Setelah kelelahan panjang, kita sering ingin segera kembali seperti dulu. Namun bagaimana jika cara hidup yang lama justru ikut membawa kita sampai ke burnout?
Ada masa ketika seseorang mampu bekerja sampai malam, menjawab pesan kapan saja, menerima tugas tambahan, lalu kembali bekerja keesokan paginya. Ketika burnout datang, kemampuan itu perlahan menghilang. Hal-hal yang dahulu terasa biasa mendadak membutuhkan tenaga yang jauh lebih besar.
Keinginan pertama biasanya mudah dimengerti: ingin pulih dan kembali seperti semula. Kita merindukan versi diri yang produktif, sigap, tahan tekanan, dan seolah selalu mempunyai tenaga cadangan. Namun mungkin ada pertanyaan yang perlu diajukan sebelum berusaha mendapatkannya kembali.
Bagaimana jika sebagian kebiasaan dari versi lama itulah yang perlu ditinggalkan? Jika kita kembali kepada ritme, batas, dan tuntutan yang sama, pemulihan bisa berubah menjadi jeda sementara sebelum kelelahan berikutnya. Pulih tidak selalu berarti mengembalikan semuanya ke kondisi sebelum burnout.
Baca Juga: Perut Terasa Penuh Padahal Makan Tidak Banyak, Kenapa Bisa Begitu?
Burnout Bukan Hadiah, tetapi Bisa Membuat Masalah yang Lama Tak Terlihat Menjadi Terlihat
World Health Organization [WHO] mendefinisikan burn-out sebagai fenomena okupasional akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Ciri-cirinya meliputi kehabisan energi, meningkatnya jarak mental atau sikap negatif terhadap pekerjaan, serta menurunnya efektivitas profesional. WHO secara khusus menempatkannya dalam konteks pekerjaan dan tidak mengklasifikasikannya sebagai kondisi medis.
Jadi, burnout sendiri bukan pengalaman yang perlu dicari demi mendapatkan pelajaran hidup. Kelelahan, sinisme terhadap pekerjaan, dan menurunnya kemampuan bekerja bukan ‘manfaat tersembunyi’. Namun kemunculannya dapat memaksa seseorang melihat pola yang sebelumnya dianggap normal.
Bisa jadi selama bertahun-tahun ia merasa selalu tersedia merupakan tanda profesionalisme. Menolak pekerjaan dianggap mengecewakan orang lain, beristirahat menimbulkan rasa bersalah, sedangkan hari yang tidak produktif terasa seperti kegagalan. Karena masih mampu menjalankannya, pola tersebut tidak pernah benar-benar dipertanyakan.
Persoalannya juga tidak selalu berada pada individu. Riset mengenai intervensi di tempat kerja menunjukkan perubahan pada beban kerja, pengaturan pekerjaan, kontrol terhadap pekerjaan, dukungan sosial, komunikasi, dan dukungan kepemimpinan dapat berperan dalam menurunkan burnout. Sebuah tinjauan terhadap 52 kajian sistematis bahkan menemukan bukti kuat bahwa intervensi pada tingkat organisasi, sendiri maupun bersama intervensi individual, dapat mengurangi burnout.
Ini penting karena pembicaraan mengenai burnout mudah berubah menjadi daftar tugas baru bagi orang yang sudah kelelahan. Tidurlah lebih teratur, belajarlah mengatur waktu, berolahragalah, lakukan meditasi, dan jadilah lebih pandai mengelola stres. Semua dapat membantu dalam konteks tertentu, tetapi tidak akan menyelesaikan beban kerja yang memang tidak realistis atau lingkungan kerja yang terus menghasilkan tekanan.
Baca Juga: Bangun Tidur Setelah Delapan Jam, Kenapa Tubuh Masih Terasa Lelah?
