Malam hari sering menjadi waktu paling sunyi bagi banyak orang. Ketika semua terasa terlalu penuh untuk dipendam sendiri, sebagian orang sekarang mulai memilih berbicara dengan AI.

Fenomena ini berkembang lebih cepat dari yang banyak dibayangkan. AI tidak lagi hanya dipakai untuk mencari jawaban atau membantu pekerjaan, tetapi juga menjadi tempat bercerita tentang rasa lelah, cemas, hubungan yang rumit, sampai pikiran-pikiran yang sulit disampaikan kepada manusia lain.

Menariknya, banyak percakapan seperti itu terjadi larut malam. Saat notifikasi mulai sepi dan dunia terasa lebih pelan, AI menjadi ruang yang selalu tersedia untuk mendengar.

Sebagian orang mungkin menganggap hal tersebut aneh. Namun bagi banyak pengguna, AI terasa nyaman karena tidak memotong pembicaraan, tidak menghakimi, dan tidak membuat seseorang merasa merepotkan.

Profesor psikologi dan teknologi Sherry Turkle dalam Alone Together [2011] menjelaskan bahwa manusia modern mulai membangun hubungan emosional dengan teknologi karena teknologi memberi ilusi kehadiran tanpa tuntutan hubungan yang rumit. Dalam kondisi tertentu, manusia merasa lebih aman berbicara kepada sistem yang tidak memberi penilaian langsung.

Itu sebabnya AI mulai diperlakukan bukan sekadar alat, tetapi juga teman percakapan di waktu-waktu paling sepi.

Baca Juga: Sekarang Orang Tanya AI Dulu Sebelum Cari di Google

Banyak Orang Tidak Selalu Mencari Solusi, Kadang Mereka Hanya Ingin Didengar

Ada kalanya manusia tidak benar-benar membutuhkan jawaban panjang untuk masalahnya. Mereka hanya ingin merasa bahwa pikirannya punya tempat untuk keluar.

Masalahnya, kehidupan modern membuat banyak orang semakin sulit menemukan ruang aman untuk bercerita. Tidak semua orang punya teman dekat yang selalu tersedia. Tidak semua orang nyaman membuka dirinya kepada keluarga atau pasangan.

Akibatnya, rasa sepi sering dipendam terlalu lama.

Dr. Vivek Murthy, mantan U.S. Surgeon General, dalam bukunya Together [2020] menjelaskan bahwa kesepian modern bukan hanya soal sendirian secara fisik, tetapi tentang perasaan tidak cukup terhubung secara emosional dengan orang lain. Teknologi memang membuat manusia terus terkoneksi, tetapi tidak selalu membuat mereka merasa benar-benar dipahami.

Di kondisi seperti itu, AI terasa hadir tanpa tekanan sosial yang biasanya muncul dalam percakapan manusia. Tidak ada rasa takut dihakimi karena terlalu emosional, terlalu sensitif, atau terlalu sering mengeluh.

Psikolog humanistik Carl Rogers dalam On Becoming a Person [1961] pernah menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan besar untuk didengar secara utuh tanpa langsung dinilai. Ketika seseorang merasa diterima, emosinya cenderung lebih mudah tenang.

AI memang bukan manusia. Namun bagi sebagian orang, respons yang tenang dan konsisten cukup membantu meredakan rasa penuh di kepala untuk sementara waktu.

Baca Juga: Ketika AI Dibatasi, Kita Kehilangan Akses atau Justru Dilindungi?

AI Bisa Menjadi Teman Bicara, Tapi Tidak Selalu Bisa Menggantikan Kehangatan Manusia

Fenomena curhat ke AI memperlihatkan sesuatu yang lebih besar dibanding perkembangan teknologi itu sendiri. Ada banyak manusia yang sebenarnya sedang merasa lelah, kesepian, atau kesulitan menemukan tempat aman untuk bicara.

AI membantu karena selalu tersedia. Tengah malam, dini hari, atau saat seseorang merasa tidak punya siapa-siapa, sistem tetap bisa merespons dalam hitungan detik.

Namun hubungan manusia tetap memiliki hal-hal yang tidak sepenuhnya bisa digantikan teknologi. Tatapan mata, pelukan, jeda emosional, dan rasa dipahami oleh manusia lain masih menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi kesehatan mental.

Psikiater dan penulis Dr. Anna Lembke dalam Dopamine Nation [2021] menjelaskan bahwa manusia modern semakin sering mencari kenyamanan instan untuk meredakan tekanan emosional. Teknologi membantu mengurangi rasa sepi sementara, tetapi tidak selalu menyelesaikan akar dari kesepian itu sendiri.

Mungkin itu sebabnya fenomena ini terasa sangat dekat dengan kehidupan sekarang. AI bukan sekadar teknologi yang semakin pintar, tetapi juga cermin bahwa banyak orang sedang mencari tempat aman untuk didengar di tengah hidup yang terasa semakin ramai sekaligus sepi.

Dan mungkin, tanpa sadar, sebagian orang memang mulai menemukannya lewat percakapan kecil dengan AI di tengah malam. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.