Ketika pengembangan diri menjadi perlombaan pencapaian, penting untuk bertanya apakah kehidupan yang sedang dibangun benar-benar sesuai dengan keinginan dan nilai pribadi.

Seseorang memutuskan melanjutkan pendidikan, mempelajari bahasa asing, mengikuti berbagai pelatihan, dan membangun usaha di luar pekerjaan utamanya. Orang-orang mengagumi semangatnya karena ia tampak terus berkembang, tidak pernah berhenti mencari kesempatan, dan selalu memiliki target baru. Tetapi di tengah begitu banyak pencapaian, ada pertanyaan yang mungkin jarang diajukan kepadanya: apakah semua itu benar-benar membuat hidupnya lebih bermakna?

Aktualisasi diri telah menjadi istilah yang akrab dalam percakapan mengenai pengembangan pribadi. Orang dianjurkan menemukan potensi, keluar dari zona nyaman, mengasah kemampuan, dan mencapai sesuatu yang lebih tinggi daripada keadaan sebelumnya. Pesan tersebut terdengar positif, tetapi sering kali menyimpan anggapan bahwa manusia yang tidak terus menunjukkan kemajuan berarti sedang menyia-nyiakan hidupnya.

Media sosial membuat ukuran perkembangan diri semakin mudah dilihat sekaligus dibandingkan. Ada orang yang memamerkan sertifikat, jabatan, bisnis, perubahan penampilan, atau perjalanan ke berbagai negara sebagai tanda keberhasilan. Semua pencapaian tersebut tentu memiliki nilai, tetapi persoalannya muncul ketika seseorang mulai menggunakan kehidupan orang lain sebagai ukuran bagi hidupnya sendiri.

Baca Juga: Mungkin Kita Tidak Kehilangan Motivasi, Kita Hanya Tidak Mau Kembali ke Cara Lama

Ketika Keinginan Berkembang Tidak Lagi Sepenuhnya Milik Kita

Psikolog Abraham Maslow memperkenalkan aktualisasi diri sebagai bagian dari pembahasannya mengenai motivasi dan kebutuhan manusia. Dalam pemikirannya, aktualisasi diri berkaitan dengan pengembangan kemampuan dan kemungkinan-kemungkinan yang dimiliki seseorang, bukan sekadar memperoleh status atau pengakuan sosial. Konsep tersebut kemudian berkembang dan ditafsirkan secara luas, termasuk dalam berbagai materi motivasi populer yang sering menyederhanakannya menjadi tuntutan untuk mencapai kesuksesan.

Masalahnya, definisi kesuksesan tidak selalu berasal dari orang yang sedang mengejarnya. Seseorang mungkin memilih pekerjaan tertentu karena keluarganya menganggap profesi itu terhormat, sementara orang lain merasa perlu membuka usaha karena melihat teman-temannya berhasil menjadi pengusaha. Keputusan tersebut belum tentu salah, tetapi layak dipertanyakan apabila prosesnya lebih banyak didorong ketakutan dianggap tertinggal daripada keinginan yang sungguh dipahami.

Edward Deci dan Richard Ryan melalui Self-Determination Theory menjelaskan bahwa kesejahteraan psikologis berkaitan dengan terpenuhinya tiga kebutuhan dasar, yakni otonomi, kompetensi, dan keterhubungan dengan orang lain. Otonomi berarti seseorang memiliki pengalaman bahwa tindakannya sejalan dengan pilihan dan nilai yang diyakininya, bukan sekadar mengikuti tekanan. Kompetensi berkaitan dengan kemampuan menghadapi tantangan, sedangkan keterhubungan menyangkut kebutuhan membangun relasi yang bermakna.

Perspektif ini memperlihatkan mengapa pencapaian yang tampak mengesankan belum tentu menghasilkan kepuasan yang mendalam. Seseorang dapat menjadi sangat terampil dan memperoleh pengakuan, tetapi tetap merasa terasing apabila hidupnya terus dikendalikan oleh harapan orang lain. Pertumbuhan pribadi yang sehat membutuhkan lebih dari sekadar peningkatan kemampuan karena manusia juga perlu merasakan kebebasan memilih dan memiliki hubungan yang berarti.

Penelitian Kennon Sheldon dan Andrew Elliot yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology pada 1999 memperkenalkan konsep self-concordance, yakni keselarasan tujuan dengan minat serta nilai inti seseorang. Melalui tiga rangkaian data longitudinal, mereka menemukan bahwa tujuan yang lebih selaras dengan diri cenderung mendorong usaha yang lebih berkelanjutan dan memberikan manfaat lebih besar bagi kesejahteraan ketika berhasil dicapai. Temuan tersebut membantu menjelaskan mengapa mencapai target milik sendiri dapat terasa berbeda dari memenuhi target yang terutama ditentukan lingkungan.

Karena itu, pertanyaan tentang aktualisasi diri tidak cukup dijawab dengan menghitung seberapa banyak keterampilan baru yang telah diperoleh. Seseorang juga perlu memahami alasan di balik pilihan yang dibuatnya, termasuk apakah ia akan tetap menginginkan pencapaian tersebut jika tidak ada orang yang mengetahui atau memujinya. Pertanyaan semacam ini tidak selalu menghasilkan jawaban yang nyaman, tetapi dapat membantu membedakan keinginan bertumbuh dari kebutuhan terus-menerus membuktikan diri.

