Oleh Adrian Damar

Setiap kali aparat penegak hukum mengungkap kasus pencucian uang, ada satu hal yang hampir selalu menarik perhatian publik. 

Di balik perkara tersebut, sering muncul nama-nama usaha yang tampaknya biasa saja. Ada restoran, kafe, tempat cuci mobil, salon, hotel, hingga galeri seni. Sekilas, semuanya terlihat seperti bisnis yang dijalankan sebagaimana mestinya.

Lalu muncul pertanyaan yang sama: mengapa usaha-usaha seperti itu sering dikaitkan dengan pencucian uang?

Pertanyaan tersebut sering melahirkan kesalahpahaman. Tak sedikit orang kemudian memandang curiga setiap bisnis yang bergerak di sektor tersebut. Padahal, sebagian besar pemilik usaha menjalankan bisnisnya secara jujur dan sah. Yang perlu dipahami adalah bahwa dunia penegakan hukum tidak pernah menilai sebuah usaha hanya dari jenis bisnisnya. Yang menjadi perhatian adalah karakter transaksi yang terjadi di dalamnya.

Di situlah letak persoalannya.

Baca Juga: Di Balik Setiap Perkara Besar, Mengapa Publik Selalu Mencari Tangan yang Tak Terlihat?

Bukan Jenis Usahanya, Melainkan Cara Uangnya Bergerak

Pencucian uang [money laundering] pada dasarnya merupakan upaya menyamarkan asal-usul uang yang diperoleh dari tindak pidana agar terlihat berasal dari kegiatan yang legal. Setelah uang hasil kejahatan masuk ke dalam sistem keuangan melalui berbagai cara, pelaku berusaha membuat jejaknya semakin sulit ditelusuri hingga akhirnya uang tersebut tampak seperti keuntungan dari aktivitas bisnis yang sah.

Karena itulah pelaku biasanya mencari usaha yang memungkinkan perputaran uang terjadi dalam jumlah besar dan relatif sulit diverifikasi secara langsung.

Bayangkan sebuah kafe yang menerima ratusan pelanggan setiap hari. Tidak semua transaksi dilakukan secara nontunai. Sebagian masih dibayar dengan uang tunai. Dari luar, orang hanya melihat meja yang terisi, kasir yang sibuk, dan pelanggan yang datang silih berganti. Sangat sulit bagi orang lain memastikan apakah hari itu benar ada 300 pelanggan, 500 pelanggan, atau bahkan lebih.

Karakter seperti inilah yang dalam berbagai kajian internasional disebut sebagai cash-intensive business, yaitu usaha yang menerima banyak transaksi tunai. Financial Action Task Force (FATF), lembaga internasional yang menyusun standar pemberantasan pencucian uang, sejak lama mengingatkan bahwa jenis usaha seperti ini memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi apabila pengawasannya lemah.

Namun kata ‘rentan’ sangat berbeda dengan ‘pasti digunakan’. Itulah garis yang sering terlupakan dalam percakapan publik.

Baca Juga: Menyelamatkan Keluarga Kelas Menengah di Tengah Ekonomi yang Kian Sulit

Mengapa Bisnis Tunai Lebih Menarik bagi Pelaku?

Jika seseorang ingin menyamarkan uang hasil kejahatan, ia memerlukan sebuah cerita yang terdengar masuk akal mengenai dari mana uang itu berasal. Bisnis berbasis uang tunai memberi ruang lebih besar untuk membangun cerita tersebut.

Misalnya, sebuah usaha dapat mengklaim memperoleh omset tertentu dari pelanggan yang datang setiap hari. Selama seluruh pencatatan, pajak, dan administrasinya tampak wajar, proses penelusuran akan jauh lebih kompleks dibandingkan usaha yang seluruh produksinya dapat dihitung secara fisik.

Bandingkan dengan sebuah pabrik yang memproduksi seribu unit barang setiap hari. Jumlah bahan baku, kapasitas mesin, stok, hingga distribusi relatif lebih mudah dicocokkan satu sama lain. Jika laporan penjualannya tiba-tiba melonjak berkali-kali lipat tanpa peningkatan produksi, kejanggalan tersebut akan lebih cepat terlihat.

