Hujan membawa harapan bagi daerah terdampak kebakaran hutan dan lahan. Akan tetapi, asap yang berkurang belum berarti seluruh ancaman lingkungan ikut menghilang.

Hujan akhirnya kembali turun di Bandung setelah hari-hari yang terasa begitu panas. Udara mulai sejuk, jalanan basah, dan aroma tanah yang terkena air membawa kelegaan tersendiri. Bagi masyarakat yang selama ini mengikuti kabar kebakaran hutan dan lahan [karhutla], datangnya hujan juga menghadirkan harapan agar api segera padam dan langit kembali bersih.

Harapan serupa tentu dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Sumatera dan Kalimantan yang menghadapi ancaman kebakaran serta kabut asap. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika [BMKG] pada 27 Oktober 2026, sejumlah kota, termasuk Palangka Raya dan Pontianak, berpeluang mengalami hujan ringan. Meski begitu, hujan belum turun secara merata dan kondisi relatif kering masih berpotensi berlangsung di beberapa wilayah Indonesia.

Pertanyaan penting kemudian muncul ketika hujan mulai membasahi daerah yang sebelumnya terbakar. Ke mana perginya asap yang selama ini mencemari udara, apakah bahan berbahaya di dalamnya ikut jatuh bersama hujan, dan bagaimana keadaan tanah yang kehilangan vegetasinya? Sebab, berkurangnya asap di langit tidak selalu berarti kerusakan akibat kebakaran telah selesai.

Baca Juga: Bupati Annisa Cabut Bibit Sawit, Siapa yang Harus Bertanggung Jawab atas Lahan Bekas Karhutla?

Ketika Hujan Membersihkan Asap, ke Mana Partikel Pencemar Berpindah?

Asap karhutla bukan sekadar kabut berwarna kelabu yang mengganggu jarak pandang. Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat [EPA], asap kebakaran merupakan campuran partikel dan berbagai gas hasil pembakaran, dengan partikel halus PM2.5 menjadi salah satu komponen yang paling diperhatikan karena mampu masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Komposisinya dipengaruhi jenis vegetasi, bahan yang terbakar, suhu pembakaran, dan kondisi lingkungan.

Ketika hujan turun, sebagian partikel di udara dapat ditangkap oleh butiran air dan terbawa menuju permukaan bumi. Proses tersebut dikenal sebagai deposisi basah atau wet deposition, yang dapat membantu menurunkan konsentrasi partikel asap di atmosfer. Karena itulah udara terkadang terasa lebih bersih setelah hujan, terutama ketika intensitas dan durasinya cukup untuk mengurangi partikel yang melayang.

Akan tetapi, tidak semua pencemar dalam asap langsung hilang ketika hujan turun. Efektivitas pembersihan udara bergantung pada ukuran partikel, intensitas hujan, pergerakan angin, dan keberlangsungan sumber emisi. Sebagian polutan berbentuk gas juga memiliki perilaku berbeda dari partikel padat, sehingga turunnya hujan tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran bahwa kualitas udara sudah aman.

Penjelasan tersebut menjadi semakin penting dalam kebakaran lahan gambut yang banyak terjadi di Indonesia. Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Bambang Hero Saharjo, menjelaskan bahwa kebakaran gambut dapat menyimpan bara di bawah permukaan tanah meskipun api di atasnya tampak sudah padam. Ketika lapisan gambut masih kering, pembakaran dapat berlangsung perlahan dan terus menghasilkan asap tanpa kobaran api yang mudah terlihat.

Penelitian tentang pembakaran gambut juga menunjukkan bahwa air hujan belum tentu mampu mencapai seluruh lapisan yang masih membara. Permukaan tanah yang terlihat basah tidak otomatis berarti bagian dalamnya telah cukup dingin untuk menghentikan pembakaran. Karena itu, keberhasilan pemadaman tetap membutuhkan pemeriksaan titik panas, pembasahan lapisan gambut, serta pengelolaan muka air tanah yang memadai.

Lalu, apakah air hujan yang membawa partikel asap menjadi berbahaya? Secara ilmiah, air hujan dapat membawa sebagian partikel dan zat yang sebelumnya berada di atmosfer, tetapi tingkat risikonya bergantung pada jenis serta konsentrasi pencemar yang terbawa. Keberadaan partikel hasil pembakaran tidak berarti setiap tetes hujan menjadi beracun atau berbahaya apabila mengenai kulit.

Persoalan yang lebih perlu diperhatikan adalah bagaimana zat-zat tersebut kemudian berpindah dan terakumulasi di lingkungan. Abu serta residu pembakaran yang mengendap di tanah, atap, dan badan air dapat kembali terbawa aliran ketika hujan berikutnya datang. Untuk mengetahui apakah suatu sumber air tercemar sampai tingkat yang membahayakan, diperlukan pengambilan sampel dan pengujian kualitas air, bukan sekadar penilaian berdasarkan warna atau bau.

