Oleh Rudi Tenggarawan
Belakangan saya semakin sering menemukan gambar yang bagus, tulisan yang rapi, dan video yang nyaris sempurna. Anehnya, semakin bagus semuanya terlihat, semakin cepat pula saya ingin melewatinya.
Saya mengenali polanya. Perempuan berwajah terlalu sempurna berdiri di tengah laboratorium futuristis, cahaya ungu kebiruan memantul dari kaca, partikel kecil beterbangan, lalu kamera bergerak perlahan seperti semua produk sedang menyelamatkan peradaban. Di tempat lain, sebuah tulisan dibuka dengan kalimat tentang “era yang terus berkembang”, dilanjutkan beberapa paragraf yang terdengar masuk akal, kemudian ditutup dengan ajakan “merangkul masa depan”.
Tidak ada yang benar-benar salah. Justru itu masalahnya. Semuanya cukup bagus untuk diterbitkan, tetapi terlalu sedikit yang membuat saya ingin berhenti.
Istilah AI slop belakangan digunakan untuk menggambarkan banjir konten buatan kecerdasan buatan yang diproduksi dengan mudah, cepat, dan dalam jumlah besar. Persoalannya bukan semata bahwa konten semacam itu buruk. Sebagian bahkan terlihat sangat profesional.
Yang melelahkan adalah keseragamannya. Wajah berbeda, tetapi ekspresinya terasa sama. Produk berbeda, tetapi iklannya seperti pernah kita lihat. Topiknya berganti, tetapi susunan kalimatnya terdengar familiar. Bahkan kesalahan kecil yang dulu membuat sebuah karya terasa manusiawi perlahan digantikan oleh kesempurnaan yang anehnya tak meninggalkan ingatan.
Fenomena ini sudah melampaui keluhan orang-orang yang terlalu banyak menghabiskan waktu di internet. YouTube sejak Juli 2025 memperjelas kebijakan monetisasinya dengan memasukkan konten repetitif dan diproduksi massal ke kategori konten tidak autentik. Pedoman itu bahkan secara khusus menyebut konten AI yang menggunakan templat generik atau tidak orisinal tanpa perspektif autentik kreatornya sebagai contoh konten yang tidak layak dimonetisasi.
YouTube tidak melarang penggunaan AI. Platform itu justru menegaskan bahwa kreator tetap boleh menggunakannya untuk membantu bercerita. Yang mulai dipersoalkan adalah ketika satu video dapat ditukar dengan video lainnya tanpa kita merasa kehilangan sesuatu.
Saya rasa kalimat terakhir itu menjelaskan kegelisahan saya.
Baca Juga: Mengapa Kita Begitu Ingin Naik Kelas, tetapi Sering Tak Sabar Menjalani Prosesnya?
Ketika Bagus Tak Lagi Cukup Membuat Kita Peduli
Ada masa ketika menghasilkan sesuatu membutuhkan ongkos yang cukup mahal. Membuat ilustrasi membutuhkan keterampilan. Menghasilkan foto membutuhkan kamera, lokasi, pencahayaan, model, dan waktu. Membuat musik membutuhkan instrumen, kemampuan bermain, rekaman, pencampuran suara, lalu distribusi. Menulis pun mempunyai ongkosnya sendiri: berpikir.
AI memangkas banyak ongkos tersebut secara dramatis. Seseorang sekarang dapat meminta ilustrasi dalam hitungan detik, menghasilkan musik dalam beberapa menit, membuat video tanpa kamera, atau mendapatkan seribu kata sebelum kopi di mejanya sempat dingin.
Saya menikmati kemudahan itu. Tetapi kemudahan mempunyai konsekuensi yang jarang kita bicarakan: ketika ongkos membuat sesuatu turun, ongkos untuk membuat sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dibuat ikut turun.
Kita sekarang mampu menghasilkan sesuatu sebelum benar-benar mempunyai sesuatu untuk dikatakan.
Musik memberikan gambaran yang hampir absurd. Deezer melaporkan pada Juli 2026 bahwa sekitar 90.000 lagu yang sepenuhnya dihasilkan AI masuk ke platformnya setiap hari. Pada puncaknya selama Juni, jumlah itu bahkan melampaui separuh seluruh musik baru yang diunggah dalam sehari.
