Sepuluh pohon bisa hilang dalam waktu singkat. Namun keteduhan yang dibangunnya selama bertahun-tahun tidak dapat dikembalikan dalam waktu yang sama.
Akhir Juli 2026, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan marah besar ketika mendapati 10 pohon peneduh di trotoar Jalan LLRE Martadinata [Jalan Riau], tepatnya di sekitar simpang Jalan Cihapit, telah ditebang tanpa izin. Lokasi itu kemudian disegel, sementara kasus penebangan tersebut berlanjut dengan penyelidikan dan sanksi.
Foto sebelum dan sesudah penebangan memperlihatkan perubahan yang mudah dikenali. Trotoar yang sebelumnya dinaungi pepohonan berubah menjadi ruang terbuka yang langsung berhadapan dengan matahari. Namun sebenarnya, apakah yang hilang dari sebuah kota ketika pohon-pohon seperti itu menghilang?
Jika jawabannya hanya ‘tempat berteduh’, kita sedang melihat pohon terlalu sederhana. Di tengah jalan, bangunan, beton, dan aspal, pohon bekerja sebagai bagian dari infrastruktur lingkungan kota. Ia mengatur panas, berinteraksi dengan air hujan, menyediakan habitat, memengaruhi kualitas udara, sekaligus menentukan bagaimana manusia mengalami ruang di sekitarnya.
Baca Juga: Lampu Kota Membuat Malam Terang, Tapi Apa yang Hilang ketika Gelap Menghilang?
Ketika Satu Pohon Hilang, yang Hilang Bukan Hanya Bayangannya
Pohon memang memberikan keteduhan, tetapi efeknya tidak berhenti pada bayangan di trotoar. Pepohonan dan vegetasi membantu menurunkan suhu permukaan dan udara melalui naungan serta evapotranspiration, proses ketika air yang diserap akar dilepaskan kembali melalui daun dan menghasilkan efek pendinginan. U.S. Environmental Protection Agency [EPA] merangkum kajian terhadap 308 penelitian yang menemukan kawasan hutan kota rata-rata sekitar 1,6 derajat Celsius lebih sejuk dibandingkan kawasan perkotaan tanpa ruang hijau.
Pohon juga bekerja ketika hujan turun. Daun dan batang menahan sebagian air sebelum mencapai permukaan, sementara akar dan tanah di sekitarnya membantu menyimpan air sehingga tidak semuanya langsung menjadi limpasan. EPA memperkirakan pohon kota dapat membantu menyerap sekitar 15–27 persen curah hujan tahunan sebagai bagian dari pengelolaan air hujan.
Lalu ada pekerjaan yang lebih sulit kita lihat ketika sedang berjalan di bawahnya. Sebagian polutan udara dapat tertahan pada permukaan daun, sementara pohon juga menyimpan karbon dan menyediakan tempat hidup maupun sumber makanan bagi burung, serangga penyerbuk, serta berbagai satwa kota. Semua fungsi itu berlangsung bersamaan meskipun orang yang lewat mungkin hanya mengenal pohon sebagai tempat berhenti sebentar ketika matahari terlalu terik.
Itulah sebabnya mengganti pohon dewasa dengan bibit baru bukan pertukaran yang berlangsung seketika. Pohon muda memang dapat menjadi investasi ekologis untuk masa depan, tetapi ukuran kanopi sangat menentukan fungsi yang dapat diberikannya sekarang. Dokumen teknis EPA mengenai pohon dan pengelolaan air hujan bahkan mencatat bahwa pohon yang lebih besar memberikan manfaat pengendalian limpasan yang jauh lebih besar dibandingkan pohon berukuran kecil. US EPA
Kasus Jalan Riau memperlihatkan persoalan tersebut dengan jelas. Sanksi yang diumumkan Pemkot Bandung mencakup denda Rp10 juta untuk setiap pohon dan kewajiban menyediakan 100 bibit pengganti per pohon. Bibit-bibit itu tentu mempunyai nilai, tetapi mereka tetap membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun kanopi dan fungsi ekologis yang sebelumnya diberikan pohon dewasa.
Baca Juga: Kenapa Udara Setelah Hujan Terasa Lebih Bersih, Apakah Memang Benar-benar Lebih Bersih?
Kota yang Teduh Tidak Terjadi dengan Sendirinya
Ada sesuatu yang menarik dari keberadaan pohon kota: ketika masih berdiri, kita hampir tidak menyadari pekerjaannya. Kita baru merasakan perbedaannya ketika berjalan pada siang hari dan mendapati ruas yang biasanya teduh menjadi panas. Infrastruktur hidup sering bekerja dengan cara seperti itu—diam-diam, sampai fungsinya hilang.
Keteduhan juga bukan sekadar persoalan kenyamanan. Trotoar yang teduh memberi kondisi yang lebih bersahabat bagi orang yang berjalan kaki, menunggu angkutan, berjualan, bersepeda, atau sekadar berhenti sejenak. Ketika naungan menghilang, orang yang mempunyai kendaraan berpendingin udara mungkin hanya melihat perubahan pemandangan, sementara orang yang menjalani kota dengan berjalan kaki merasakannya langsung pada tubuh.
Karena itu, pohon jalan seharusnya tidak ditempatkan sebagai sisa ruang setelah jalan, bangunan, reklame, kabel, dan kepentingan komersial mendapatkan tempat. EPA sendiri menggolongkan pohon jalan sebagai bagian penting dari green infrastructure kota karena fungsinya terhadap panas perkotaan, limpasan air hujan, kualitas udara, penyimpanan karbon, dan lingkungan jalan.
Kasus Bandung jadi semakin menarik karena hasil pemeriksaan pemerintah kota menyebut penebangan dilakukan untuk meningkatkan visibilitas videotron. Izin media promosi tersebut kemudian dibekukan dan videotron disegel. Dengan kata lain, kasus itu mempertemukan dua cara memandang ruang kota: pohon yang tumbuh perlahan untuk memberikan fungsi publik dan ruang visual yang mempunyai nilai komersial.
Konflik seperti ini membuat pertanyaan tentang pohon kota tidak lagi sesederhana “berapa banyak yang kita tanam?”. Kota juga perlu memikirkan pohon mana yang sudah tumbuh, seberapa sehat kondisinya, seberapa luas kanopinya, siapa yang merawatnya, dan bagaimana ia dilindungi ketika berhadapan dengan pembangunan. Menambah jumlah pohon penting, tetapi mempertahankan pohon dewasa yang sehat juga mempunyai nilai yang tidak mudah digantikan.
Kita sering menghitung pembangunan melalui sesuatu yang baru: gedung baru, jalan baru, tempat usaha baru, atau fasilitas baru. Pohon mengajarkan ukuran yang berbeda karena nilainya justru bertambah melalui waktu. Semakin lama ia tumbuh sehat, semakin besar ruang yang dapat dinaungi dan semakin banyak fungsi ekologis yang dapat diberikannya.
Mungkin itu sebabnya sepuluh pohon yang hilang dari sebuah trotoar layak mendapat perhatian lebih besar daripada sekadar perubahan pemandangan. Kita memang dapat menanam kembali pohon setelah sebuah penebangan. Namun, sebuah pohon dapat tumbang dalam hitungan menit, sementara kota harus menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan kembali apa yang ikut hilang bersamanya. [][Rommy Rimbarawa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.