Ada amalan yang sering kita anggap sepele, begitu kecil hingga mudah ditunda, padahal justru di situlah kualitas diri diuji. Jika dilakukan sesuai sunnah, amalan kecil itu bahkan bernilai pahala.
Apakah amalan tersebut? Iya benar, memotong kuku, sesederhana itu. Bukan ibadah besar dan bukan pula ritual yang menyita waktu, namun Islam menjadikannya bagian dari fitrah, bagian dari cara manusia menjaga kehormatan dan kebersihan diri. Menariknya, apa yang diajarkan berabad abad lalu oleh Nabi Muhammad SAW, hari ini justru dibenarkan oleh sains modern. Yuk kita dalami apa saja amalan kecil ini namun berpotensi mendatangkan pahala.
Amalan Kecil yang Bernilai Ibadah
Islam tidak hanya mengajarkan cara berdoa, tetapi juga cara merawat diri. Tubuh bukan sekadar cashing bagi jiwa, melainkan amanah yang perlu dijaga dan dirawat.
Rasulullah SAW bersabda: “Fitrah itu ada lima (dalam riwayat lain: sepuluh): berkhitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan mencukur kumis.”
(HR. Muslim). Hadis ini menegaskan satu hal penting bahwa memotong kuku adalah sunnah yang jelas, bukan budaya, bukan kebiasaan semata.
Waktu dan Rutinitas: Sunnah yang Pasti
Waktu dan rutinitas dalam menjaga kebersihan juga mendapatkan perhatian khusus dalam ajaran Islam. Baginda Rasulullah SAW memberi batasan yang jelas agar seorang muslim tidak lalai terhadap kebersihan dirinya, sebagaimana dinukilkan dalam hadis yang diriwayatkan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:
“Kami diberi batas waktu untuk memotong kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur bulu kemaluan, tidak dibiarkan lebih dari empat puluh hari.” (HR. Muslim).
Hadis ini menjadi landasan penting bagi para ulama dalam menetapkan bahwa memotong kuku secara rutin merupakan sunnah yang dianjurkan, bukan sekadar kebiasaan. Jangan biarkan Kuku tumbuh panjang hingga melewati batas waktu yang dianjurkan Nabi, karena kebersihan adalah bagian dari kehormatan seorang muslim dan utamanya yakni melaksanakan sunnah.
Adapun hari Jumat sering dianjurkan sebagai waktu terbaik untuk melakukannya, sejalan dengan semangat bersuci dan mempersiapkan diri sebelum ibadah, namun anjuran ini tidak bersifat wajib dan tidak menjadi syarat, sebab Islam selalu memberi kemudahan dan tidak mempersulit umatnya dalam menjalankan ajaran.
Islam memiliki kaidah adab yang luas dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah mendahulukan sisi kanan dalam perkara kebaikan dan kebersihan. Rasulullah SAW dikenal memulai dari kanan dalam banyak hal seperti berwudhu, memakai alas kaki, dan aktivitas membersihkan diri. Dari prinsip umum inilah para ulama kemudian memasukkan kebiasaan memulai memotong kuku dari sisi kanan sebagai adab sunnah, meskipun tidak ada hadis khusus yang menyebutkannya secara eksplisit untuk kuku.
Penting dipahami bahwa memulai dari sisi kanan bukanlah kewajiban yang berdosa jika ditinggalkan, melainkan adab yang dianjurkan agar seorang muslim terbiasa rapi dan tertib dalam menjaga dirinya. Sunnah dalam konteks ini bukanlah beban, tetapi latihan kepekaan dan kesadaran dalam hal-hal kecil. Islam mengajarkan keindahan melalui keteraturan, bukan melalui paksaan.
