Setiap kali kasus fraud di perbankan muncul, reaksi publik hampir selalu sama. Ada rasa kaget, ada kemarahan, dan ada pertanyaan sederhana yang terus berulang: kok bisa? Tapi setelah itu, narasi perlahan kembali ke pola lama, menyebut satu nama, satu pelaku, lalu menganggap masalahnya selesai di sana.

Beberapa waktu terakhir, kasus yang melibatkan BNI Cabang Aek Nabara kembali memunculkan pertanyaan yang sama. Dugaan penyimpangan dana nasabah membuat publik kembali melihat satu hal yang seharusnya tidak asing. Bahwa kasus seperti ini bukan pertama kali terjadi.

Jauh sebelumnya, publik pernah diguncang oleh kasus Malinda Dee di Citibank pada 2011. Seorang relationship manager yang berhasil menggelapkan dana nasabah dalam jumlah besar, dengan memanfaatkan posisi dan akses yang dimilikinya. Bahkan setelah itu, beberapa kasus serupa juga muncul di berbagai bank lain, dengan pola yang tidak sepenuhnya berbeda.

Di titik ini, pertanyaannya menjadi menarik. Apakah ini benar-benar soal individu yang menyalahgunakan kepercayaan, atau ada sesuatu dalam sistem yang terus memberi ruang untuk hal serupa terjadi kembali.

Baca Juga: Ikan Sapu-Sapu Semakin Banyak Bersarang, Tapi Kenapa Kita Baru Bergerak Sekarang?

Ketika Kesalahan Selalu Ditempatkan pada Individu

Dalam banyak pemberitaan, fokus sering diarahkan kepada pelaku. Nama disebut, jabatan dijelaskan, dan kronologi disusun sedetail mungkin. Dari situ, terbentuk kesan bahwa masalahnya memang berada pada individu yang bersangkutan.

Pendekatan ini terasa wajar, karena memang ada tindakan yang dilakukan secara langsung oleh orang tersebut. Namun jika dilihat lebih jauh, pola yang sama terus berulang di tempat yang berbeda. Ini menunjukkan bahwa persoalannya tidak berhenti pada individu.

Frederick W. Taylor dalam pendekatan awal manajemen memang menekankan efisiensi kerja individu, tetapi perkembangan teori organisasi modern justru bergeser ke arah sistem. James Reason, dalam konsep Swiss Cheese Model, menjelaskan bahwa kegagalan besar jarang terjadi karena satu kesalahan tunggal. Ia muncul karena adanya celah berlapis dalam sistem yang tidak tertutup dengan baik.

Jika pendekatan ini dibawa ke konteks perbankan, maka fraud tidak hanya dilihat sebagai tindakan individu. Ia juga menjadi indikator bahwa ada lapisan pengawasan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Dalam kasus Malinda Dee, misalnya, akses terhadap dana nasabah tidak terjadi dalam ruang kosong. Ada proses, ada otorisasi, dan ada pengawasan yang seharusnya menjadi pengaman. Ketika itu bisa ditembus, berarti ada titik lemah yang tidak terdeteksi atau tidak diperbaiki.

Baca Juga: Dari FH UI ke ITB, lalu ke Unpad, Kita Sedang Membaca Fakta, atau Menyusun Cerita?

Sistem yang Terlihat Kuat, Tapi Bisa Ditembus

Perbankan dikenal sebagai industri dengan regulasi ketat. Ada audit internal, pengawasan eksternal, dan berbagai prosedur yang dirancang untuk mencegah penyimpangan. Dari luar, sistem ini terlihat solid dan sulit ditembus.

Namun kenyataannya, kasus demi kasus menunjukkan bahwa sistem tersebut tidak sepenuhnya kebal. Bukan karena tidak ada aturan, tetapi karena aturan itu berjalan di dalam struktur yang tetap memiliki celah.

Shoshana Zuboff dalam The Age of Surveillance Capitalism memang lebih banyak membahas pengumpulan data, tetapi ia juga menyinggung bagaimana sistem besar sering kali terlihat kuat karena kompleksitasnya. Kompleksitas ini justru bisa membuat pengawasan menjadi tidak selalu efektif, karena terlalu banyak titik yang harus diperhatikan.

Dalam organisasi besar, semakin kompleks sistemnya, semakin besar kemungkinan adanya area yang tidak terpantau secara optimal. Dari sinilah potensi penyimpangan bisa muncul, bukan sebagai anomali, tetapi sebagai konsekuensi dari sistem yang tidak sepenuhnya tertutup.

Saya menganggap kasus di BNI Aek Nabara, jika dilihat dari sudut ini, tidak berdiri sendiri. Ia jadi bagian dari pola yang lebih besar, ketika sistem yang seharusnya hadir sebagai pengaman, justru tidak selalu mampu mendeteksi atau mencegah penyimpangan sejak awal.

Baca Juga: Perubahan Tren Industri, dari Kualitas ke Kecepatan

Kita Terlalu Cepat Menyebut Ini Kasus

Ada satu hal yang menarik dari cara publik merespons. Setiap kejadian seperti ini sering disebut sebagai ‘kasus’, seolah-olah ia adalah peristiwa yang berdiri sendiri dan tidak terhubung dengan kejadian lain.

Padahal, jika pola yang sama terus muncul, mungkin yang sedang terjadi bukan sekadar kasus. Ia bisa jadi adalah bagian dari sistem yang belum sepenuhnya diperbaiki.

Dalam Normal Accidents, Charles Perrow menjelaskan bahwa dalam sistem yang kompleks dan saling terhubung, kegagalan bukan sesuatu yang tidak mungkin. Bahkan, dalam kondisi tertentu, ia justru menjadi sesuatu yang hampir tidak terhindarkan.

Jika perspektif ini digunakan, maka pertanyaannya bergeser. Bukan lagi “siapa yang salah?”, tetapi “di mana sistem ini memberi ruang?”. Karena selama ruang itu masih ada, kemungkinan terjadinya kasus serupa tidak benar-benar hilang.

Menyebut nama pelaku memang penting untuk akuntabilitas. Namun berhenti di sana, membuat kita kehilangan kesempatan untuk membaca masalah yang lebih besar. Sistem yang sama akan tetap berjalan, dengan potensi yang sama untuk ditembus kembali.

Hmmm, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan hanya siapa yang melakukan. Tapi mengapa hal itu bisa terus terjadi di tempat yang seharusnya paling dijaga. []


Rudi Tenggarawan/KK