Di Bandung, satu jajanan bisa ramai luar biasa hanya dalam beberapa minggu. Antrean panjang muncul di mana-mana, media sosial penuh ulasan, lalu tidak lama kemudian orang pindah ke makanan viral berikutnya seperti tidak pernah benar-benar terikat pada yang sebelumnya.
Hal serupa juga mudah ditemukan di Jogja. Kota yang dulu identik dengan pengalaman kuliner khas dan suasana santai itu sekarang ikut dipenuhi gelombang makanan viral yang datang silih berganti dengan sangat cepat.
Menariknya, meski nama dan tampilannya berbeda-beda, banyak orang diam-diam merasa rasa makanan viral sekarang mulai terasa mirip satu sama lain.
Ada yang terlalu manis, terlalu creamy, terlalu penuh topping, atau dibuat dengan formula visual yang hampir sama. Kadang yang berubah hanya warna, nama menu, dan desain kemasannya, sementara pengalaman makannya terasa tidak jauh berbeda.
Fenomena itu sebenarnya bukan kebetulan. Dunia kuliner modern sekarang tidak lagi bergerak hanya berdasarkan rasa, tetapi juga berdasarkan algoritma perhatian.
Mengenai fenomena ini, pakar budaya makanan Profesor Fabio Parasecoli pernah menjelaskan bahwa makanan modern semakin dipengaruhi budaya visual dan konsumsi digital. Dalam era media sosial, makanan bukan cuma soal rasa, tetapi juga soal seberapa cepat menarik perhatian dan mudah dibagikan secara visual. Dan itu perlahan mengubah cara makanan dibuat.
Baca Juga: Lucu Ya, Es Kopi Susu Tetap Ramai, Padahal Banyak Orang Sudah Bilang Bosan
Banyak Makanan Sekarang Dibuat untuk Viral Dulu, Baru Diingat Rasanya Belakangan
Kalau diperhatikan, banyak makanan viral modern punya pola yang hampir serupa. Warna mencolok, topping berlebihan, lelehan keju, saus melimpah, atau bentuk yang langsung menarik perhatian kamera sering menjadi elemen utama. Karena di era TikTok dan Instagram, makanan harus mampu 'berhenti sejenak' di layar orang dalam hitungan detik.
Bandung jadi contoh yang sangat menarik untuk fenomena ini. Kota tersebut memang terkenal sangat cepat melahirkan tren kuliner baru. Namun karena persaingan perhatian begitu tinggi, banyak brand akhirnya memakai formula yang mirip agar lebih mudah diterima pasar digital.
Akibatnya, yang berubah sering kali hanya nama menu, konsep branding, atau bentuk visual. Sementara rasa dasarnya bergerak di area yang aman dan familiar agar mudah disukai banyak orang sekaligus.
Jogja juga mulai mengalami pola serupa, meski dengan karakter yang sedikit berbeda. Kota itu tetap punya kekuatan rasa lokal dan suasana budaya yang khas, tetapi gelombang kuliner viral modern mulai ikut membentuk wajah jajanan kotanya.
Kafe estetik, dessert visual, minuman manis berlapis topping, sampai makanan yang dibuat khusus agar cocok masuk konten media sosial kini tumbuh sangat cepat di berbagai sudut kota. Masalahnya, ketika semua makanan berlomba terasa ‘aman untuk semua orang’, identitas rasa perlahan mulai menipis.
Penulis kuliner dan kritikus makanan Michael Pollan pernah menjelaskan bahwa industri makanan modern cenderung bergerak menuju rasa-rasa yang paling mudah diterima secara massal. Karena itu banyak produk akhirnya terasa familiar satu sama lain meski datang dari brand yang berbeda. Dan media sosial mempercepat kecenderungan itu lebih jauh lagi.
Baca Juga: Kenapa Tempat Makan yang Nggak Enak Bisa Tetap Viral?
Yang Dicari Kadang Bukan Lagi Rasa Baru, Tapi Pengalaman Ikut Tren Bersama
Menariknya, banyak orang sebenarnya sadar bahwa makanan viral sering terasa biasa saja setelah dicoba. Namun fenomena itu tetap terus berjalan dan selalu muncul kembali dengan bentuk berbeda. Karena sering yang dicari bukan sekadar rasa.
Ada pengalaman sosial yang ikut bekerja di balik makanan viral modern. Orang ingin ikut mencoba sesuatu yang sedang ramai, ikut membagikan pengalaman itu, dan merasa menjadi bagian dari percakapan digital yang sedang berlangsung.
Itu sebabnya makanan viral sering bergerak sangat cepat. Ketika terlalu banyak orang sudah mencobanya, sensasi eksklusifnya mulai hilang dan publik bergerak mencari tren berikutnya.
Dalam konsep liquid modernity, Sosiolog Zygmunt Bauman menjelaskan bahwa budaya modern bergerak semakin cepat dan cair, termasuk dalam pola konsumsi manusia. Banyak hal dinikmati bukan karena hubungan jangka panjang, tetapi karena sensasi baru yang terus berganti. Fenomena itu terasa jelas di dunia kuliner hari ini.
Kadang sebuah jajanan viral lebih ramai difoto dibanding benar-benar diingat rasanya beberapa minggu kemudian. Orang datang karena penasaran, mengunggahnya ke media sosial, lalu berpindah lagi ke tempat berikutnya tanpa benar-benar punya keterikatan khusus pada makanannya.
Namun di tengah semua itu, makanan yang benar-benar bertahan biasanya tetap punya satu hal penting: rasa yang membuat orang ingin kembali meski tren sudah lewat. Karena seviral apapun sebuah makanan di internet, pada akhirnya lidah manusia tetap mencari sesuatu yang terasa punya karakter, bukan sekadar ramai sebentar lalu terlupakan. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.