Tempat makan sekarang tidak selalu ramai karena rasanya enak. Kadang, yang dicari orang justru pengalaman datang ke tempat yang sedang ramai dibicarakan.
Fenomena ini semakin sering terlihat di banyak kota. Ada tempat makan dengan antrean panjang, ulasan media sosial sangat ramai, tetapi setelah dicoba, sebagian orang justru merasa rasanya biasa saja. Bahkan tidak sedikit yang diam-diam kecewa, meski tetap mengunggah foto dan video dari tempat tersebut.
Menariknya, kondisi seperti itu tidak membuat tempat makan langsung sepi. Banyak yang tetap dipenuhi pengunjung karena viralitas bekerja dengan cara yang berbeda dibanding rasa makanan itu sendiri.
Sekarang, makanan bukan lagi sekadar soal kenyang atau enak. Ada unsur visual, suasana, dan pengalaman sosial yang ikut menentukan apakah sebuah tempat akan ramai atau tidak.
Profesor pemasaran Jonah Berger dalam Contagious: Why Things Catch On [2013] menjelaskan bahwa manusia cenderung membagikan sesuatu yang membuat mereka merasa terhubung dengan tren sosial tertentu. Karena itu, sesuatu bisa cepat viral bukan selalu karena kualitasnya paling baik, tetapi karena banyak orang merasa perlu ikut membicarakannya.
Hal itu terlihat jelas dalam budaya kuliner sekarang. Ketika sebuah tempat mulai ramai di media sosial, rasa penasaran publik ikut bergerak jauh lebih cepat dibanding penilaian soal rasa makanannya sendiri.
Baca Juga: Sekarang Banyak Tempat Makan Kasih Batas Waktu Duduk, Sejak Kapan Nongkrong Jadi Dikejar Waktu?
Banyak Orang Datang karena Viralitasnya, Bukan Karena Sudah Percaya Rasanya
Di era media sosial, keputusan memilih tempat makan sering dipengaruhi tampilan visual lebih dulu. Foto makanan yang menarik, antrean panjang, desain tempat yang estetik, dan video ulasan singkat bisa membuat sebuah tempat langsung ramai dalam waktu cepat.
Akibatnya, pengalaman datang ke tempat viral kadang terasa lebih penting dibanding makanannya sendiri. Banyak orang ingin mencoba karena tidak ingin tertinggal dari percakapan yang sedang ramai.
Dalam Influence: The Psychology of Persuasion [1984], psikolog sosial Robert Cialdini menjelaskan bahwa manusia sangat mudah terpengaruh oleh social proof. Ketika banyak orang terlihat datang ke satu tempat, orang lain cenderung menganggap tempat itu memang layak dicoba.
Fenomena tersebut membuat keramaian bisa menciptakan keramaian baru. Semakin viral sebuah tempat makan, semakin banyak orang penasaran meski belum benar-benar tahu kualitas makanannya seperti apa.
Andai kita perhatikan, kondisi ini cukup dekat dengan perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan sekarang. Banyak orang makan sambil memikirkan foto, video, dan konten yang akan diunggah setelahnya. Kadang makanan hanya menjadi pintu masuk untuk pengalaman sosial yang lebih besar. Orang datang untuk merasakan suasana yang sama seperti yang mereka lihat di internet.
Baca Juga: Kita Sudah Coba Banyak Tempat Makan, Tapi Selalu Kembali ke yang Itu Lagi
Tempat Makan Sekarang Tidak Hanya Menjual Rasa, Tapi Juga Pengalaman
Perubahan budaya kuliner membuat banyak pemilik usaha mulai memahami bahwa rasa enak saja kadang tidak cukup untuk membuat tempat ramai. Visual, desain ruangan, pencahayaan, dan kemudahan dijadikan konten ikut menjadi bagian penting dari strategi bisnis.
Itu sebabnya ada tempat makan yang sederhana secara rasa, tetapi sangat kuat secara pengalaman visual dan media sosial. Orang mungkin tidak datang dua kali untuk makanannya, tetapi tetap datang sekali karena penasaran terhadap viralitasnya.
Profesor sosiologi Zygmunt Bauman dalam Consuming Life [2007] menjelaskan bahwa masyarakat modern semakin sering mengonsumsi pengalaman, bukan hanya barang atau kebutuhan dasar. Hal itu membuat banyak aktivitas sehari-hari, termasuk makan, berubah menjadi bagian dari identitas sosial dan budaya digital.
Bukan berarti semua tempat viral pasti tidak enak. Banyak juga tempat makan yang memang punya kualitas rasa bagus sekaligus ramai di internet. Namun sekarang, viralitas memang punya kekuatan besar untuk membentuk persepsi publik bahkan sebelum seseorang benar-benar mencicipi makanannya sendiri.
Mungkin itu sebabnya tempat makan yang rasanya biasa saja tetap bisa penuh setiap hari. Bukan karena lidah manusia berubah, tetapi karena cara manusia menikmati makanan sudah ikut berubah bersama budaya digital yang semakin haus pengalaman baru. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.