Seorang anak mungkin masih mengenali bahasa neneknya. Ia memahami beberapa kata, tetapi tidak lagi mampu menjawab. Perlahan, percakapan antargenerasi kehilangan bahasa yang pernah menyatukannya.
Bahasa daerah sering dibicarakan sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan. Namun, perhatian biasanya tertuju pada jumlah bahasa yang terancam punah, seolah persoalannya hanya berkaitan dengan berkurangnya kosakata atau hilangnya sebuah sistem komunikasi. Padahal, ketika suatu bahasa berhenti diwariskan, masyarakat juga berisiko kehilangan cara tertentu untuk menyimpan ingatan, memahami lingkungan, dan membangun hubungan.
Di Indonesia, persoalan tersebut bukan sekadar kekhawatiran tentang masa depan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, melalui publikasi pada Oktober 2026, menyebutkan bahwa sedikitnya 11 bahasa daerah telah dinyatakan punah, sementara sejumlah bahasa lainnya berada dalam kondisi terancam hingga kritis. Angka tersebut mengingatkan bahwa keberagaman bahasa tidak otomatis menjamin kelangsungan hidup setiap bahasa.
Baca Juga: Ketika Semua Bisa Didokumentasikan, Mengapa Ada Pengalaman yang Justru Lebih Baik Tidak Direkam?
Ketika Sebuah Bahasa Pergi, Pengetahuan Apa yang Tertinggal?
Bahasa tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan informasi. Di dalamnya tersimpan nama tumbuhan, cara membaca musim, istilah hubungan kekerabatan, ungkapan adat, hingga pengetahuan mengenai tempat yang diwariskan melalui percakapan sehari-hari. Sebagian pengetahuan itu dapat diterjemahkan, tetapi nuansa dan hubungan budaya yang menyertainya belum tentu sepenuhnya berpindah.
Antropolog dan etnobotanis Wade Davis mengangkat persoalan tersebut dalam diskusi mengenai bahasa masyarakat adat yang diberitakan Canadian Geographic pada 2019. Ia menggambarkan hilangnya sebuah bahasa sebagai hilangnya satu cabang dari pohon pengetahuan manusia. Pandangan itu menempatkan bahasa bukan sekadar identitas kelompok, melainkan bagian dari kekayaan pengetahuan yang dimiliki umat manusia.
Perspektif Davis berkaitan erat dengan pekerjaannya mempelajari hubungan masyarakat adat dengan lingkungan alam. Nama tumbuhan, pemanfaatan bahan alam, dan pengetahuan mengenai ekosistem sering diwariskan melalui bahasa yang digunakan komunitas setempat. Ketika bahasa tersebut kehilangan penutur, sebagian pengetahuan masih mungkin diselamatkan melalui dokumentasi, tetapi hubungan antara pengetahuan dan praktik kesehariannya dapat melemah.
Dalam artikel Vanishing Voices yang diterbitkan National Geographic pada Juli 2012, Russ Rymer memperlihatkan bagaimana bahasa-bahasa di berbagai wilayah dunia memiliki cara berbeda dalam mengelompokkan pengalaman. Masyarakat penggembala rusa di Siberia, misalnya, mempunyai kosakata terperinci untuk membedakan karakteristik rusa yang penting bagi kehidupan mereka. Kekayaan istilah tersebut mencerminkan kebutuhan dan pengetahuan yang tumbuh dari lingkungan tertentu.
Hal serupa dapat ditemukan dalam kebudayaan Indonesia. Bahasa daerah menjadi tempat hidupnya pantun, peribahasa, cerita rakyat, dan ungkapan yang memperoleh makna melalui pengalaman bersama. Sebuah nasihat yang diterjemahkan ke bahasa lain mungkin masih menyampaikan pesan dasarnya, tetapi permainan bunyi, konteks sosial, atau kedekatan emosionalnya bisa berubah.
Kehilangan bahasa juga berarti berkurangnya kesempatan untuk memahami bagaimana suatu masyarakat memandang dunia. Tidak semua bahasa membagi pengalaman, hubungan keluarga, atau lingkungan dengan kategori yang persis sama. Keberagaman tersebut penting bukan karena satu bahasa lebih unggul daripada bahasa lain, melainkan karena setiap bahasa menawarkan bahan untuk memahami keragaman kehidupan manusia.
Baca Juga: Kenapa Kita Masih Menyimpan Benda-benda Kecil yang Sebenarnya Tidak Berguna?
Mengapa Bahasa Bisa Hilang meskipun Penuturnya Masih Ada?