Baca Juga: Benarkah Kita Sudah Berubah? Lalu Kenapa Kita Masih Mengukur Diri dengan Versi Lama?

Menjadi Diri Sendiri, Tanpa Menjadikan Diri sebagai Pusat Segalanya

Ada perkembangan menarik dalam pemikiran Maslow yang jarang dibicarakan dalam materi pengembangan diri populer. Dalam karya-karya akhirnya, ia mulai memberikan perhatian pada self-transcendence, yaitu orientasi manusia yang melampaui kepentingan diri sendiri. Mark E. Koltko-Rivera, dalam kajian yang diterbitkan pada 2006, menjelaskan bahwa pemikiran Maslow kemudian menempatkan transendensi diri sebagai kemungkinan perkembangan motivasi melampaui aktualisasi diri.

Gagasan tersebut membuka ruang untuk memahami bahwa kemampuan pribadi dapat memiliki makna yang lebih luas ketika terhubung dengan sesuatu di luar kepentingan individual. Seorang guru mungkin mengembangkan keterampilannya bukan hanya untuk meningkatkan karier, tetapi juga agar murid-muridnya memperoleh pengalaman belajar yang lebih baik. Seorang pekerja kreatif dapat memperdalam kemampuannya karena ingin menghasilkan karya yang membantu masyarakat memahami persoalan yang selama ini terabaikan.

Akan tetapi, menjadikan manfaat sosial sebagai satu-satunya ukuran aktualisasi diri juga berisiko menciptakan tekanan baru. Tidak setiap orang memiliki waktu, tenaga, kesempatan, atau sumber daya untuk menghasilkan kontribusi yang besar dan terlihat. Seseorang yang sedang berusaha pulih dari kelelahan, membangun kembali kepercayaan dirinya, atau sekadar menemukan kegembiraan melalui hobi tetap berhak menganggap proses tersebut berharga.

Mengembangkan diri tidak harus selalu menghasilkan karya yang dikenal publik atau memberikan manfaat yang dapat dihitung. Belajar melukis karena menyukai warna, membaca novel karena menikmati cerita, atau berolahraga agar tubuh terasa lebih nyaman juga dapat menjadi bagian dari kehidupan yang dipilih secara sadar. Nilai sebuah kegiatan tidak selalu bergantung pada kemampuannya menghasilkan uang, prestasi, ataupun pengakuan.

Di sisi lain, pertumbuhan pribadi yang hanya mengejar kepuasan sendiri tanpa mempertimbangkan akibatnya terhadap orang lain juga perlu dipertanyakan. Menjadi semakin pandai berkomunikasi tidak otomatis berarti seseorang semakin mampu mendengarkan, sebagaimana meningkatnya kemampuan memimpin belum tentu membuatnya lebih peduli kepada orang yang dipimpin. Kecakapan dan kedewasaan merupakan dua hal yang dapat saling mendukung, tetapi tidak selalu berkembang dengan kecepatan yang sama.

Barangkali cara paling berguna untuk memilih bentuk aktualisasi diri bukan dengan meniru daftar kebiasaan orang sukses, melainkan memeriksa hubungan antara pilihan, kebutuhan, kemampuan, dan konsekuensinya. Apakah kegiatan tersebut sungguh ingin dilakukan, apakah prosesnya masih memberikan ruang untuk beristirahat dan menjaga hubungan, serta apakah keberhasilannya diperoleh tanpa merugikan orang lain? Pertanyaan itu tidak menyediakan rumus kesuksesan yang berlaku bagi semua orang, tetapi membantu seseorang menilai apakah arah pertumbuhannya masih sesuai dengan kehidupan yang ingin dijalani.

Keinginan untuk berkembang adalah sesuatu yang manusiawi, sebagaimana kebutuhan untuk diterima, dihargai, dan merasakan keberhasilan. Tidak ada yang keliru dengan menikmati pengakuan atas hasil kerja keras, selama pengakuan itu tidak menjadi satu-satunya alasan untuk terus bergerak. Manusia juga tidak harus membuktikan kegunaannya setiap saat agar layak merasa puas dengan dirinya sendiri.

Mungkin pertanyaan terpenting mengenai aktualisasi diri bukanlah seberapa tinggi seseorang telah mencapai sesuatu, melainkan seberapa jauh ia memahami mengapa pencapaian itu penting baginya. Ada kehidupan yang terlihat sederhana tetapi dijalani dengan penuh kesadaran, sebagaimana ada kehidupan yang tampak mengagumkan tetapi terus dibayangi tuntutan untuk menjadi orang lain. Ketika seseorang dapat membedakan keduanya, ia memiliki kesempatan untuk bertumbuh tanpa terus-menerus mempertaruhkan kebahagiaannya pada penilaian orang lain. Sebab, aktualisasi diri semestinya memberi manusia lebih banyak kebebasan untuk menjalani hidup yang bermakna, bukan menjadikannya tawanan dari gambaran kesuksesan yang tidak pernah ia pilih sendiri. [][Liora Maheswari/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.