pekerjaan justru dapat membebani pikiran? Salah satu jawabannya berkaitan dengan perubahan jenis pekerjaan manusia. Ketika AI menghasilkan tulisan, gambar, analisis, atau kode komputer, pengguna masih harus memeriksa ketepatan, menemukan kekeliruan, dan menentukan apakah hasilnya layak digunakan.

Masalah dapat bertambah ketika beberapa sistem bekerja bersamaan. Perhatian pengguna terus berpindah dari satu hasil menuju hasil lainnya, sementara setiap keluaran memerlukan penilaian tersendiri. Proses tersebut dapat menimbulkan information overload, yaitu keadaan ketika informasi yang harus diproses terasa melebihi kapasitas perhatian seseorang.

Dalam editorial ilmiah berjudul AI Brain Fry: How Artificial Intelligence Is Reshaping Human Cognition at Work, yang diterbitkan dalam Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking pada Juli 2026, Brenda K. Wiederhold menjelaskan bahwa AI semakin mengubah peran manusia dari pelaksana pekerjaan menjadi pengawas kognitif. Pekerjaan menghasilkan sesuatu mungkin berkurang, tetapi pekerjaan memeriksa, menafsirkan, dan memperbaiki hasil teknologi justru bertambah.

Fenomena ini perlu dibedakan dari burnout, yang berkaitan dengan stres kerja kronis. AI brain fry menggambarkan kelelahan kognitif yang dapat muncul setelah interaksi atau pengawasan AI secara intensif. Keduanya bisa berkaitan, tetapi tidak identik, dan istilah AI brain fry belum merupakan diagnosis medis yang berdiri sendiri.

Baca Juga: AI Bisa Membuat Apa Saja, tetapi Apakah Ia Punya Selera?

Bagaimana Menggunakan AI Tanpa Membuat Pikiran Kewalahan?

Temuan penelitian tersebut tidak berarti penggunaan AI harus dikurangi dalam semua keadaan. Para peneliti justru menemukan bahwa penggunaan AI untuk menggantikan pekerjaan rutin atau berulang berkaitan dengan tingkat burnout yang lebih rendah. Artinya, dampak penggunaan AI terhadap kesejahteraan pekerja bergantung pada bagaimana teknologi tersebut digunakan.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membatasi jumlah pekerjaan AI yang harus diawasi pada saat bersamaan. Daripada meminta beberapa aplikasi menghasilkan puluhan alternatif sekaligus, pengguna dapat menentukan kebutuhan utama dan mengevaluasi hasilnya secara bertahap. Pendekatan ini membantu mengurangi perpindahan perhatian yang terus-menerus.

Pengguna juga dapat membedakan pekerjaan yang layak didelegasikan kepada AI dan pekerjaan yang memerlukan pertimbangan manusia. Penyusunan draf awal atau pengelompokan informasi dapat dibantu AI, tetapi pemeriksaan fakta, keputusan editorial, dan penilaian terhadap dampak sebuah keputusan tetap membutuhkan tanggung jawab pengguna. AI yang menghasilkan jawaban meyakinkan belum tentu memberikan informasi yang benar.

Kebiasaan meminta AI terus membuat versi baru juga perlu diperhatikan. Lebih banyak pilihan tidak selalu meningkatkan kualitas keputusan, terutama ketika pengguna sudah mengalami kelelahan. Menetapkan kriteria keberhasilan sejak awal dapat membantu menentukan kapan suatu hasil sudah cukup baik untuk digunakan.

Di lingkungan kerja, tanggung jawab mencegah kelelahan tidak semestinya dibebankan hanya kepada individu. Perusahaan yang memperkenalkan AI perlu mempertimbangkan apakah teknologi benar-benar mengurangi pekerjaan atau sekadar menambah target produksi dan tugas pengawasan. Produktivitas sebaiknya dinilai dari kualitas hasil dan manfaat pekerjaan, bukan semata banyaknya keluaran AI.

Penting pula memperhatikan bahwa kesulitan berkonsentrasi atau sakit kepala dapat memiliki berbagai penyebab, termasuk kurang tidur, stres, dan kondisi kesehatan tertentu. Gejala tersebut tidak otomatis menunjukkan seseorang mengalami AI brain fry. Apabila keluhan berulang atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, pemeriksaan tenaga kesehatan dapat membantu mencari penyebabnya.

Kehadiran AI memang memungkinkan manusia menyelesaikan berbagai pekerjaan dengan kecepatan yang sebelumnya sulit dibayangkan. Tetapi kemampuan teknologi menghasilkan informasi tidak sama dengan kemampuan manusia memeriksa dan memahaminya tanpa batas.

AI dapat mempercepat pekerjaan, tetapi tidak otomatis memperbesar kapasitas perhatian manusia. Ketika hasil teknologi semakin banyak sementara waktu untuk berpikir tetap terbatas, kemampuan menentukan kapan harus berhenti justru menjadi bagian penting dari kecakapan menggunakan AI. [][Rudi Tenggarawan/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.