Kepunahan bahasa biasanya tidak berlangsung dalam satu malam. Prosesnya dapat dimulai ketika anak-anak semakin jarang menggunakan bahasa orang tua, lalu hanya memahami sebagian ungkapan tanpa mampu berbicara dengan lancar. Ketika generasi berikutnya tidak lagi mempelajarinya, bahasa tersebut kehilangan kesempatan untuk terus hidup dalam percakapan sehari-hari.
Ahli bahasa E. Aminudin Aziz membahas persoalan ini dalam tulisan Bahasa Daerah dalam Impitan Zaman yang diterbitkan melalui laman resmi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa pada Februari 2023. Ia mengutip hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 yang menunjukkan bahwa 73,87 persen keluarga Indonesia masih menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi keluarga. Namun, penggunaannya di kalangan generasi Z dan generasi Alfa berada pada kisaran 61–62 persen, memperlihatkan adanya perbedaan antargenerasi yang perlu diperhatikan.
Aminudin juga menyoroti perubahan sikap penutur terhadap bahasa daerah di tengah masyarakat multibahasa. Bahasa yang dianggap lebih praktis untuk pendidikan, pekerjaan, atau pergaulan dapat semakin sering dipilih dalam kehidupan sehari-hari. Pergeseran tersebut tidak selalu lahir dari penolakan terhadap budaya sendiri, tetapi juga dari kebutuhan sosial yang dihadapi keluarga.
Karena itu, menyalahkan orang tua yang tidak mengajarkan bahasa daerah kepada anaknya merupakan kesimpulan yang terlalu sederhana. Sebagian keluarga hidup di lingkungan yang menggunakan bahasa berbeda, sementara sebagian lainnya menganggap bahasa nasional lebih membantu anak beradaptasi. Pilihan tersebut perlu dipahami bersama kondisi pendidikan, mobilitas sosial, dan kesempatan menggunakan bahasa daerah di ruang publik.
Kajian sosiolinguistik oleh peneliti Imelda mengenai bahasa Ibu di Maluku Utara, yang diterbitkan dalam Jurnal Masyarakat dan Budaya, memperlihatkan bagaimana pergantian bahasa berlangsung lintas generasi. Penelitiannya mencatat pergeseran dari bahasa Ibu menuju bahasa Ternate, Melayu, dan Indonesia. Kasus tersebut menunjukkan bahwa suatu bahasa dapat kehilangan daya hidup bukan hanya karena penuturnya meninggal, tetapi juga karena generasi muda menggunakan bahasa lain dalam keseharian.
Persoalan berikutnya adalah bagaimana bahasa daerah dapat tetap digunakan tanpa membatasi kesempatan generasi muda menguasai bahasa Indonesia dan bahasa asing. Ketiganya tidak harus ditempatkan sebagai pilihan yang saling meniadakan. Seorang anak dapat mempelajari bahasa yang diperlukan untuk pendidikan sekaligus mempertahankan bahasa yang menghubungkannya dengan keluarga dan komunitas asalnya.
Pelestarian bahasa karena itu tidak cukup dilakukan dengan menyusun kamus atau mengadakan pertunjukan budaya setahun sekali. Dokumentasi penting untuk menyimpan pengetahuan, tetapi keberlangsungan bahasa membutuhkan penutur yang menggunakannya dalam kehidupan nyata. Percakapan di rumah, kegiatan komunitas, karya sastra, musik, serta ruang digital dapat membantu menghadirkan alasan bagi generasi muda untuk terus berbicara dalam bahasa daerah.
Ketika sebuah bahasa kehilangan penutur, tidak berarti seluruh kebudayaan masyarakatnya seketika menghilang. Tradisi dapat berubah bentuk, pengetahuan tertentu dapat diterjemahkan, dan identitas tetap mungkin dipertahankan melalui berbagai cara. Namun, masyarakat kehilangan salah satu jalan yang paling dekat untuk menghubungkan pengalaman generasi sekarang dengan ingatan generasi sebelumnya.
Bahasa daerah tidak hanya membutuhkan orang yang mampu mengingat kata-katanya. Ia membutuhkan orang yang masih memiliki alasan untuk menggunakannya, mengajarkannya, dan mendengarkan orang lain berbicara melaluinya. Sebab yang ikut terancam ketika sebuah bahasa berhenti diwariskan bukan hanya cara manusia berbicara, melainkan juga cara suatu masyarakat mengingat siapa dirinya. [][Liora Maheswari/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.