Probiotik kita kenal dari makanan. Omega-3 akrab sebagai nutrisi. Ketika keduanya muncul dalam skincare, apakah manfaatnya ikut berpindah bersama namanya?

Perpindahan itu terasa begitu wajar karena kita sudah mempunyai asosiasi sebelumnya. Probiotik mengingatkan pada kesehatan, omega-3 pada nutrisi, teh hijau pada antioksidan. Ketika istilah yang sama muncul pada kosmetik, sebagian reputasinya seperti ikut menempel pada produk yang membawanya.

Padahal tubuh tidak mengenal sebuah bahan hanya berdasarkan reputasinya. Cara bahan dikonsumsi, diproses tubuh, atau diaplikasikan pada permukaan kulit membawa konteks biologis yang berbeda. Pertanyaan dalam kosmetik karena itu bukan sekadar apakah suatu bahan dikenal bermanfaat, tetapi apakah manfaat yang relevan dapat diterjemahkan ke dalam produk yang digunakan pada kulit.

Baca Juga: Ketika Semua yang ‘Baik’ Ingin Kita Masukkan ke Skincare

Nama yang Sama Belum Tentu Membawa Cerita yang Sama

Probiotik merupakan contoh yang menarik. Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. menempatkan prebiotic, probiotic, dan postbiotic sebagai strategi biologis yang berbeda, bukan tiga istilah yang dapat dipertukarkan begitu saja. Perbedaan itu juga membawa konsekuensi terhadap cara bahan diformulasikan, diuji, dan akhirnya diklaim dalam sebuah produk. 

Hal tersebut penting karena kata ‘probiotik’ sudah lebih dahulu mempunyai tempat dalam percakapan tentang makanan dan kesehatan. Ketika berpindah ke skincare, istilah itu mudah membawa kesan familiar bahwa mikroorganisme tertentu tinggal ditambahkan untuk memberikan sesuatu yang ‘baik’ bagi kulit. Kenyataannya, pendekatan terhadap skin microbiome jauh lebih kompleks daripada membagi mikroorganisme menjadi bakteri baik dan buruk.

Menurut Prof. Keri, microbiome merupakan bagian dari ekosistem kulit yang terus berinteraksi dengan skin barrier, pH, sebum, hidrasi, respons imun, biologi tubuh, dan lingkungan. Karena itu, produk yang mengandung prebiotic atau postbiotic pun belum otomatis dapat disebut microbiome-friendly. Perubahan pada komunitas mikroba juga belum dengan sendirinya berarti manfaat klinis bagi kulit. 

Di sini terlihat perbedaan antara membawa sebuah istilah dan membawa bukti di belakang istilah tersebut. Nama bahan mungkin sudah dikenal konsumen jauh sebelum masuk ke rak kosmetik. Namun ketika konteks penggunaannya berubah, pertanyaan ilmiahnya perlu dimulai lagi.

Baca Juga: Kita Terbiasa Mencari Bahan yang Baik untuk Kulit, Tapi Bagaimana Kalau Kulit Tidak Bekerja Sesederhana Itu?

Omega-3 Tidak Cukup Hanya Dikenal sebagai Lemak yang Baik

Hal serupa terlihat pada minyak ikan. Selama ini minyak ikan lebih mudah dikenali sebagai sumber nutrisi, tetapi secara ilmu kosmetik ia menarik karena mengandung berbagai asam lemak, termasuk omega-3 seperti EPA dan DHA, serta komponen lipid lain yang memiliki relevansi biologis terhadap fungsi kulit. 

Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si. bersama Kamini, M.Si. dan tim meneliti pengembangan minyak ikan sebagai bahan bernilai tinggi untuk inovasi kosmetik. Namun perjalanan tersebut tidak berhenti pada kesimpulan bahwa omega-3 ‘baik untuk kulit’. Minyak harus melewati ekstraksi dan pemurnian, karakterisasi kualitas dan profil asam lemak, pemeriksaan oksidasi, kompatibilitas formulasi, stabilitas, keamanan, hingga pengujian yang relevan sebelum dapat dibaca sebagai bahan kosmetik dan produk jadi. 

Di tahap formulasi, persoalannya bahkan semakin konkret. Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. melihat minyak ikan harus dapat hidup bersama emollient, surfactant, emulsifier, antioksidan, pengawet, pewangi, pengatur reologi, dan sistem kemasan. Konsentrasi saja tidak cukup karena homogenitas, aroma, pH, oksidasi, stabilitas, viskositas, penerimaan sensoris, dan pengujian produk jadi juga harus diperhatikan. 

Riset tersebut bahkan telah bergerak menuju pengembangan serum minyak ikan patin. Prototipe serum menggunakan minyak ikan patin sebesar 5 persen dan karakterisasi awal menunjukkan sediaan homogen dengan pH 6–7. Namun hasil itu masih dibaca sebagai kelayakan formulasi awal yang perlu dilanjutkan dengan pengujian mutu dan stabilitas, bukan sebagai bukti bahwa manfaat klinis tertentu pada kulit sudah terbukti. 

Di sinilah tren makanan yang berpindah ke kosmetik menjadi menarik. Konsumen datang membawa pengetahuan lama tentang suatu bahan, sementara ilmu formulasi harus memulai serangkaian pertanyaan baru. Omega-3 yang mempunyai hubungan biologis dengan jalur inflamasi, misalnya, tidak otomatis membuat setiap produk kosmetik yang mengandung minyak ikan dapat mengklaim manfaat antiinflamasi. 

Mungkin karena itu bahan yang sudah terkenal dari dunia makanan mempunyai keuntungan besar ketika memasuki dunia kecantikan. Kita tidak perlu diperkenalkan lagi pada namanya. Familiaritas membuat cerita produknya lebih mudah dipahami, bahkan sebelum kita mengetahui bagaimana bahan tersebut sebenarnya bekerja ketika ditempatkan dalam formula.

Namun familiar bukan berarti bukti keduanya dapat dipertukarkan. Probiotik yang kita bayangkan dari makanan fermentasi tidak otomatis menjelaskan probiotic skincare, sebagaimana reputasi omega-3 sebagai nutrisi tidak otomatis membuktikan kinerja serum yang mengandung minyak ikan. Setiap perpindahan dari makanan menuju kosmetik membutuhkan penerjemahan biologis sekaligus formulasi.

Jadi ketika tren berikutnya dari meja makan masuk ke rak skincare, mungkin pertanyaan pertama kita tidak perlu “bukankah bahan ini memang bagus?”. Pertanyaan yang lebih menarik justru: “bagus dalam konteks apa, bekerja melalui cara apa, dan apakah manfaat tersebut masih dapat dibuktikan setelah ia berubah menjadi produk yang kita oleskan ke kulit?” [][Eva Evilia/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.