Tidak semua rasa sayang datang dalam kalimat manis. Pada sebagian laki-laki, perhatian justru lebih sering muncul lewat tindakan-tindakan yang terlihat biasa.

Ada ayah yang hampir tidak pernah mengatakan rindu kepada anaknya. Namun setiap kali anaknya hendak bepergian jauh, pertanyaan yang muncul selalu sama: bensin sudah diisi, ban sudah diperiksa, dan nanti pulang jam berapa. Kedengarannya seperti sederet pertanyaan teknis, padahal mungkin ada kekhawatiran yang sedang mencari cara paling nyaman untuk keluar.

Ada pula suami yang tidak terbiasa mengirim pesan romantis kepada istrinya. Ia mungkin tidak pernah menulis kalimat panjang pada hari ulang tahun pernikahan, tetapi diam-diam mengisi bensin kendaraan pasangannya, membeli obat ketika melihat istrinya kurang sehat, atau bangun lebih pagi karena tahu ada sesuatu yang perlu dikerjakan. Dalam pikirannya, mungkin semua tindakan itu sudah cukup jelas berbicara.

Hal serupa bisa terjadi dalam persahabatan laki-laki. Seorang teman sedang menghadapi masalah, lalu sahabatnya tidak mengirim paragraf panjang berisi dukungan emosional, tetapi tiba-tiba datang, mengajak makan, atau membantu menyelesaikan sesuatu yang sedang membuat temannya kerepotan. Tidak banyak yang dibicarakan, tetapi ada pesan yang sebenarnya sedang dikirim.

Ada banyak laki-laki mengenali situasi semacam itu. Bukan karena laki-laki tidak memiliki emosi atau tidak membutuhkan kedekatan, melainkan karena sebagian dari mereka tumbuh dengan cara tertentu dalam mengenali dan mengekspresikan perasaan. Rasa sayang ada, tetapi kosakata untuk mengatakannya kadang tidak berkembang sebanyak kemampuan untuk mengerjakannya.

Baca Juga: Benarkah Pria Kurang Bisa Multitasking Dibandingkan Wanita? Atau Kita Selama Ini Salah Memahaminya?

Ketika ‘Saya Sayang Kamu’ Berubah Jadi ‘Biar Saya yang Kerjakan’

Sejak kecil, anak laki-laki dan perempuan tidak selalu mendapatkan perlakuan yang sama ketika menunjukkan emosi. Anak perempuan relatif lebih diberi ruang untuk bercerita tentang perasaannya, sedangkan anak laki-laki masih cukup sering berhadapan dengan ungkapan seperti jangan cengeng, harus kuat, atau tidak perlu terlalu banyak mengeluh. Kalimat-kalimat sederhana itu perlahan dapat mengajarkan bahwa beberapa emosi lebih aman disimpan daripada dibicarakan.

Psikolog Ronald F. Levant banyak meneliti maskulinitas dan konsep normative male alexithymia, sebuah gagasan mengenai bagaimana sosialisasi maskulinitas dapat membuat sebagian laki-laki mengalami kesulitan mengenali dan mengungkapkan emosi dengan kata-kata. Ini bukan berarti laki-laki tidak mempunyai perasaan. Persoalannya lebih dekat pada terbatasnya latihan dan bahasa yang tersedia untuk menerjemahkan apa yang mereka rasakan.

Mungkin saja kita jadi teringat betapa seringnya kekhawatiran seorang ayah terdengar seperti instruksi. “Jangan pulang malam.” “Kabari kalau sudah sampai.” “Jangan lupa makan.” Kalimat-kalimat itu mungkin terdengar jauh dari romantis, tetapi di dalam keluarga tertentu, itulah bentuk paling dekat dari kalimat, “Saya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepadamu.”

Dalam hubungan pasangan pun pola serupa bisa muncul. Seorang laki-laki mungkin merasa telah menunjukkan perhatian ketika memperbaiki keran yang rusak, menjemput pasangannya, bekerja keras untuk kebutuhan keluarga, atau memastikan urusan rumah tertentu selesai. Baginya, waktu dan tenaga yang dikeluarkan merupakan bukti yang sangat konkret bahwa seseorang penting dalam hidupnya.

Penelitian mengenai emosi dan gender juga menunjukkan gambaran yang lebih rumit daripada stereotip bahwa laki-laki kurang emosional. Profesor Agneta Fischer dari University of Amsterdam, yang banyak meneliti emosi dan perbedaan gender, menunjukkan bahwa ekspresi emosi sangat dipengaruhi konteks sosial dan ekspektasi gender. Dengan kata lain, persoalannya tidak sesederhana perempuan punya lebih banyak perasaan sementara laki-laki punya lebih sedikit.

