Hujan berhenti dan udara terasa berbeda. Lebih segar, debu seperti menghilang, dan napas terasa lega. Apakah hujan benar-benar sedang membersihkan udara?
Pengalaman itu begitu akrab sampai kita jarang mempertanyakannya. Setelah hujan cukup lama, langit terkadang terlihat lebih jernih, permukaan daun bersih, dan debu yang biasanya beterbangan tidak begitu terlihat. Kita lalu menyimpulkan udara juga pasti menjadi lebih bersih.
Kesimpulan tersebut ada benarnya, tetapi tidak berlaku untuk setiap hujan dan setiap jenis polutan. Air hujan memang dapat membawa sebagian partikel dan zat pencemar keluar dari atmosfer melalui proses yang disebut wet deposition atau deposisi basah. Namun seberapa besar efeknya bergantung pada jenis polutan, ukuran partikel, kondisi udara sebelumnya, karakter hujan, serta perubahan cuaca yang menyertainya.
Artinya, hujan bukan tombol reset untuk kualitas udara. Kadang ia benar-benar membantu membersihkannya. Pada keadaan lain, perubahan yang terjadi jauh lebih kecil daripada kesan segar yang kita rasakan.
Baca Juga: Kalau Aspal dan Beton Bisa Menyerap Air, Apakah Kota Bisa Lebih Bersahabat dengan Hujan?
Ketika Tetes Air Membawa Partikel Turun
Bayangkan udara kota dipenuhi partikel dengan berbagai ukuran. Ketika hujan turun, tetesan air dapat bertumbukan dengan sebagian partikel tersebut dan membawanya menuju permukaan. Mekanisme penghilangan partikel oleh presipitasi inilah yang membuat konsentrasi polutan tertentu dapat turun selama dan setelah hujan.
Tetapi partikel tidak semuanya sama mudah 'dicuci'. Penelitian selama sekitar tujuh tahun di Seoul yang diterbitkan pada 2026 menemukan partikel kasar PM2.5–10 lebih efektif dibersihkan oleh hujan dibandingkan PM2.5 yang lebih halus. Efek pembersihannya juga meningkat ketika jumlah hujan bertambah.
Menariknya, hujan yang lebih deras belum tentu selalu menjadi pembersih terbaik. Penelitian Seoul tersebut menemukan durasi hujan mempunyai pengaruh lebih besar terhadap proses pembersihan partikel dibandingkan intensitasnya. Untuk jumlah curah hujan yang sebanding, hujan bertipe stratiform yang lebih lama dan lebih ringan bahkan menunjukkan efisiensi pembersihan lebih tinggi dibandingkan hujan konvektif yang lebih singkat dan deras.
Temuan dari León, Spanyol, juga menunjukkan hujan yang berlangsung lama dan terus-menerus dapat mendukung proses scavenging aerosol. Sementara itu, karakter fisik tetesan air serta sifat kimia partikel ikut menentukan seberapa efektif suatu zat dikeluarkan dari atmosfer. Jadi ungkapan 'hujan membersihkan udara' sebenarnya merangkum proses yang jauh lebih rumit.
Ada alasan lain mengapa lingkungan terasa lebih bersih setelah hujan. Permukaan jalan, atap, tanaman, dan benda-benda lain menjadi basah sehingga debu yang sebelumnya mudah terangkat kembali ke udara dapat tertahan sementara. Udara yang lebih sejuk dan perubahan angin setelah hujan juga dapat mengubah sensasi yang kita rasakan ketika berada di luar.
Baca Juga: Saat Tanah Kota Dipenuhi Beton dan Aspal, ke Mana Air Hujan akan Mengalir?
Hujan Tidak Selalu Berarti Udara Menjadi Lebih Baik
Bagian inilah yang sering luput. Hujan sangat ringan atau berlangsung terlalu singkat belum tentu cukup untuk mengurangi partikel halus secara berarti. Bahkan penelitian terbaru memperlihatkan bahwa dalam kondisi tertentu konsentrasi aerosol dapat meningkat ketika hujan turun.
Studi terhadap 146 peristiwa hujan di kawasan subtropis dekat pesisir menemukan hujan ringan rata-rata justru meningkatkan beban aerosol sekitar 6,1 persen pada lokasi penelitian tersebut. Para peneliti juga menemukan pengaruh hujan bergantung pada kondisi polusi sebelumnya dan ukuran partikel, sehingga presipitasi dapat bertindak sebagai pembersih pada suatu keadaan tetapi mempunyai efek berbeda pada keadaan lainnya.
Fenomena serupa diamati di lingkungan perkotaan Kolkata. Hujan singkat hanya menghilangkan sebagian kecil PM2.5, sementara penurunan kecepatan angin dan kemampuan atmosfer menyebarkan polutan membuat emisi lokal dari sumber seperti lalu lintas dapat kembali terakumulasi. Dalam kondisi tersebut, konsentrasi PM2.5 setelah hujan justru dapat meningkat.
Maka udara yang terasa segar tidak dapat digunakan sebagai alat ukur kualitas udara. Hidung dan kulit kita menangkap temperatur, kelembapan, aroma, angin, dan berbagai perubahan lingkungan sekaligus. Sensor kualitas udara, sebaliknya, mengukur konsentrasi polutan tertentu yang tidak selalu dapat kita rasakan secara langsung.
Ini juga menjelaskan mengapa hujan tidak dapat menggantikan pengendalian sumber pencemaran. Selama kendaraan, industri, pembakaran, debu konstruksi, atau sumber lain terus menghasilkan emisi, efek pembersihan oleh hujan dapat bersifat sementara. Setelah hujan berhenti, polutan baru tetap dapat kembali memasuki atmosfer.
Ada sesuatu yang menarik dari kenyataan tersebut. Hujan memang dapat menjadi bagian dari mekanisme alam yang memindahkan pencemar dari udara menuju permukaan, tetapi ia tidak membuat pencemaran lenyap begitu saja. Sebagian materi yang turun bersama air kemudian berada di tanah, permukaan bangunan, saluran air, atau lingkungan lain.
Jadi ketika udara setelah hujan terasa lebih bersih, perasaan kita tidak sepenuhnya keliru. Hujan yang cukup dapat benar-benar menurunkan konsentrasi sejumlah partikel di udara, terutama ketika kondisi presipitasinya mendukung proses tersebut. Namun satu hujan tidak menjamin seluruh polutan telah hilang, apalagi memastikan udara otomatis sehat untuk dihirup.
Barangkali itu sebabnya suasana setelah hujan terasa begitu melegakan. Kota seolah baru saja dicuci dan debu yang biasanya mengambang untuk sementara ikut turun. Hanya saja, jika kita ingin udara tetap bersih setelah jalanan kembali kering, pekerjaan terbesarnya tetap bukan menunggu hujan berikutnya, melainkan mengurangi pencemaran yang terus kita kirimkan ke udara. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.