Melihat teman naik jabatan, yang lain menikah, pindah negara, atau membuka usaha baru. Lalu, muncul satu pertanyaan: apakah saya ketinggalan?
Fear of Missing Out atau FOMO sering diasosiasikan dengan anak muda dan media sosial. Padahal, perasaan takut tertinggal tidak berhenti ketika usia bertambah. Di fase dewasa, bentuknya justru lebih halus dan kompleks.
Di usia 30-an atau bahkan 40-an, standar keberhasilan terasa semakin jelas. Karier stabil, rumah sendiri, pasangan, anak, tabungan, pencapaian tertentu. Ketika melihat orang lain seolah lebih cepat sampai di titik itu, rasa cemas bisa muncul tanpa diundang.
FOMO di usia dewasa bukan lagi soal ketinggalan tren. Ia berubah jadi kekhawatiran eksistensial: takut salah memilih jalan, takut kehilangan kesempatan, atau takut hidup tidak berkembang sesuai ekspektasi.
Baca Juga: People Pleaser di Dunia Kerja, Mengapa Terjadi dan Bagaimana Mengatasinya?
Mengapa FOMO Tetap Muncul di Fase Dewasa?
Salah satu pemicunya adalah perbandingan sosial yang terus-menerus. Media sosial membuat pencapaian orang lain terlihat lebih dekat dan nyata. Tanpa sadar, hidup sendiri dinilai berdasarkan highlight hidup orang lain.
Selain itu, fase dewasa identik dengan keputusan besar. Memilih karier, pasangan, tempat tinggal, hingga pola hidup. Setiap keputusan terasa memiliki konsekuensi jangka panjang. Di sinilah FOMO sering berakar: kekhawatiran bahwa pilihan lain mungkin lebih baik.
Tekanan sosial juga turut berperan. Pertanyaan tentang “sudah sampai mana?” atau “kapan berikutnya?” bisa memperkuat rasa tertinggal. Meskipun tidak selalu disampaikan dengan niat buruk, pertanyaan tersebut bisa memicu refleksi yang berat.
FOMO juga sering muncul ketika seseorang merasa stagnan. Rutinitas yang berulang membuat pencapaian terasa kurang signifikan, meskipun sebenarnya progres tetap terjadi secara perlahan.
Baca Juga: Fenomena Overshare di Media Sosial dan Pelajaran dari Ramainya Kasus Penerima LPDP
Mengelola FOMO dengan Lebih Dewasa
Langkah pertama adalah menyadari bahwa setiap orang memiliki timeline yang berbeda. Tidak semua pencapaian harus diraih dalam urutan yang sama. Hidup bukan perlombaan dengan garis akhir yang seragam.
Membatasi konsumsi media sosial dapat membantu menjaga perspektif. Mengingat bahwa apa yang terlihat di layar hanyalah bagian terkurasi dari kehidupan orang lain dapat mengurangi dorongan untuk membandingkan diri secara berlebihan.
Mengalihkan fokus kepada pertumbuhan pribadi juga menjadi strategi yang sehat. Alih-alih bertanya “mengapa belum seperti mereka?”, pertanyaan bisa diubah menjadi “apa yang ingin dikembangkan dari diri sendiri saat ini?”.
Latihan syukur membantu menyeimbangkan pikiran. Mengakui hal-hal kecil yang sudah dimiliki—pekerjaan yang stabil, kesehatan yang terjaga, relasi yang suportif—membantu meredam rasa kurang yang sering dipicu FOMO.
FOMO di usia dewasa bukan tanda kelemahan. Ia adalah refleksi bahwa seseorang peduli kepada arah hidupnya. Namun ketika rasa takut itu mulai mendominasi, penting untuk kembali pada nilai dan prioritas pribadi.
Hidup yang bermakna bukan tentang mengikuti jejak orang lain. Ia tentang memahami pilihan sendiri dan menjalaninya dengan sadar. Di situlah FOMO perlahan berubah menjadi kepercayaan diri. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
[penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi]