Ada adegan yang terasa akrab di banyak rumah. Seseorang memanggil suaminya tiga kali dari dapur, tetapi tidak ada jawaban. Ketika akhirnya datang, jawabannya sederhana, "Maaf, lagi fokus."

Situasi seperti itu sering melahirkan anggapan bahwa laki-laki kurang mampu melakukan beberapa pekerjaan sekaligus. Sementara itu, perempuan kerap digambarkan mampu memasak, mengawasi anak, menjawab telepon, dan tetap mengingat daftar belanja dalam waktu yang hampir bersamaan.

Stereotip tersebut sudah begitu lama beredar hingga dianggap sebagai fakta. Padahal, ketika para peneliti mencoba mengukurnya melalui berbagai penelitian, hasilnya ternyata tidak sesederhana yang selama ini dipercaya.

Pertanyaannya bukan lagi apakah laki-laki lebih buruk dalam multitasking. Pertanyaan yang lebih menarik adalah, apakah manusia memang benar-benar mampu melakukan multitasking, atau sebenarnya otak hanya berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain dengan sangat cepat?

Baca Juga: Mengapa Banyak Laki-Laki Lebih Mudah Memperbaiki Barang daripada Membicarakan Perasaannya?

Yang Dilakukan Otak Seringkali Bukan Multitasking, Melainkan Berganti Fokus

Dalam psikologi kognitif, istilah multitasking sering dipakai untuk menggambarkan melakukan beberapa aktivitas dalam waktu yang sama. Namun, untuk pekerjaan yang sama-sama membutuhkan perhatian tinggi, otak manusia umumnya tidak mengerjakan semuanya secara bersamaan. Yang terjadi justru task switching, yaitu berpindah fokus dari satu tugas ke tugas lain dalam hitungan detik.

Profesor David E. Meyer, pakar psikologi kognitif dari University of Michigan, menjelaskan bahwa setiap perpindahan tugas memiliki 'biaya'. Otak membutuhkan waktu untuk menyesuaikan perhatian, mengingat kembali informasi yang relevan, lalu melanjutkan pekerjaan berikutnya. Semakin sering perpindahan itu terjadi, semakin besar pula peluang munculnya kesalahan atau penurunan efisiensi.

Lalu, bagaimana dengan anggapan bahwa perempuan lebih unggul dibanding laki-laki? Penelitian memang pernah menemukan perbedaan kecil dalam beberapa jenis tugas tertentu. Salah satunya dipublikasikan dalam jurnal BMC Psychology yang menunjukkan adanya variasi performa berdasarkan jenis tugas dan kelompok responden. Namun, para peneliti juga menegaskan bahwa hasil tersebut tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa satu jenis kelamin secara umum lebih unggul dalam semua bentuk multitasking.

Banyak faktor lain justru lebih berpengaruh, seperti pengalaman, jenis pekerjaan yang dilakukan setiap hari, tingkat konsentrasi, tekanan, hingga kebiasaan mengatur prioritas. Dengan kata lain, kemampuan berpindah perhatian tidak hanya ditentukan oleh apakah seseorang laki-laki atau perempuan.

Dalam kehidupan sehari-hari, laki-laki sering terlihat sangat fokus ketika mengerjakan satu pekerjaan. Saat memperbaiki motor, memasang rak, atau mengutak-atik komputer, perhatian mereka bisa begitu terpusat sehingga suara di sekelilingnya terasa seperti menghilang. Kebiasaan itu kemudian sering diterjemahkan sebagai ketidakmampuan melakukan dua hal sekaligus, padahal yang terlihat bisa saja merupakan strategi bekerja yang berbeda.

Baca Juga: Mengapa Banyak Laki-Laki Baru Menyadari Tubuhnya Bermasalah Setelah Terlalu Lama Mengabaikannya?

Fokus Bukan Kekurangan, Selama Tahu Kapan Harus Beralih

Ada satu hal yang sering terlupakan ketika membahas multitasking. Tidak semua pekerjaan memang perlu dilakukan secara bersamaan. Beberapa aktivitas justru menghasilkan kualitas yang lebih baik ketika dikerjakan dengan perhatian penuh.

Laporan dari American Psychological Association menjelaskan bahwa sering berpindah perhatian antartugas dapat menurunkan produktivitas dan meningkatkan kesalahan. Otak memerlukan waktu untuk kembali menemukan ritme setiap kali perhatian dialihkan.

Bagi banyak laki-laki, kecenderungan tenggelam dalam satu pekerjaan mungkin justru menjadi kelebihan ketika tugas tersebut membutuhkan ketelitian dan konsentrasi tinggi. Sebaliknya, tantangannya muncul ketika situasi menuntut mereka segera mengalihkan perhatian kepada hal lain, misalnya ketika anggota keluarga sedang berbicara atau ada informasi penting yang perlu segera direspons.

Itu sebabnya persoalan ini tidak selalu berkaitan dengan kemampuan biologis. Ia juga dipengaruhi kebiasaan, lingkungan, dan cara seseorang melatih perhatian. Sama seperti otot yang dapat dilatih, kemampuan mengatur fokus juga berkembang melalui pengalaman.

Barangkali kita memang terlalu cepat memberi label. Ketika seorang laki-laki tidak langsung menjawab panggilan, kita menyebutnya tidak bisa multitasking. Ketika seorang perempuan mampu mengerjakan banyak hal sekaligus, kita menganggapnya memiliki kemampuan yang secara alami lebih hebat.

Ilmu pengetahuan justru mengajak kita melihat persoalan dengan lebih tenang. Otak manusia, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki keterbatasan dalam membagi perhatian. Yang berbeda seringkali bukan kapasitas dasarnya, melainkan cara masing-masing mengelola perhatian sesuai tuntutan hidup yang mereka jalani.

Mungkin itulah mengapa pertanyaan "Siapa yang lebih jago multitasking?" tidak lagi menjadi hal yang paling penting. Yang lebih berguna adalah memahami kapan kita perlu fokus sepenuhnya, dan kapan kita harus belajar mengalihkan perhatian kepada hal yang memang lebih membutuhkan kehadiran kita. [][Rommy Rimbarawa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.