Hujan yang berulang setiap sore bukan sekadar kebetulan. Ada siklus harian atmosfer yang membuat awan hujan cenderung terbentuk pada waktu tertentu.

Sudah beberapa hari hujan turun hampir setiap pukul empat sore. Paginya matahari bersinar cukup terik, menjelang siang udara terasa gerah, lalu awan gelap mulai berkumpul ketika hari beranjak sore. Seolah mengikuti jadwal, hujan kembali turun tidak jauh dari waktu yang sama.

Orang yang terbiasa memperhatikan cuaca mungkin mulai membuat perkiraan sendiri. Jika kemarin dan beberapa hari sebelumnya hujan turun menjelang petang, kemungkinan hari ini pun serupa. Tetapi mengapa hujan dapat memperlihatkan kebiasaan yang begitu teratur? Apakah atmosfer benar-benar memiliki semacam jam?

Dalam meteorologi, fenomena tersebut berkaitan dengan siklus diurnal, yakni perubahan kondisi atmosfer yang berulang sepanjang siang dan malam. Siklus ini memengaruhi suhu, angin, pembentukan awan, dan peluang terjadinya hujan. Meski demikian, pola yang terlihat teratur itu tidak berarti hujan akan selalu turun pada waktu yang persis sama.

Baca Juga: Hujan Akhirnya Turun di Tengah Karhutla, ke Mana Perginya Asap dan Apa Bahaya yang Tersisa?

Mengapa Awan Hujan Sering Terbentuk Menjelang Sore?

Sepanjang pagi hingga siang, sinar matahari memanaskan permukaan daratan. Tanah, bangunan, jalan, dan vegetasi menerima panas dengan karakter berbeda, kemudian memengaruhi suhu udara di sekitarnya. Ketika udara dekat permukaan menjadi lebih hangat dan cukup lembap, udara tersebut dapat naik ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.

Udara yang bergerak naik akan mengalami pendinginan. Jika uap air di dalamnya mencapai kondisi jenuh, terbentuklah butiran air atau kristal es yang menyusun awan. Dalam kondisi atmosfer yang mendukung, awan dapat berkembang menjadi awan konvektif yang menghasilkan hujan, bahkan disertai petir dan angin kencang.

Proses tersebut memerlukan waktu. Itulah salah satu alasan hujan akibat pemanasan daratan sering terbentuk setelah matahari cukup lama menyinari permukaan bumi, bukan selalu pada saat suhu udara mencapai nilai tertingginya.

Penelitian Danang Eko Nuryanto dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika [BMKG], yang diterbitkan dalam Jurnal Meteorologi dan Geofisika, mengidentifikasi pola umum bahwa aktivitas konvektif di daratan Indonesia cenderung berlangsung pada sore hingga malam, sedangkan aktivitas di laut lebih menonjol pada dini hari hingga siang.

Penelitian lain yang diterbitkan dalam International Journal of Climatology pada 2019 menunjukkan bahwa pembentukan awan konvektif di wilayah daratan dan pegunungan pulau-pulau besar Indonesia dapat dimulai sekitar tengah hari. Aktivitas hujannya kemudian berkembang sepanjang sore dan malam.

Meski begitu, pembentukan hujan tidak hanya ditentukan oleh panas matahari. Ketersediaan uap air, kestabilan atmosfer, arah angin, serta kondisi permukaan wilayah ikut memengaruhinya. Daratan dekat pantai, lembah, dan lereng pegunungan dapat memiliki pola hujan yang berbeda karena pergerakan udara di masing-masing tempat tidak sama.

Perbedaan pemanasan antara darat dan laut juga menghasilkan sirkulasi angin laut dan angin darat. Pada siang hari, angin laut dapat membawa udara lembap menuju daratan dan membantu pembentukan awan. Ketika malam tiba, perubahan suhu serta sirkulasi angin dapat menggeser aktivitas hujan ke wilayah pesisir atau perairan sekitarnya.

Baca Juga: Bahkan Air Hujan di Tempat Terpencil Mengandung PFAS, Sejauh Mana Polusi Industri Menyebar?

Kapan Jadwal Hujan Bisa Bergeser atau Menghilang?

Walaupun pemanasan matahari berlangsung setiap hari, kondisi atmosfer tidak selalu mengulang keadaan sebelumnya. Pada suatu hari, udara mungkin cukup lembap untuk membentuk awan hujan. Keesokan harinya, perubahan arah angin atau masuknya udara lebih kering dapat menghambat pertumbuhan awan meskipun cuaca terasa panas.

Pola juga dapat berubah ketika suatu wilayah dipengaruhi sistem cuaca yang lebih luas. Angin muson, misalnya, membawa perubahan pola angin dan pasokan uap air secara musiman. Pergantian musim dapat membuat hujan sore yang semula sering terjadi menjadi lebih jarang atau digantikan oleh hujan dengan waktu dan karakter berbeda.

BMKG menjelaskan bahwa variasi curah hujan Indonesia juga dipengaruhi fenomena atmosfer seperti Madden–Julian Oscillation [MJO] dan gelombang ekuator Kelvin serta Rossby. Fenomena tersebut dapat meningkatkan atau mengurangi kondisi yang mendukung pembentukan hujan selama beberapa hari hingga beberapa pekan, bergantung pada wilayah dan fase aktivitasnya.

Karena itu, hujan yang biasanya muncul pukul empat sore dapat bergeser menjadi hujan sejak pagi ketika sistem awan dan hujan bergerak masuk dari laut. Hujan juga mungkin berlangsung lebih lama apabila pasokan kelembapan dan dinamika atmosfer terus mendukung pertumbuhan awan.

Kondisi sebaliknya dapat terjadi ketika udara lebih kering, gerakan udara turun lebih dominan, atau angin menggeser daerah pembentukan awan. Dalam keadaan tersebut, hujan sore yang sebelumnya berulang dapat berhenti, meskipun matahari tetap memanaskan permukaan daratan setiap hari.

Penelitian tentang hujan di wilayah kepulauan Indonesia menunjukkan bahwa siklus harian atmosfer memang kuat, tetapi waktu dan intensitas puncak hujan dapat berubah akibat interaksi kondisi lokal dengan sistem cuaca yang lebih besar. Dengan kata lain, pola berulang merupakan kecenderungan, bukan jadwal yang dapat dijadikan kepastian.

Pengamatan sederhana tetap berguna untuk mengenali kebiasaan cuaca setempat. Akan tetapi, ketika hendak merencanakan kegiatan luar ruang atau menghadapi kemungkinan hujan lebat, masyarakat perlu memperhatikan prakiraan dan peringatan dini BMKG karena perubahan kondisi atmosfer dapat berlangsung lebih cepat daripada pola yang selama ini diamati.

Jadi, ketika hujan beberapa hari berturut-turut turun pada jam yang hampir sama, sebenarnya ada proses alam yang sedang berulang. Matahari menyediakan pemanasan harian, sementara kelembapan dan pergerakan udara menentukan apakah proses tersebut berakhir menjadi hujan. Langit memang tidak mempunyai jam tangan, tetapi atmosfer memiliki ritme. Dan seperti banyak ritme di alam, keteraturannya dapat berubah ketika kondisi yang menggerakkannya ikut berubah. [][Rommy Rimbarawa/KK]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.