Baca Juga: Bahkan Air Hujan di Tempat Terpencil Mengandung PFAS, Sejauh Mana Polusi Industri Menyebar?

Api Bisa Padam, tetapi Mengapa Banjir dan Pencemaran Air Justru Mengancam?

Setelah kebakaran, kondisi permukaan tanah dapat berubah secara signifikan karena vegetasi dan lapisan bahan organik yang sebelumnya melindunginya telah rusak. Akar tumbuhan yang membantu mempertahankan struktur tanah berkurang, sementara permukaan yang terbuka menjadi lebih mudah tererosi ketika hujan deras turun. Pada kawasan tertentu, panas kebakaran juga dapat mengubah sifat tanah sehingga air lebih sulit meresap.

Badan Survei Geologi Amerika Serikat [USGS] menjelaskan bahwa daerah bekas kebakaran, terutama di kawasan berbukit atau pegunungan, dapat mengalami peningkatan limpasan permukaan dan aliran material ketika hujan datang. Air yang mengalir cepat berpotensi membawa tanah, abu, pasir, kerikil, hingga potongan kayu menuju bagian wilayah yang lebih rendah. Dalam kondisi tertentu, keadaan tersebut dapat menimbulkan banjir bandang atau aliran lumpur dan material yang membahayakan permukiman serta infrastruktur.

Risiko itu tidak berarti semua kawasan bekas karhutla otomatis akan mengalami banjir. Besarnya ancaman dipengaruhi kemiringan lahan, intensitas hujan, tingkat kerusakan vegetasi, kondisi tanah, serta kemampuan saluran dan sungai menampung aliran air. Kebakaran pada kawasan gambut yang relatif datar juga memiliki karakter hidrologi berbeda dari kebakaran hutan di lereng curam, sehingga kebutuhan penanganannya tidak dapat disamakan.

Dampak lain yang kerap luput dari perhatian adalah menurunnya kualitas air di sekitar daerah terbakar. EPA menjelaskan bahwa hujan setelah kebakaran dapat membawa abu, sedimen, unsur hara, dan berbagai zat pencemar ke sungai, danau, maupun waduk. Pada kondisi tertentu, limpasan tersebut dapat meningkatkan kekeruhan air serta konsentrasi sejumlah logam dan senyawa organik yang memerlukan pemantauan.

Penelitian USGS yang diterbitkan pada Mei 2026 juga mendokumentasikan bagaimana aliran air hujan yang membawa material dari kawasan kebakaran dapat menurunkan kadar oksigen terlarut di sungai secara drastis. Penelitian tersebut mengkaji peristiwa di Sungai Klamath, Amerika Serikat, ketika kombinasi kebakaran dan hujan berintensitas tinggi menyebabkan kondisi air yang mematikan bagi ikan. Kasus tersebut bukan bukti bahwa kejadian serupa telah berlangsung di seluruh daerah karhutla Indonesia, tetapi memperlihatkan kemungkinan dampak ekologis setelah hujan mengguyur kawasan terbakar.

Karena itu, pekerjaan memulihkan lingkungan tidak berhenti ketika petugas berhasil memadamkan api. Pemantauan kualitas udara dan air, pemeriksaan sisa bara di lahan gambut, pengendalian erosi, serta perlindungan daerah aliran sungai tetap diperlukan. Pemulihan tutupan vegetasi dan fungsi hidrologi lahan juga penting agar daerah bekas kebakaran tidak terus menghadapi kerusakan lanjutan setiap kali hujan deras datang.

Bagi masyarakat di sekitar kawasan terdampak karhutla, turunnya hujan tentu patut disyukuri setelah berhari-hari menghadapi udara panas dan kepulan asap. Meski begitu, air dari sumber yang terdampak limpasan abu sebaiknya tidak langsung dianggap aman untuk diminum tanpa pengolahan dan pemeriksaan yang sesuai. Warga juga perlu memperhatikan peringatan banjir serta kondisi sungai ketika hujan lebat terjadi di kawasan bekas kebakaran.

Hujan memang dapat membantu memadamkan api, membersihkan sebagian pencemar udara, dan mengembalikan kelembapan tanah yang lama mengering. Akan tetapi, hujan tidak dapat dengan sendirinya mengembalikan pepohonan, memperbaiki tata air gambut, ataupun menghapus zat pencemar yang sudah menyebar ke lingkungan. Di balik rasa lega menyaksikan langit kembali menurunkan air, masih ada pekerjaan panjang untuk memastikan hutan dan lahan yang terbakar benar-benar pulih. Sebab, yang paling dibutuhkan setelah hujan bukan hanya langit tanpa asap, melainkan tanah, air, dan kehidupan yang kembali terlindungi. [][Rommy Rimbarawa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.