Dalam beberapa waktu terakhir, nama kampus kembali muncul di ruang publik, tapi bukan karena prestasi akademik atau riset yang membanggakan. Yang muncul justru potongan-potongan peristiwa yang memicu kemarahan dan kekecewaan. Dari satu kasus ke kasus lain, publik seperti sedang menyaksikan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kejadian tunggal.

Kasus pertama datang dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Isi percakapan grup mahasiswa yang membahas tubuh perempuan secara vulgar tersebar luas dan memicu reaksi keras dari publik. Banyak yang melihat ini sebagai bukti nyata bahwa pelecehan tidak hanya terjadi di ruang terbuka, tapi juga di ruang yang selama ini dianggap aman.

Belum reda, muncul lagi perbincangan dari lingkungan mahasiswa Institut Teknologi Bandung. Lagu "Erika" yang digunakan dalam konteks tertentu memicu diskusi baru, tentang batas antara ekspresi, humor, dan sensitivitas. Reaksi publik kembali terbagi, sebagian marah, sebagian mencoba memahami, sebagian lainnya hanya ikut bersuara.

Lalu tidak lama setelah itu, muncul kasus dari Universitas Padjadjaran. Seorang guru besar dilaporkan meminta foto pribadi kepada mahasiswi dari luar negeri, dan kasus ini langsung menjadi sorotan. Dalam waktu singkat, tiga nama kampus besar muncul dalam narasi yang sama.

Baca Juga: Itu Salah, Kita Tahu, Tapi Kenapa Banyak yang Tetap Diam?

Ketika Peristiwa Berbeda Dibaca sebagai Satu Cerita

Jika dilihat satu per satu, setiap kasus memiliki konteks yang berbeda. Kasus FH UI berbicara tentang dinamika internal mahasiswa dan budaya yang berkembang di dalamnya. Kasus ITB lebih dekat dengan persoalan interpretasi dan batas sosial dalam berekspresi. Sementara kasus Unpad menyentuh relasi kuasa yang jauh lebih serius antara dosen dan mahasiswa.

Namun di ruang publik, ketiganya mulai dibaca dalam satu tarikan napas. Nama kampus disebut bersamaan, komentar disusun dalam satu arah, dan perlahan muncul kesan bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi secara kolektif. Dari sini, narasi mulai terbentuk.

Sebagian mulai bertanya apakah ini kebetulan, atau ada pola tertentu. Ada juga yang mulai mencurigai adanya framing terhadap institusi pendidikan tinggi negeri. Di sisi lain, tidak sedikit yang melihat ini sebagai refleksi nyata dari masalah yang memang sudah lama ada.

Masalahnya, ketika semua dibaca sebagai satu cerita, perbedaan konteks mulai menghilang. Hal-hal yang seharusnya dibedakan, justru disatukan. Dan dari situ, kesimpulan yang muncul sering kali terasa lebih besar dari fakta yang ada.

Baca Juga: Whistleblower atau Pelanggar? Di Mana Batasnya?

Kita Mencari Pola, atau Membutuhkannya?

Manusia memang cenderung mencari pola. Ketika beberapa kejadian muncul dalam waktu berdekatan, kita mencoba menghubungkannya. Ini bukan hal yang salah, karena membantu kita memahami dunia yang kompleks.

Namun dalam proses itu, ada kemungkinan lain yang sering luput. Kita tidak hanya menemukan pola, tapi juga bisa membentuknya. Potongan-potongan peristiwa yang sebenarnya berdiri sendiri, disusun menjadi satu narasi yang terasa masuk akal.

Di titik ini, muncul pertanyaan yang lebih penting. Apakah kita sedang mencoba memahami apa yang benar-benar terjadi, atau justru mencari cerita yang terasa paling mudah dipercaya. Karena dua hal ini tidak selalu sama.

Ketika narasi sudah terbentuk, cara kita melihat peristiwa berikutnya juga ikut berubah. Kita tidak lagi melihat kasus sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, tapi sebagai bagian dari cerita yang sudah kita yakini sebelumnya. Dari sini, ruang untuk melihat dengan lebih jernih menjadi semakin sempit.

Bukan berarti kita harus mengabaikan keterkaitan antar-kejadian. Tapi mungkin kita perlu sedikit lebih hati-hati sebelum menyimpulkan arah yang lebih besar. Karena tidak semua yang terlihat terhubung, benar-benar berasal dari sumber yang sama.

Yang perlu dijaga bukan hanya reaksi kita terhadap kasus, tapi juga cara kita menyusunnya dalam pikiran. Karena di situlah cerita yang lebih besar mulai kita bentuk sendiri. Saya sih, tidak akan tergesa melompat ke kesimpulan. Entah dengan Anda. []


[Adrian Damar/KK]

[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]