Sebaliknya, pada sebagian usaha jasa atau usaha yang melayani pelanggan secara langsung, penghitungan omset sering bergantung kepada banyak variabel yang tidak selalu mudah diverifikasi secara kasat mata.

Itulah sebabnya berbagai lembaga internasional maupun PPATK menempatkan usaha berbasis transaksi tunai sebagai sektor yang perlu memperoleh perhatian lebih dalam upaya pencegahan pencucian uang.

Namun penting diingat, perhatian lebih bukan berarti stigma.

Baca Juga: Yang Habis Bukan Kesabaran, Tapi Kepercayaan: Kisah PPPK yang Tak Kunjung Punya Kejelasan

Kafe Hanya Salah Satu Contoh

Kafe sering muncul dalam percakapan publik karena bisnis ini berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Selain menjadi tempat makan, banyak kafe juga berfungsi sebagai ruang bekerja, bertemu klien, hingga berkumpul bersama teman. Aktivitas yang tinggi membuat sebagian orang berasumsi bahwa usaha seperti ini mudah dimanfaatkan untuk menyamarkan aliran dana.

Padahal, jika melihat berbagai perkara pencucian uang di banyak negara, sektor yang pernah disalahgunakan jauh lebih beragam.

Restoran, hotel, tempat hiburan, salon kecantikan, tempat parkir, usaha pencucian kendaraan, toko emas, galeri seni, dealer kendaraan mewah, hingga perusahaan properti pernah muncul dalam berbagai perkara yang ditangani aparat penegak hukum. Di negara yang melegalkan perjudian, kasino bahkan sejak lama dikenal sebagai salah satu sektor yang diawasi secara ketat karena volume transaksi uangnya yang sangat besar.

Kesamaan dari semua contoh tersebut bukan jenis usahanya. Kesamaannya terletak pada karakter transaksinya.

Semakin kompleks pergerakan uang yang terjadi dalam sebuah usaha, semakin besar pula kebutuhan terhadap sistem pengawasan, pencatatan, dan pelaporan yang baik. Karena itu, pemerintah di berbagai negara terus memperkuat regulasi mengenai pelaporan transaksi keuangan, prinsip mengenali pelanggan [know your customer], hingga kewajiban pelaporan transaksi mencurigakan oleh lembaga-lembaga tertentu.

Tujuannya bukan mempersulit pelaku usaha. Justru sebaliknya. Regulasi tersebut dirancang agar pelaku usaha yang menjalankan bisnis secara sah tidak ikut dirugikan oleh praktik-praktik yang dilakukan segelintir pihak.

Di sini kita perlu berhati-hati dalam menarik kesimpulan. Tidak adil jika sebuah kafe, restoran, atau usaha lain langsung dicurigai hanya karena bergerak di sektor yang secara teori memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi. Logika yang sama juga berlaku pada sektor lain. Bank dapat digunakan untuk kejahatan keuangan, tetapi bukan berarti setiap transaksi perbankan patut dicurigai. Kendaraan dapat dipakai melakukan tindak pidana, tetapi bukan berarti setiap pemilik kendaraan layak dipandang dengan curiga.

Pencucian uang bukan persoalan jenis usaha. Ia adalah persoalan perilaku pelaku kejahatan yang memanfaatkan celah dalam sebuah sistem.

Karena itu, ukuran yang paling penting bukanlah apakah sebuah bisnis menerima banyak uang tunai atau tidak. Ukuran yang jauh lebih menentukan adalah apakah usaha tersebut memiliki tata kelola yang transparan, pencatatan yang akurat, kepatuhan terhadap kewajiban perpajakan, serta kesediaan menjalankan berbagai mekanisme pengawasan yang telah diatur oleh hukum.

Memahami perbedaan itu penting agar kita tidak terjebak pada prasangka. Sebab perang melawan pencucian uang bukan dimenangkan dengan mencurigai seluruh jenis usaha tertentu, melainkan dengan memperkuat sistem yang membuat uang hasil kejahatan semakin sulit bersembunyi di balik aktivitas ekonomi yang sah. []

Bandung, 15 Juli 2026