Perbedaan visi antarrekan bisnis tidak selalu harus berakhir dengan perpisahan. Ketika konflik mulai menghambat perusahaan, mempertahankan kebersamaan pun memiliki konsekuensi.
Dua sahabat mendirikan usaha dengan modal dan impian yang mereka bangun bersama. Seorang menangani produksi, sementara rekannya mengurus pemasaran serta keuangan. Bertahun-tahun mereka saling melengkapi hingga perusahaan berkembang dan memiliki sejumlah karyawan.
Persoalan muncul ketika salah seorang ingin memperluas usaha dengan pinjaman modal, sedangkan rekannya memilih pertumbuhan yang lebih berhati-hati. Perbedaan pandangan yang semula dapat diselesaikan melalui percakapan perlahan berubah menjadi pertengkaran setiap kali keputusan penting harus diambil.
Situasi tersebut menggambarkan persoalan yang mungkin dialami para pendiri usaha. Dua orang yang pernah memiliki tujuan sama tidak harus mempertahankan pandangan serupa selamanya. Pertanyaannya, apakah perbedaan itu cukup menjadi alasan untuk pecah kongsi?
Baca Juga: Produk Laris Belum Tentu Menghasilkan Untung, Kok Bisa?
Ketika Perbedaan Visi Mulai Mengganggu Jalannya Perusahaan
Kemitraan bisnis sering dibangun atas keterampilan dan sumber daya yang saling melengkapi. Ada pihak yang menyediakan modal, menguasai operasional, atau memiliki jaringan pelanggan. Perbedaan tersebut dapat menjadi kekuatan selama tanggung jawab dan kewenangan masing-masing dipahami dengan jelas.
Masalah muncul ketika perusahaan berkembang, tetapi cara pengambilan keputusan masih bergantung pada kesepakatan informal. Pembagian tugas yang dahulu dianggap adil mungkin tidak lagi sesuai dengan kontribusi atau kebutuhan usaha. Jika dibiarkan, persoalan operasional dapat berubah menjadi konflik personal.
Dalam artikel Harvard Business Review pada Juni 2024, Travis Howell, Steven Gray, dan Esther Sackett membahas bagaimana perbedaan motivasi, harapan, dan hubungan kekuasaan dapat mengganggu kemitraan para pendiri perusahaan. Konflik tidak selalu disebabkan oleh buruknya karakter seseorang, tetapi juga dapat berakar pada ekspektasi yang tidak pernah dibicarakan secara terbuka.
Peneliti kewirausahaan Noam Wasserman juga menyoroti dilema antara mempertahankan kendali perusahaan dan mengembangkan nilai usaha. Pendiri yang ingin memperbesar bisnis terkadang harus berbagi kepemilikan atau menyerahkan sebagian kewenangan. Keputusan tersebut dapat menjadi sumber pertentangan apabila tujuan masing-masing pihak tidak lagi sejalan.
Konflik menjadi lebih serius ketika mulai menghambat operasional. Pembayaran pemasok tertunda, keputusan investasi terhenti, atau karyawan menerima arahan yang saling bertentangan. Pada tahap tersebut, perselisihan tidak lagi hanya menjadi urusan para pemilik karena pihak lain ikut menanggung akibatnya.
Baca Juga: Membuat Orang Membeli Sekali Mungkin Mudah, Tapi Apa yang Membuat Mereka Kembali?
Memperbaiki Kemitraan atau Berpisah, Bagaimana Menentukan Pilihannya?
Sebelum memutuskan pecah kongsi, para mitra perlu memahami sumber persoalan yang sebenarnya. Apakah konflik terjadi karena perbedaan visi, pembagian tugas, masalah keuangan, atau pelanggaran kesepakatan? Jawabannya menentukan apakah hubungan masih dapat diperbaiki melalui perubahan tata kelola.
Apabila persoalan berkaitan dengan kewenangan, pembagian tanggung jawab dapat ditinjau kembali. Mediasi oleh pihak independen juga dapat membantu ketika komunikasi sudah terlalu dipengaruhi emosi. Kesepakatan baru sebaiknya dituangkan secara tertulis agar tidak menimbulkan ketidakjelasan berikutnya.
Akan tetapi, mempertahankan kemitraan bukan kewajiban dalam setiap keadaan. Ketika tujuan usaha tidak lagi dapat dipertemukan atau keputusan penting terus mengalami kebuntuan, berpisah secara profesional dapat menjadi pilihan yang masuk akal.
Dalam perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas [PT], pengunduran diri dari jabatan tidak otomatis menghapus kepemilikan saham. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, sebagaimana telah diubah, membedakan mekanisme pengangkatan atau pemberhentian direksi dari pemindahan hak atas saham. Karena itu, penyelesaian harus mempertimbangkan anggaran dasar, perjanjian, dan ketentuan hukum yang berlaku.
Jika salah satu pihak ingin membeli kepemilikan rekannya, penilaian usaha secara independen dapat membantu menyediakan dasar negosiasi. Aset perusahaan, utang, piutang, dan hak pribadi juga harus dipisahkan secara jelas. Pendampingan profesional diperlukan terutama ketika terdapat perbedaan penafsiran mengenai hak serta kewajiban masing-masing.
Kepentingan karyawan, pelanggan, dan pemasok tidak boleh diabaikan selama proses tersebut. Konflik para pemilik seharusnya tidak menjadi alasan untuk menunda kewajiban perusahaan atau menghentikan layanan tanpa penyelesaian yang bertanggung jawab.
Pecah kongsi memang dapat meninggalkan kekecewaan, terutama jika usaha dibangun bersama sahabat atau keluarga. Meski begitu, berakhirnya kemitraan tidak harus menghapus seluruh pengalaman baik yang pernah dijalani. Barangkali keberhasilan terakhir dua orang dalam membangun bisnis bersama justru terlihat dari kemampuan mereka menyelesaikan perpisahan tanpa menghancurkan apa yang pernah diperjuangkan. [][Adrian Damar/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.