Mungkin yang Perlu Pulih Bukan Hanya Tenaga, tetapi Cara Kita Bekerja
Bayangkan seseorang mengambil cuti dua minggu setelah mengalami burnout. Ia tidur lebih banyak, menjauh dari e-mail, bertemu keluarga, dan perlahan merasa lebih baik. Pada hari pertama kembali bekerja, ia membuka puluhan pesan, kembali menerima semua permintaan, dan bekerja sampai malam seperti sebelumnya.
Secara fisik ia mungkin sudah mendapatkan waktu beristirahat. Namun sistem yang menguras tenaganya belum berubah. Jika pemulihan hanya bertujuan membuat seseorang kembali mampu bertahan dalam kondisi yang sama, kita sedang memperbaiki manusia agar cocok kembali dengan persoalan yang belum diperbaiki.
Sebuah meta-analisis mengenai intervensi organisasi menemukan bahwa perubahan yang menyasar beban kerja dan intervensi yang melibatkan pekerja berkaitan dengan penurunan kelelahan, meskipun kualitas bukti keseluruhannya masih terbatas. Temuan ini kembali menunjukkan bahwa penanganan burnout tidak cukup hanya meminta individu menjadi semakin tangguh menghadapi kondisi yang sama.
Karena itu, masa setelah burnout dapat menjadi waktu untuk memeriksa ulang hal-hal yang sebelumnya dianggap biasa. Apakah setiap pesan memang harus dijawab segera? Apakah semua pekerjaan harus diterima? Apakah nilai diri terlalu lama diukur dari seberapa banyak beban yang mampu ditanggung?
Jawabannya tentu tidak selalu sederhana. Tidak semua orang mempunyai keleluasaan mengurangi pekerjaan, mengubah jam kerja, menolak tugas, atau meninggalkan lingkungan yang melelahkan. Faktor ekonomi, posisi pekerjaan, tanggung jawab keluarga, dan budaya organisasi dapat membuat perubahan yang terlihat sederhana menjadi sangat sulit dilakukan.
Namun penelitian mengenai pemulihan burnout juga memberi alasan untuk melihat tempat kerja sebagai bagian dari proses tersebut. Kajian mengenai intervensi gabungan menemukan bahwa keterlibatan pekerja dalam pengambilan keputusan, meningkatnya kontrol dan dukungan sosial, serta pengurangan sumber stres dapat membantu proses rehabilitasi. Artinya, kembali bekerja tidak semestinya hanya menjadi persoalan apakah seseorang sudah cukup kuat untuk kembali.
Ada kemungkinan versi diri setelah burnout memang tidak akan bekerja persis seperti sebelumnya. Ia mungkin lebih cepat menyadari kelelahan, lebih berhati-hati menerima tanggung jawab, membutuhkan batas yang dahulu tidak pernah dibuat, atau tidak lagi bangga mengatakan dirinya selalu sibuk. Dari luar, perubahan tersebut bahkan dapat terlihat seperti seseorang menjadi "tidak sekuat dulu".
Padahal mungkin ukuran kekuatannya saja yang berubah. Dahulu kuat berarti sanggup menanggung sebanyak mungkin tanpa mengeluh. Setelah mengenali batas diri, kuat bisa berarti mengetahui beban mana yang memang harus ditanggung dan mana yang seharusnya tidak terus dibawa sendirian.
Burnout tidak perlu disyukuri agar kita dapat belajar darinya. Kita juga tidak perlu mengubah penderitaan menjadi cerita indah tentang pertumbuhan. Namun ketika pengalaman itu sudah terjadi, ada informasi yang sayang dilewatkan tentang pekerjaan, lingkungan, batas diri, dan cara kita selama ini memperlakukan tenaga sendiri.
Mungkin pemulihan memang bukan perjalanan pulang menuju diri kita yang lama. Ada bagian yang layak dibawa kembali, tetapi ada pula kebiasaan yang lebih baik ditinggalkan. Sebab setelah burnout, tujuan kita semestinya bukan kembali menjadi orang yang mampu menanggung semuanya, melainkan menjadi orang yang lebih tahu apa yang tidak seharusnya terus ditanggung. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.