Oleh Adrian Damar

Ada satu kalimat yang semakin sering saya dengar dalam beberapa bulan terakhir: “Sekarang apa-apa mahal.”

Kalimat itu muncul di warung kopi, di grup keluarga, di ruang kantor, bahkan dalam percakapan santai yang sebelumnya tidak pernah menyentuh isu ekonomi. Harga kebutuhan pokok naik. Biaya pendidikan terus bertambah. Pengeluaran transportasi terasa lebih berat. Tagihan rumahtangga semakin sulit diabaikan. Sementara itu, banyak orang merasa penghasilannya tidak bertumbuh dengan kecepatan yang sama.

Bagi sebagian orang, kondisi seperti ini mungkin hanya dianggap sebagai bagian dari siklus ekonomi. Namun bagi banyak keluarga kelas menengah, persoalannya terasa lebih dekat daripada sekadar grafik pertumbuhan atau angka inflasi. Yang mereka rasakan adalah hidup yang perlahan menjadi semakin sempit.

Mereka masih bekerja. Mereka masih memiliki penghasilan. Mereka masih bisa membayar berbagai kebutuhan pokok. Namun ruang untuk bernapas terasa semakin kecil dari tahun ke tahun. Dan mungkin di situlah letak persoalan yang sebenarnya.

Baca Juga: Yang Habis Bukan Kesabaran, Tapi Kepercayaan: Kisah PPPK yang Tak Kunjung Punya Kejelasan 

Kelas Menengah Selalu Diminta Kuat Sendiri

Dalam banyak pembahasan ekonomi, kelompok kelas menengah sering berada di posisi yang unik. Mereka tidak dianggap miskin sehingga jarang menjadi prioritas utama berbagai bantuan sosial. Namun mereka juga tidak memiliki sumber daya yang cukup besar untuk merasa aman menghadapi berbagai guncangan ekonomi.

Mereka adalah keluarga yang membayar cicilan rumah. Mereka membiayai pendidikan anak. Mereka menanggung biaya kesehatan keluarga. Mereka membayar pajak. Mereka menghidupi orang tua yang mulai memasuki usia lanjut. Mereka juga berusaha menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan dan masa depan.

Masalahnya, hampir semua komponen pengeluaran tersebut mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi memang tidak selalu berada pada level yang mengkhawatirkan secara nasional. Namun pengalaman sehari-hari masyarakat sering berbeda dari angka rata-rata tersebut. Harga bahan pangan, biaya pendidikan, biaya kesehatan, dan berbagai kebutuhan rumah tangga terasa meningkat lebih cepat dibanding kemampuan sebagian keluarga untuk menyesuaikan pendapatannya.

Akibatnya, banyak keluarga kelas menengah mulai melakukan hal yang sama. Mereka mengurangi pengeluaran yang sebelumnya dianggap wajar. Mereka menunda rencana membeli rumah yang lebih besar. Mereka mengurangi frekuensi liburan. Mereka menunda renovasi rumah. Mereka mulai menghitung ulang berbagai keputusan yang sebelumnya bisa diambil dengan lebih tenang.

Tak ada satu keputusan besar yang mengubah hidup mereka secara drastis. Yang terjadi justru lebih halus dari itu. Hidup mereka perlahan-lahan dikurangi.

Mungkin itulah sebabnya banyak keluarga kelas menengah merasa lelah meskipun secara statistik mereka masih berada dalam kategori yang relatif aman. Mereka tidak sedang menghadapi satu bencana besar. Mereka sedang menghadapi tekanan kecil yang datang dari berbagai arah secara bersamaan. Dan tekanan seperti itu sering lebih sulit dikenali.

Baca Juga: Pekerjaan yang Aman [Mungkin] Sudah Tidak Ada 

Menyelamatkan Keluarga Bukan Sekadar Soal Uang

Ketika ekonomi terasa semakin berat, respons pertama yang biasanya muncul adalah mencari cara untuk menghemat pengeluaran. Langkah tersebut tentu penting. Tidak ada keluarga yang bisa bertahan lama tanpa kemampuan mengelola keuangan dengan baik.