Pembahasan berikutnya yang sering menimbulkan kebingungan adalah soal urutan jari saat memotong kuku. Perlu ditegaskan dengan jujur dan ilmiah bahwa menurut keterbatasan ilmu penulis, bahwa tidak ada hadis shahih yang menyebutkan urutan jari secara rinci, misalnya harus dimulai dari jari telunjuk lalu jari tengah dan seterusnya. Keterangan seperti itu tidak berasal langsung dari Baginda Rasul SAW.
Urutan yang sering beredar di masyarakat, seperti mendahulukan tangan kanan lalu tangan kiri kemudian kaki kanan dan terakhir kaki kiri, merupakan hasil ijtihad dan penjelasan para ulama fiqh. Ulama seperti Imam an Nawawi menyusun urutan tersebut agar selaras dengan prinsip mendahulukan sisi kanan dan agar praktik kebersihan dilakukan dengan rapi dan konsisten. Maka urutan ini boleh diikuti dan bernilai baik, namun tidak berstatus sunnah yang berdosa jika ditinggalkan.
Islam tidak membebani umatnya dengan detail yang tidak ditetapkan secara tegas oleh Rasulullah SAW. Yang benar-benar sunnah berdasarkan hadis adalah bahwa memotong kuku termasuk bagian dari fitrah manusia, dilakukan secara rutin, dan tidak dibiarkan lebih dari empat puluh hari. Adapun memulai dari sisi kanan termasuk adab sunnah umum, sedangkan urutan jari satu per satu hanyalah penjelasan ulama yang membantu keteraturan, bukan ukuran sah atau tidaknya amalan.
Dengan memahami batas antara sunnah Nabi dan penjelasan para ulama, kita bisa beribadah dengan tenang tanpa berlebih-lebihan dan tanpa meremehkan ajaran. Kita menjalankan agama dengan ilmu, bukan sekadar ikut-ikutan. Dan di situlah letak keindahan Islam, sederhana, jelas, dan penuh rahmat.
Pandangan Sains Modern Sunnah yang Terbukti
Sains modern hari ini menjelaskan sesuatu yang sebenarnya telah lama diajarkan oleh Islam. Kuku yang dibiarkan panjang dapat menjadi tempat berkumpulnya berbagai mikroorganisme yang tidak terlihat oleh mata, seperti bakteri, jamur, dan kotoran mikroskopis. Tangan merupakan bagian tubuh yang paling sering bersentuhan dengan makanan, wajah, dan beragam benda di sekitar kita. Karena itu, kuku yang tidak terawat berpotensi menjadi media perpindahan penyakit.
Kebiasaan memotong kuku secara rutin terbukti membantu menjaga kebersihan tangan, menurunkan risiko infeksi, serta melindungi kesehatan secara menyeluruh. Apa yang dahulu diajarkan sebagai sunnah oleh Baginda Nabi Muhammad SAW, hari ini dikenal dalam dunia medis sebagai prinsip dasar kebersihan dan pencegahan penyakit.
Sunnah yang Membumi
Islam tidak pernah menjadikan iman sebagai beban. Ia hadir dengan tenang dalam rutinitas harian, dalam kebiasaan sederhana, dan dalam amalan kecil yang terus diulang dengan penuh kesadaran. Memotong kuku bukanlah soal jari mana yang lebih dulu digunting, melainkan tentang kepedulian pada kebersihan, tanggung jawab terhadap tubuh, dan ketaatan dalam perkara yang sering dianggap remeh. Di sanalah keindahan sunnah Nabi terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari hari, membumi, relevan, dan sarat hikmah.
Karena itu, mari biasakan diri merawat tubuh dengan lebih sadar dan penuh niat baik. Rutin memotong kuku, merapikan rambut, dan menjaga kebersihan diri bukan sekadar urusan penampilan, tetapi bagian dari ibadah dan penghormatan terhadap amanah tubuh yang Allah titipkan. Sebab sering kali, iman justru tumbuh dan terjaga dari kesetiaan kita pada hal hal kecil yang dilakukan secara konsisten. [Nadi Wiramadin/KK]