Terbangun pada malam hari belum tentu menandakan penyakit. Tetapi jika sering terjadi dan mengganggu aktivitas, penyebabnya perlu diperhatikan.
Jam digital di samping tempat tidur menunjukkan pukul 02.17. Seorang perempuan membuka mata, lalu berusaha kembali tidur dengan mengubah posisi tubuh beberapa kali. Ketika akhirnya terlelap, ia kembali terbangun menjelang pukul empat pagi dan mulai memikirkan pekerjaan yang harus diselesaikan esok hari.
Paginya, tubuh terasa kurang segar meskipun ia sudah berada di tempat tidur selama hampir delapan jam. Ia menyalahkan kebiasaan menggunakan ponsel sebelum tidur, lalu mencoba tidur lebih awal pada malam berikutnya. Sayangnya, kejadian serupa terus berulang hingga ia mulai kesulitan berkonsentrasi saat bekerja.
Pengalaman ilustratif tersebut menunjukkan bahwa lama seseorang berada di tempat tidur tidak selalu sama dengan waktu tidur yang benar-benar diperoleh. Terbangun sesekali merupakan bagian dari pola tidur manusia, tetapi gangguan yang berulang dan sulit diatasi dapat memengaruhi kualitas istirahat. Lantas, kapan keadaan tersebut masih tergolong biasa dan kapan perlu diperiksakan?
Baca Juga: Mengapa Tekanan Darah Tinggi Bisa Tidak Menimbulkan Keluhan?
Mengapa Seseorang Bisa Berulang Kali Terbangun Saat Tidur?
Tidur bukan keadaan ketika otak sepenuhnya berhenti bekerja. Sepanjang malam, tubuh melewati beberapa siklus tidur yang melibatkan fase tidur ringan, tidur dalam, dan fase rapid eye movement [REM]. Perubahan antarfase dapat disertai terbangun singkat, bahkan sering kali tanpa diingat keesokan harinya.
Persoalan muncul ketika seseorang terbangun cukup lama atau berulang kali hingga sulit memperoleh tidur yang memulihkan kondisi tubuh. National Institutes of Health [NIH] menjelaskan bahwa insomnia dapat berupa kesulitan mulai tidur, mempertahankan tidur, atau terbangun terlalu pagi dan tidak mampu tidur kembali. Keluhan tersebut dapat terjadi meskipun seseorang memiliki waktu dan lingkungan yang memadai untuk beristirahat.
Penyebabnya tidak selalu merupakan gangguan tidur kronis. Stres, perubahan jadwal kerja, kebisingan, suhu kamar yang tidak nyaman, konsumsi kafein, dan penggunaan alkohol dapat mengganggu tidur. Alkohol mungkin membuat seseorang lebih mudah mengantuk, tetapi juga dapat menyebabkan tidur menjadi lebih ringan sehingga ia lebih sering terbangun.
Kondisi kesehatan tertentu juga dapat berperan, seperti nyeri berkepanjangan, gangguan kecemasan, perubahan hormonal, atau efek samping obat. Keinginan buang air kecil berulang kali pada malam hari dapat ikut memutus waktu tidur. Karena penyebabnya beragam, tidak tepat menganggap seluruh keluhan tersebut hanya sebagai akibat kebiasaan begadang.
Gangguan pernapasan saat tidur perlu mendapat perhatian khusus. Pada obstructive sleep apnea [OSA], jalan napas mengalami penyempitan atau penyumbatan berulang sehingga pernapasan terganggu dan tidur dapat terputus. Penderitanya mungkin mendengkur keras, terbangun sambil tersedak atau terengah-engah, dan merasa sangat mengantuk pada siang hari.
Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute [NHLBI], sebagian penderita apnea tidur bahkan tidak menyadari gangguan pernapasannya sendiri. Pasangan atau anggota keluarga yang mendengar dengkuran keras maupun menyaksikan napas terhenti sesaat terkadang justru menjadi orang pertama yang mengenali tanda tersebut.
Baca Juga: Panas yang Kita Rasakan Bisa Berbahaya, Kapan Tubuh Mengalami Heat Stroke?
Kapan Gangguan Tidur Perlu Dibawa ke Dokter?
Frekuensi, lamanya keluhan, dan dampak terhadap kehidupan sehari-hari merupakan hal penting untuk diperhatikan. NHLBI menjelaskan bahwa insomnia kronis umumnya ditandai kesulitan tidur sedikitnya tiga malam setiap minggu selama tiga bulan atau lebih. Kondisi tersebut dapat disertai kelelahan, kesulitan berkonsentrasi, perubahan suasana hati, atau penurunan kemampuan beraktivitas.
Meski demikian, seseorang tidak perlu menunggu tiga bulan apabila gangguan tidur sudah mengganggu pekerjaan, kegiatan belajar, atau keselamatan saat berkendara. Pemeriksaan lebih awal juga diperlukan jika terdapat dengkuran keras disertai jeda napas, terbangun dengan sensasi tersedak, atau rasa kantuk berlebihan meskipun waktu tidur tampak cukup.
Sebelum berkonsultasi, mencatat pola tidur selama satu hingga dua minggu dapat membantu dokter memahami persoalan yang terjadi. Catatan tersebut dapat memuat waktu mulai tidur, frekuensi terbangun, waktu bangun pagi, konsumsi kafein, serta rasa kantuk pada siang hari. Informasi mengenai obat yang digunakan dan keluhan kesehatan lain juga perlu disampaikan.
Perubahan kebiasaan dapat membantu sebagian orang memperoleh tidur yang lebih baik. Menjaga jadwal tidur dan bangun secara teratur, menciptakan kamar yang gelap dan nyaman, serta mengurangi kafein menjelang malam merupakan langkah yang dianjurkan. Aktivitas fisik teratur juga bermanfaat, selama waktunya tidak justru membuat seseorang semakin sulit tidur.
Jika insomnia telah berlangsung kronis, terapi perilaku kognitif untuk insomnia atau cognitive behavioral therapy for insomnia [CBT-I] merupakan pendekatan yang direkomendasikan sebagai penanganan awal. American Academy of Sleep Medicine mendukung penggunaan terapi tersebut berdasarkan berbagai penelitian klinis. Penggunaan obat tidur sebaiknya dilakukan melalui evaluasi tenaga kesehatan, bukan menjadi solusi yang terus diulang tanpa mengetahui penyebab gangguan tidur.
Pemeriksaan juga dapat mengungkap bahwa persoalan utamanya bukan insomnia. Apabila dokter mencurigai apnea tidur, pemeriksaan khusus selama tidur mungkin diperlukan untuk menilai pola pernapasan. Hasil evaluasi akan membantu menentukan penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.
Tidur yang baik tidak berarti seseorang harus terlelap tanpa pernah terbangun sedikit pun. Yang lebih penting adalah memperoleh istirahat yang cukup, mampu kembali tidur setelah terbangun, serta dapat menjalani kegiatan esok hari tanpa gangguan berarti. Ketika malam yang seharusnya menjadi waktu pemulihan justru terus meninggalkan kelelahan, memeriksakan penyebabnya merupakan langkah yang lebih berguna daripada sekadar memaksa diri tidur lebih lama. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.