Namun, semakin lama mengamati kondisi hari ini, saya merasa persoalannya lebih besar daripada sekadar soal pengeluaran bulanan. Yang sedang terancam bukan hanya kondisi keuangan keluarga. Yang mulai tergerus adalah rasa aman, ketenangan.

Dulu banyak keluarga kelas menengah memiliki keyakinan bahwa selama mereka bekerja keras dan menjalankan hidup dengan disiplin, masa depan akan relatif bisa diprediksi. Anak-anak bisa sekolah lebih tinggi. Rumah bisa dilunasi. Tabungan bisa bertambah. Kehidupan mungkin tidak mewah, tetapi bergerak ke arah yang lebih baik. Hari ini keyakinan itu mulai terguncang.

Banyak orang tetap bekerja keras, tetapi tidak lagi yakin bahwa kerja keras saja cukup. Mereka melihat biaya hidup meningkat lebih cepat daripada pendapatan. Mereka melihat dunia kerja menjadi semakin kompetitif. Mereka melihat perubahan teknologi yang mengancam berbagai profesi. Mereka melihat ketidakpastian global yang bisa berdampak pada kehidupan sehari-hari dalam waktu yang sangat cepat.

Dalam situasi seperti itu, menyelamatkan keluarga tak cukup hanya dengan mencari tambahan penghasilan. Keluarga juga perlu membangun ketahanan yang lebih dalam.

Ketahanan itu bisa berupa kemampuan untuk hidup lebih sederhana tanpa merasa gagal. Ketahanan itu bisa berupa keberanian untuk mengurangi gaya hidup yang lebih banyak didorong oleh tekanan sosial daripada kebutuhan nyata. Ketahanan itu bisa berupa kemampuan belajar keterampilan baru agar tetap relevan di dunia kerja yang berubah cepat. Yang tak kalah penting adalah membangun percakapan yang jujur di dalam keluarga.

Terlalu banyak keluarga yang menghadapi tekanan ekonomi dalam diam. Orangtua memikul kekhawatiran sendiri. Pasangan saling menebak kondisi keuangan tanpa benar-benar membicarakannya. Anak-anak tidak memahami mengapa berbagai pengeluaran mulai dibatasi. Padahal salah satu kekuatan terbesar keluarga justru terletak pada kemampuannya menghadapi masalah bersama-sama.

Karena itu, menyelamatkan keluarga kelas menengah hari ini bukan hanya soal angka dalam rekening. Ini juga soal menjaga kesehatan mental, menjaga hubungan antaranggota keluarga, dan menjaga kemampuan untuk tetap melihat masa depan dengan cukup jernih.

Kita tentu tidak bisa mengendalikan seluruh kondisi ekonomi. Kita tidak bisa menentukan harga pangan global. Kita tidak bisa mengendalikan kebijakan energi dunia. Kita juga tidak bisa memastikan kapan situasi ekonomi akan benar-benar membaik.

Namun ada satu hal yang masih bisa dilakukan: kita bisa memastikan bahwa keluarga tidak kehilangan arah ketika keadaan menjadi lebih sulit.

Sebab dalam banyak krisis, yang membuat keluarga bertahan bukan semata-mata jumlah uang yang mereka miliki. Yang membuat mereka bertahan adalah kemampuan untuk beradaptasi, kemampuan untuk saling mendukung, dan kemampuan untuk mengambil keputusan dengan kepala yang tetap dingin.

Mungkin itulah tantangan terbesar kelas menengah hari ini. Bukan sekadar bertahan dari kenaikan harga atau tekanan ekonomi. Tantangannya adalah bagaimana tetap membangun masa depan ketika rasa aman yang selama ini dianggap wajar mulai terasa semakin mahal.

Dan jika ada sesuatu yang perlu diselamatkan terlebih dahulu, mungkin itu bukan gaya hidup, bukan status sosial, dan bukan berbagai simbol keberhasilan yang sering kita kejar. Mungkin yang perlu diselamatkan terlebih dahulu adalah keluarga sendiri. Karena ketika ekonomi sedang sulit, keluarga yang tetap kuat sering jadi aset paling berharga yang masih dimiliki seseorang. []

Bandung, 12 Juni 2026