Kemacetan sering dituding sebagai penyebab kota terasa sesak. Padahal, ada perubahan lain yang pelan-pelan membuat ruang hidup semakin sempit tanpa banyak disadari.
Banyak orang mengaitkan rasa sesak di kota dengan jumlah kendaraan yang terus bertambah. Jalan dipenuhi mobil dan sepeda motor, klakson bersahut-sahutan, sementara waktu tempuh semakin panjang. Semua itu memang menjadi bagian dari wajah kota modern. Namun, jika diperhatikan lebih saksama, rasa sesak yang dirasakan banyak orang ternyata tidak selalu berasal dari kemacetan.
Coba ingat kembali bagaimana sebuah lingkungan berubah dalam beberapa tahun terakhir. Pohon-pohon yang dulu memberi keteduhan mulai berkurang, lahan kosong berganti menjadi bangunan, dan ruang terbuka semakin sulit ditemukan. Kota memang tampak semakin berkembang, tetapi pada saat yang sama, ruang untuk bernapas terasa semakin menyempit. Sesak yang kita rasakan bukan hanya karena kendaraan, melainkan karena lingkungan perlahan kehilangan keseimbangannya.
Ada kota yang lalu lintasnya tidak terlalu padat, tetapi tetap terasa panas dan melelahkan. Ada pula kawasan yang relatif lancar, namun orang enggan berjalan kaki karena minim pepohonan dan trotoar yang nyaman. Hal-hal seperti ini menunjukkan bahwa kualitas sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh kelancaran arus kendaraan, tetapi juga oleh bagaimana ruang hidup dirancang untuk manusia.
Baca Juga: Ketika Panas Bukan Lagi Sekadar Musim
Kota Menjadi Padat Ketika Ruang untuk Manusia Mulai Berkurang
Pertumbuhan kota memang tidak dapat dihindari. Jumlah penduduk bertambah, kebutuhan tempat tinggal meningkat, dan pembangunan terus berjalan. Persoalannya muncul ketika hampir setiap ruang kosong dipandang sebagai lahan yang harus dimanfaatkan untuk bangunan, sementara ruang hijau justru dianggap sebagai pelengkap.
Padahal, pepohonan, taman, dan ruang terbuka bukan sekadar elemen pemanis kota. Keberadaannya membantu menurunkan suhu lingkungan, menyerap air hujan, memperbaiki kualitas udara, sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk berinteraksi. Ketika ruang-ruang itu terus berkurang, kota kehilangan kemampuan alaminya untuk menjaga kenyamanan.
Fenomena ini juga berkaitan dengan apa yang dikenal sebagai urban heat island, yaitu kondisi ketika kawasan perkotaan memiliki suhu yang lebih tinggi dibanding wilayah sekitarnya. Beton, aspal, dan bangunan menyerap panas lebih banyak daripada tanah atau vegetasi. Akibatnya, panas bertahan lebih lama, terutama pada sore hingga malam hari. Tanpa disadari, yang membuat kota terasa sesak bukan hanya banyaknya kendaraan, tetapi juga lingkungan yang semakin didominasi permukaan keras dan minim ruang hijau.
Baca Juga: Ketika Musim Tak Lagi Datang Tepat Waktu
Kota yang Nyaman Tidak Hanya Dibangun untuk Kendaraan
Selama bertahun-tahun, pembangunan kota sering berfokus pada kelancaran arus lalu lintas. Jalan diperlebar, persimpangan diperbaiki, dan akses kendaraan terus ditingkatkan. Upaya tersebut memang penting, tetapi kota pada dasarnya dibangun bukan hanya untuk kendaraan, melainkan untuk manusia yang hidup di dalamnya.
Kota yang nyaman adalah kota yang memberi kesempatan bagi warganya untuk berjalan kaki dengan aman, berteduh di bawah pepohonan, menikmati taman, atau sekadar menghirup udara yang lebih segar. Ketika ruang publik semakin sedikit, hubungan manusia dengan lingkungannya pun ikut berubah. Orang lebih memilih berada di dalam ruangan berpendingin udara daripada menikmati ruang terbuka yang panas dan gersang.
Barangkali, rasa sesak yang sering kita keluhkan bukan semata-mata karena jumlah kendaraan yang terus bertambah. Bisa jadi, kota sedang kehilangan ruang yang selama ini membuatnya terasa hidup. Sebab, sebuah kota tidak hanya membutuhkan jalan yang lebar, tetapi juga pohon yang rindang, udara yang bersih, dan ruang terbuka yang mengingatkan bahwa kota dibangun untuk manusia, bukan hanya untuk lalu lintas. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.