Umur membuat sebuah benda menjadi tua, tetapi tidak otomatis membuatnya bersejarah. Ada cerita, konteks, dan ingatan manusia yang membuat nilainya perlahan berubah.
Sebuah radio tua ditemukan ketika rumah orangtua sedang dibereskan. Catnya sudah mengelupas, tombol pengatur frekuensinya tidak lagi sempurna, dan kualitas suaranya tentu kalah jauh dibandingkan pengeras suara modern. Jika hanya dinilai berdasarkan fungsi, mungkin tidak banyak alasan untuk mempertahankannya.
Namun cerita tentang radio itu kemudian muncul. Dari benda tersebut keluarga mendengarkan berita penting puluhan tahun lalu, anak-anak berkumpul mendengar siaran pada malam hari, dan seseorang masih mengingat persis tempat radio itu dahulu diletakkan. Benda yang beberapa menit sebelumnya terlihat seperti barang elektronik usang tiba-tiba menjadi sulit dibuang.
Perubahan nilai semacam ini tidak hanya terjadi di dalam keluarga. Museum menyimpan pakaian, surat, peralatan rumah tangga, kendaraan, mainan, hingga benda sehari-hari yang ketika dibuat mungkin tidak pernah dimaksudkan sebagai peninggalan sejarah. Waktu memang membuatnya lama, tetapi cerita yang melekat padanya membuat manusia mulai melihatnya dengan cara berbeda.
Baca Juga: Ada Foto yang Tak Pernah Lagi Kita Buka, Tapi Tetap Sulit Dihapus
Tua Belum Tentu Bersejarah
Usia sebenarnya hanya salah satu bagian dari perjalanan sebuah benda. Canadian Conservation Institute menggunakan beberapa kriteria ketika membicarakan signifikansi objek, antara lain nilai historis, artistik, ilmiah, sosial atau spiritual. Sebuah benda dapat memperoleh signifikansi historis karena keterkaitannya dengan orang, peristiwa, tempat, atau tema tertentu.
Itulah sebabnya dua benda yang dibuat pada tahun yang sama dapat mempunyai nilai sejarah berbeda. Mesin tik biasa yang tersimpan di gudang mungkin hanya menjadi contoh teknologi pada zamannya, sedangkan mesin tik sejenis yang diketahui digunakan seorang penulis untuk menghasilkan karya penting memperoleh lapisan cerita tambahan. Materialnya hampir sama, tetapi hubungan dengan manusia dan peristiwa membuat maknanya berbeda.
Museum bahkan tidak menerima setiap benda hanya karena usianya sudah sangat tua. Smithsonian Institution menyebut proses akuisisi koleksinya mempertimbangkan signifikansi, kondisi fisik, nilai intelektual, kesesuaian dengan misi museum, potensi untuk penelitian dan pendidikan, hingga riwayat kepemilikan. Hanya sebagian kecil benda yang ditawarkan kemudian benar-benar diterima menjadi koleksi.
Di sinilah istilah provenance menjadi penting. Smithsonian mendefinisikannya sebagai sejarah kepemilikan sebuah objek sejak diciptakan hingga sekarang. Penelitian mengenai provenance dapat membantu mengetahui siapa pembuat dan pemiliknya, perjalanan benda tersebut, otentisitasnya, hingga mengapa benda itu mempunyai signifikansi tertentu.
Tanpa cerita tersebut, benda lama terkadang hanya menyisakan bentuk fisiknya. Sebuah kamera analog dapat diketahui merek dan tahun produksinya, tetapi maknanya berubah ketika ditemukan foto, surat, atau dokumen yang membuktikan bahwa kamera tersebut dibawa untuk merekam sebuah peristiwa penting. Cerita tidak sekadar membuat benda terdengar menarik, tetapi membantu menempatkannya di dalam sejarah.
Baca Juga: Apa yang Membuat Kita Tetap Datang ke Museum?
Nilai Benda Bisa Berubah karena Cara Manusia Membaca Masa Lalu
Hal menarik lainnya adalah signifikansi tidak selalu bersifat tetap. Western Australian Museum menjelaskan bahwa signifikansi sebuah objek dapat berubah mengikuti perubahan komunitas, budaya, politik, ilmu pengetahuan, dan lingkungan. Sesuatu yang dahulu dianggap terlalu biasa untuk diperhatikan dapat memperoleh arti berbeda ketika masyarakat mulai melihat masa lalunya melalui pertanyaan baru.
Pakaian kerja, tiket transportasi, kemasan produk, poster pertunjukan, atau peralatan dapur lama merupakan contoh menarik. Ketika masih digunakan setiap hari, benda tersebut mungkin dianggap terlalu biasa untuk disimpan. Puluhan tahun kemudian, justru benda sehari-hari semacam itu dapat membantu menunjukkan bagaimana orang pada sebuah masa bekerja, bepergian, berbelanja, menikmati hiburan, atau menjalani kehidupan rumah tangga.
Nilai sejarah juga berbeda dengan harga. Sebuah benda dapat mempunyai arti besar bagi komunitas meskipun nilai jualnya rendah, sementara barang mahal belum tentu mempunyai signifikansi budaya yang sama. SOAS University of London mencatat bahwa sejumlah artefak museum dapat memiliki nilai komersial kecil, tetapi tetap penting karena signifikansi budaya atau pendidikannya.
Sebaliknya, cerita sebuah benda memang dapat ikut memengaruhi harga ketika masuk pasar koleksi. Provenance yang kuat, kelangkaan, otentisitas, kondisi, serta hubungan dengan tokoh tertentu dapat membuat benda lebih dicari. Namun menyamakan harga tinggi dengan nilai sejarah akan mengabaikan banyak peninggalan penting yang justru berasal dari kehidupan orang biasa.
Benda-benda keluarga memperlihatkan perbedaan itu dengan jelas. Seragam sekolah seorang kakek mungkin tidak mempunyai harga berarti bagi kolektor, tetapi bagi keluarga dapat menjadi bukti fisik dari cerita yang selama ini hanya didengar. Ketika orang yang mengetahui ceritanya sudah tidak ada, benda tersebut bahkan bisa menjadi salah satu sedikit penghubung yang tersisa.
Karena itu, menyimpan barang lama juga membutuhkan sesuatu yang sering terlupakan: menyimpan keterangannya. Nama pemilik, tahun penggunaan, tempat, peristiwa yang berkaitan, atau cerita sederhana tentang mengapa benda tersebut penting dapat dicatat bersama benda. Tanpa konteks, generasi berikutnya mungkin hanya menemukan sebuah kotak berisi barang tua tanpa mengetahui mengapa seseorang dahulu bersusah payah menyimpannya.
Tidak semua barang lama tentu harus dipertahankan. Rumah akan segera berubah menjadi gudang jika setiap kuitansi, pakaian, peralatan, dan benda rusak dianggap calon peninggalan sejarah. Memilih apa yang layak disimpan justru membutuhkan pertanyaan mengenai cerita apa yang diwakilinya dan apakah cerita tersebut masih mempunyai arti bagi seseorang atau suatu komunitas.
Barangkali benda mulai berubah nilainya ketika manusia berhenti hanya bertanya, 'Ini masih berguna untuk apa?' dan mulai bertanya, 'Benda ini pernah menjadi bagian dari cerita apa?' Pada saat itulah radio rusak tidak lagi sekadar radio, pakaian lusuh tidak hanya menjadi kain tua, dan barang yang kehilangan fungsi dapat memperoleh kegunaan baru: membantu manusia mengingat kehidupan yang pernah berlangsung di sekitarnya. [][Liora Maheswari/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.