Ketika seseorang mengalami kegagalan, kehilangan, atau keterpurukan, tantangan terbesar seringkali bukan memulai kembali. Yang lebih sulit adalah meyakinkan diri bahwa ia masih mampu melangkah.
Kita sering mendengar kalimat, "Yang penting bangkit." Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi seseorang yang baru kehilangan pekerjaan, mengalami kebangkrutan, gagal meraih cita-cita, atau menghadapi peristiwa yang mengubah hidupnya, bangkit bukanlah perkara berdiri lalu berjalan lagi.
Sering kali, langkah pertama justru sudah berhasil dilakukan. Resume kembali dikirim, usaha baru mulai dirintis, atau rutinitas perlahan dijalani. Namun, di balik semua itu, masih ada suara kecil yang terus bertanya, "Bagaimana kalau gagal lagi?"
Keraguan seperti itulah yang sering menjadi beban paling berat setelah seseorang mengalami keterpurukan. Luka yang ditinggalkan bukan hanya pada keadaan, tetapi juga pada cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Baca Juga: Mengapa Semangat Baru Sering Cepat Hilang?
Keterpurukan Dapat Mengubah Cara Kita Menilai Kemampuan Diri
Psikolog Albert Bandura, dalam bukunya Self-Efficacy: The Exercise of Control [1997], menjelaskan bahwa salah satu faktor penting yang memengaruhi tindakan seseorang adalah self-efficacy, yaitu keyakinan bahwa dirinya mampu menghadapi tantangan dan menyelesaikan suatu tugas. Ketika seseorang mengalami kegagalan yang berat, keyakinan tersebut dapat ikut melemah.
Akibatnya, seseorang mungkin masih memiliki kemampuan yang sama seperti sebelumnya, tetapi tidak lagi percaya bahwa kemampuannya akan menghasilkan sesuatu yang baik. Ia menjadi lebih ragu mengambil keputusan, lebih mudah menyerah sebelum mencoba, atau merasa takut menghadapi kemungkinan gagal untuk kedua kalinya.
Menurut Dr. Kristin Neff, profesor psikologi dari University of Texas at Austin dan penulis Self-Compassion: The Proven Power of Being Kind to Yourself [2011], banyak orang justru menjadi sangat keras kepada dirinya sendiri setelah mengalami kegagalan. Mereka terus mengulang kesalahan yang pernah terjadi, seolah-olah kegagalan tersebut menjadi ukuran utama nilai dirinya.
Padahal, bersikap penuh belas kasih kepada diri sendiri [self-compassion] bukan berarti membenarkan kesalahan, melainkan memberikan ruang untuk pulih tanpa terus-menerus dihukum oleh pikiran sendiri. Sikap ini terbukti membantu seseorang lebih mampu menghadapi tekanan dan membangun kembali kepercayaan dirinya.
Baca Juga: Apa Penyebab Kita Sering Merasa Kurang Termotivasi? Benarkah karena Kita Kurang Refleksi?
Percaya kepada Diri Sendiri Dibangun Melalui Langkah-Langkah Kecil
Menurut Vikalena Lasmoskwa, keterpurukan sering membuat seseorang hanya melihat apa yang telah hilang, bukan apa yang masih dimilikinya. Padahal, kepercayaan diri tidak selalu kembali melalui pencapaian besar. Ia justru tumbuh dari keberanian menyelesaikan langkah-langkah kecil yang sebelumnya terasa mustahil.
Menyelesaikan satu pekerjaan, kembali menjalankan hobi, berani mengikuti wawancara kerja, atau sekadar mampu menjalani hari dengan lebih tenang dapat menjadi pengalaman yang secara perlahan mengembalikan keyakinan bahwa diri kita masih memiliki kemampuan untuk bertumbuh.
Dalam dunia psikologi, proses ini juga berkaitan dengan konsep post-traumatic growth, yaitu kemungkinan seseorang mengalami perkembangan positif setelah menghadapi peristiwa yang sangat sulit. Konsep yang diperkenalkan oleh Richard Tedeschi dan Lawrence Calhoun ini menunjukkan bahwa keterpurukan memang dapat meninggalkan luka, tetapi pada sebagian orang juga membuka cara baru dalam memandang hidup, hubungan, dan dirinya sendiri.
Tentu saja, proses tersebut tidak berlangsung dengan cepat. Tidak ada batas waktu yang sama bagi setiap orang untuk pulih. Ada yang membutuhkan beberapa bulan, ada pula yang memerlukan waktu bertahun-tahun. Dan itu bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari perjalanan yang berbeda-beda.
Pada akhirnya, bangkit setelah terpuruk bukan hanya tentang kembali berjalan. Yang lebih penting adalah perlahan mempercayai bahwa diri ini masih layak memiliki harapan, masih mampu belajar, dan masih pantas diberi kesempatan. Sebab, hidup jarang meminta kita menjadi manusia yang tidak pernah jatuh. Hidup hanya terus memberi kesempatan untuk mengenal diri sendiri dengan cara yang mungkin belum pernah kita bayangkan sebelumnya. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.