Beberapa tahun lalu, es kopi susu muncul di hampir setiap sudut kota. Sekarang orang mulai mengaku bosan, tapi antrean di kedai kopi tetap jalan seperti biasa.
Fenomena itu sebenarnya agak lucu kalau diperhatikan lebih lama. Banyak orang sudah bilang rasa es kopi susu sekarang 'mirip semua', terlalu manis, atau tak lagi spesial. Namun anehnya, minuman itu tetap dibeli hampir setiap hari.
Di kantor, di kampus, di minimarket, sampai di pinggir jalan, gelas plastik berisi kopi susu dingin masih terus lewat di tangan orang-orang. Kadang bahkan dibeli bukan karena ingin kopi, tapi karena rasanya sudah terasa akrab. Es kopi susu akhirnya berubah dari tren jadi kebiasaan.
Penulis sekaligus pengamat budaya kopi Michael Pollan dalam Caffeine: How Caffeine Created the Modern World [2020] menjelaskan bahwa kopi sejak lama bukan hanya soal rasa, tetapi bagian dari ritme sosial manusia modern. Orang minum kopi bukan semata mencari nikmatnya, melainkan karena kopi membantu membentuk pola hidup sehari-hari.
Mungkin itu sebabnya es kopi susu tetap bertahan bahkan ketika orang mulai bosan membicarakannya.
Baca Juga: Kenapa Tempat Makan yang Nggak Enak Bisa Tetap Viral?
Banyak Orang Datang Bukan untuk Kopinya, Tapi untuk Rutinitasnya
Kalau diperhatikan, sebagian besar orang sebenarnya sudah tahu rasa es kopi susu tidak terlalu jauh berbeda antar kedai. Ada yang lebih creamy, ada yang lebih pahit sedikit, tapi secara umum tetap berada di rasa yang aman dan mudah diterima. Justru karena itulah minuman ini terus bertahan.
Es kopi susu tidak menuntut banyak hal. Rasanya familiar, gampang diminum sambil kerja, cocok buat nongkrong, dan tidak bikin orang harus berpikir terlalu jauh saat memilih menu. Di tengah hidup yang makin ribet, pilihan sederhana terasa jauh lebih nyaman.
Fenomena itu mirip seperti orang yang tetap makan menu favorit yang sama meski sudah hafal rasanya di luar kepala.
Dalam The McDonaldization of Society [1993], Sosiolog George Ritzer pernah menjelaskan bahwa manusia modern cenderung menyukai sesuatu yang cepat, konsisten, dan mudah diprediksi. Pola itu juga terlihat dalam budaya kopi hari ini. Banyak orang tidak lagi mencari pengalaman rasa yang rumit, tapi minuman yang terasa aman untuk menemani rutinitas harian. Karena itu, es kopi susu akhirnya lebih dekat kepada kebiasaan daripada sekadar tren kuliner.
Baca Juga: Sekarang Banyak Tempat Makan Kasih Batas Waktu Duduk, Sejak Kapan Nongkrong Jadi Dikejar Waktu?
Di Tengah Banyak Tren Baru, Orang Tetap Kembali ke Hal yang Sudah Familiar
Setiap bulan sebenarnya selalu ada minuman baru. Matcha, mocktail, kopi literan, susu kurma, sampai berbagai menu musiman terus bermunculan di media sosial. Namun tidak semuanya berhasil bertahan lama. Es kopi susu justru tetap hidup karena posisinya sudah berubah menjadi bagian dari gaya hidup urban sehari-hari.
Ada orang yang membeli sebelum masuk kantor. Ada yang menjadikannya alasan keluar sebentar dari meja kerja. Ada juga yang sebenarnya cuma ingin duduk sebentar sambil pegang minuman dingin setelah hari terasa panjang dan panas. Inilah letak menariknya.
Es kopi susu mungkin memang sudah tidak lagi terasa spesial. Orang bahkan mulai bercanda soal betapa banyaknya kedai kopi dengan menu yang nyaris sama. Tapi justru karena terlalu sering hadir, minuman itu akhirnya terasa seperti bagian normal dari kehidupan kota.
Dan mungkin memang begitu cara sebuah tren bertahan paling lama. Bukan dengan terus terasa baru, melainkan dengan perlahan berubah menjadi rutinitas yang tidak lagi dipikirkan, tapi tetap dicari hampir setiap hari. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.