Kita sering mengira selera itu bawaan. Seolah sejak awal sudah tahu mana yang disukai dan mana yang dihindari. Padahal, apa yang kita makan hari ini seringkali adalah hasil dari perjalanan yang panjang.
Ada orang yang tidak tahan pedas, ada yang justru merasa makan tanpa sambal terasa kurang. Ada yang tidak suka sayur sejak kecil, lalu tiba-tiba menikmatinya di usia dewasa. Perbedaan ini terlihat sederhana, tapi sebenarnya menyimpan cerita yang lebih dalam.
Selera tidak muncul begitu saja. Ia terbentuk dari kebiasaan, pengalaman, dan lingkungan yang terus berulang. Dan sering, kita baru menyadarinya ketika mencoba sesuatu yang berbeda.
Baca Juga: ‘Katanya Sehat’, Tapi Benarkah Kita Tahu Isinya?
Apa yang Kita Makan Sejak Kecil, Membentuk Banyak Hal
Salah satu faktor paling kuat dalam membentuk selera adalah kebiasaan sejak kecil. Apa yang sering disajikan di rumah, bagaimana cara orang tua mengenalkan makanan, hingga suasana saat makan, semuanya ikut membentuk preferensi.
Anak yang terbiasa makan sayur sejak kecil cenderung lebih mudah menerimanya saat dewasa. Sebaliknya, jika suatu makanan jarang dikenalkan, tubuh dan pikiran cenderung menganggapnya asing. Di titik ini, selera bukan soal suka atau tidak, tapi soal terbiasa atau belum.
Hal ini juga menjelaskan kenapa makanan tertentu terasa ‘aneh’ bagi sebagian orang. Bukan karena rasanya tidak enak, tapi karena tidak ada memori yang terhubung dengannya. Tubuh belum punya referensi untuk menerimanya.
Pengalaman pertama juga berperan besar. Jika seseorang pernah merasa tidak nyaman setelah makan sesuatu, kemungkinan besar ia akan menghindarinya di kemudian hari. Sebaliknya, pengalaman menyenangkan bisa membuat suatu makanan terasa lebih istimewa.
Baca Juga: Makan Cepat, Kenyang Cepat, Lalu Apa yang Tersisa?
Lingkungan dan Tren Ikut Membentuk Selera
Selain kebiasaan, lingkungan sosial juga memengaruhi selera. Apa yang dimakan teman, keluarga, atau lingkungan sekitar sering kali menjadi referensi tanpa disadari. Kita mencoba, lalu perlahan menerima.
Media sosial juga mempercepat proses ini. Makanan yang sering muncul akan terasa lebih menarik, bahkan sebelum benar-benar dicoba. Dari kopi susu, makanan Korea, hingga dessert viral, semuanya menunjukkan bagaimana selera bisa dibentuk oleh paparan.
Di sisi lain, selera juga bisa berubah seiring waktu. Apa yang dulu tidak disukai bisa menjadi favorit, karena ada pengalaman baru yang mengubah cara kita melihatnya. Ini menunjukkan bahwa selera bukan sesuatu yang tetap.
Namun, tak semua perubahan datang dari kebutuhan. Ada juga yang terbentuk karena ingin menyesuaikan diri. Kita mencoba sesuatu karena sedang populer, bukan karena benar-benar ingin.
Di sinilah pentingnya menyadari bahwa selera bukan sekadar preferensi pribadi. Ia adalah hasil dari interaksi antara pengalaman, lingkungan, dan kebiasaan yang terus diulang.
Pada akhirnya, memahami dari mana selera terbentuk bisa membuat kita lebih terbuka. Tidak hanya pada makanan baru, tapi juga pada cara kita melihat pilihan orang lain. Karena apa yang terasa biasa bagi kita, bisa jadi terasa asing bagi orang lain.
Dan mungkin, selera bukan tentang benar atau salah. Ia hanya tentang perjalanan yang berbeda, yang membawa kita pada pilihan yang hari ini terasa paling nyaman. [][Rommy Rimbarawa/KK]
[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]