Mungkin karena itu kita jadi kurang suka ketika seorang laki-laki yang tidak pandai mengungkapkan perasaan langsung dianggap tidak peduli. Ada kemungkinan ia memang tidak peduli, tentu saja, dan tindakan tetap harus dilihat dari keseluruhan hubungan. Namun ada pula kemungkinan rasa pedulinya selama ini muncul dalam bentuk yang tidak kita kategorikan sebagai ungkapan kasih sayang.

Masalah baru muncul ketika seseorang menganggap bentuk kasih sayangnya pasti dipahami oleh orang lain. Ia merasa, “Saya sudah melakukan banyak hal untukmu,” sementara orang di sebelahnya bertanya-tanya, “Tapi kenapa kamu tidak pernah mengatakan apa yang kamu rasakan?” Keduanya bisa sama-sama tulus dan tetap sama-sama merasa tidak dimengerti.

Baca Juga: Mengapa Banyak Laki-Laki Lebih Mudah Memperbaiki Barang daripada Membicarakan Perasaannya?

Tindakan Bisa Berbicara, Tetapi Belum Tentu Bahasanya Dipahami

Ada godaan untuk berhenti pada kesimpulan yang terdengar nyaman: begitulah laki-laki, mereka menunjukkan cinta lewat tindakan. Kesimpulan seperti itu justru terlalu mudah. Sebab memahami alasan di balik sebuah perilaku tidak berarti kita harus menjadikannya alasan untuk tidak berkembang.

Kalau seseorang dibesarkan dalam lingkungan yang jarang membicarakan perasaan, wajar apabila mengatakan “saya takut kehilangan kamu”, “saya bangga kepadamu”, atau sekadar “saya kangen” terasa canggung. Namun kecanggungan bukan berarti kemampuan tersebut tidak bisa dipelajari. Sama seperti kemampuan lain, mengenali dan mengungkapkan emosi juga dapat tumbuh ketika seseorang mulai memberi dirinya ruang untuk melakukannya.

Tindakan tetap penting karena kasih sayang yang hanya diucapkan tetapi tidak pernah hadir dalam perilaku juga mudah kehilangan makna. Mengatakan peduli sambil terus mengabaikan kebutuhan orang lain tentu bukan komunikasi kasih sayang yang sehat. Kata-kata dan tindakan seharusnya tidak perlu dipertandingkan seolah salah satunya harus menang.

Yang sering menjadi persoalan justru ketidakcocokan cara membaca. Seorang suami merasa bekerja keras adalah bentuk cintanya kepada keluarga, sementara istrinya membutuhkan percakapan yang membuatnya merasa didengar. Seorang ayah merasa telah menunjukkan kasih sayang dengan menyediakan semua kebutuhan anaknya, sementara sang anak mungkin bertahun-tahun menunggu satu kalimat sederhana bahwa ayahnya bangga kepadanya.

Tidak ada pihak yang harus langsung dianggap salah dalam situasi seperti itu. Namun kasih sayang menjadi lebih berguna ketika bukan hanya dirasakan oleh pemberinya, melainkan juga dapat dikenali oleh penerimanya. Sesuatu yang menurut kita sangat jelas belum tentu terbaca dengan cara yang sama oleh orang lain.

Bagian ini jelas penting bagi laki-laki. Kita tidak harus berubah menjadi orang yang setiap saat mengungkapkan seluruh perasaan dengan kalimat panjang. Namun mungkin sesekali perlu memastikan bahwa orang yang kita sayangi tidak harus terus-menerus menerjemahkan sendiri tindakan kita.

Sebab ada perhatian yang memang bisa terbaca ketika seseorang diam-diam memperbaiki sesuatu yang rusak. Ada rasa sayang dalam pesan singkat yang hanya berbunyi, “Sudah sampai?” Ada pula kekhawatiran yang bersembunyi di balik ayah yang berkali-kali mengingatkan anaknya membawa jaket sebelum pergi.

Namun sesekali, kalimatnya juga layak diucapkan. Bukan karena tindakan yang selama ini dilakukan kurang berarti, melainkan karena manusia yang kita sayangi mungkin membutuhkan keduanya. Tidak semua orang mampu membaca cinta dari kotak perkakas, tangki bensin yang tiba-tiba penuh, makanan yang sudah tersedia, atau seseorang yang diam-diam menunggu sampai kita pulang.

Mungkin selama ini memang ada banyak “saya sayang kamu” yang tidak pernah terdengar dari mulut seorang laki-laki. Kalimat itu berubah menjadi jemputan, pekerjaan yang diselesaikan, barang yang diperbaiki, pesan “hati-hati di jalan”, atau kehadiran tanpa banyak bicara ketika keadaan sedang tidak baik. Dan barangkali, setelah menyadari itu semua, sebagian laki-laki juga bisa belajar bahwa tindakan tidak kehilangan maknanya hanya karena sesekali ditemani kata-kata. [][Rommy Rimbarawa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.