Meski begitu, volume produksi ternyata tidak sama dengan keinginan manusia untuk mendengarkan. Menurut Deezer, musik yang sepenuhnya dihasilkan AI hanya menyumbang sekitar 1–3 persen aktivitas pemutaran di platform tersebut. Deezer juga mengecualikan lagu yang terdeteksi sebagai AI dari rekomendasi algoritmik dan daftar putar editorialnya.
Saya tidak membaca angka itu sebagai bukti bahwa manusia pasti menolak musik buatan AI. Teknologinya masih berkembang. Selera manusia juga berubah. Sangat mungkin suatu hari nanti kita mendengar lagu buatan AI yang benar-benar kita cintai tanpa terlalu mempersoalkan siapa atau apa yang membuatnya.
Tetapi ada paradoks yang sulit diabaikan: kita mampu membuat lebih banyak daripada yang ingin dikonsumsi manusia.
Mungkin itu sebabnya kata soulless terasa begitu sering muncul ketika orang membicarakan karya AI. Bukan karena mesin seharusnya mempunyai jiwa, lalu gagal memilikinya. Mesin memang tidak menjalani patah hati, kehilangan pekerjaan, bertengkar dengan ayahnya, jatuh cinta, menunggu seseorang pulang, atau merasa malu terhadap sesuatu yang pernah dibuatnya.
Yang sebenarnya kita cari mungkin adalah jejak keputusan manusia.
Mengapa fotografer memilih sudut itu? Mengapa penulis mempertahankan kalimat yang sedikit ganjil? Mengapa penyanyi membiarkan napasnya terdengar? Mengapa ilustrator sengaja meninggalkan ruang kosong yang terasa tidak seimbang? Pilihan-pilihan itulah yang membuat karya mempunyai sidik jari.
Sebaliknya, sesuatu terasa generik ketika semua keputusan diambil menuju jawaban yang paling aman. Komposisinya benar, pencahayaannya indah, bahasanya sopan, strukturnya lengkap, dan emosinya tersedia dalam dosis yang tepat: Bagus. Rapi. Lalu terlupakan.
Baca Juga: Kita Ingin Berdiri di Atas Kaki Sendiri, Tapi Siapkah Menanggung Proses Belajarnya?
Ketika Produksi Tak Lagi Langka, Pilihan Jadi Mahal
Saya kira di sinilah pembicaraan tentang AI slop sebaiknya tidak berubah menjadi pengadilan terhadap AI. Manusia yang memutuskan apa yang diproduksi.
Tak ada mesin yang memaksa sebuah situs menerbitkan puluhan artikel generik agar mendapat kunjungan. Tidak ada model AI yang memerintahkan sebuah akun membuat ratusan gambar hanya supaya lini masa terus terisi. Tidak ada teknologi yang mengharuskan kita menghasilkan lima puluh video ketika sebenarnya kita hanya mempunyai satu gagasan.
AI hanya membuatnya mungkin. Kita yang kemudian mengubah kemungkinan menjadi volume.
Masalahnya, internet tidak memperoleh tambahan perhatian manusia sebanyak tambahan konten yang sekarang dapat kita produksi. Sehari tetap 24 jam. Mata kita tetap dua. Kemampuan manusia untuk membaca, mendengar, menonton, tertawa, terkejut, dan peduli tetap mempunyai batas.
Maka ketika produksi menjadi nyaris tidak terbatas, yang langka bukan lagi konten. Yang langka adalah perhatian.
Itulah sebabnya saya semakin curiga bahwa masa depan kreativitas justru tidak ditentukan oleh siapa yang mampu menghasilkan paling banyak. Ketika semua orang mempunyai akses kepada mesin yang dapat menulis, menggambar, membuat musik, menyunting video, dan menawarkan seratus alternatif dalam beberapa detik, kemampuan teknis semata semakin sulit menjadi pembeda. Yang jadi mahal justru selera.
Kemampuan mengatakan yang ini bagus, tetapi terlalu biasa. Yang itu indah, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Yang ini belum sempurna, tetapi mempunyai sesuatu yang membuat saya ingin melihatnya sekali lagi. Termasuk kemampuan yang mungkin paling sulit: membuang.
Dari seratus gambar, pilih tiga. Dari dua puluh gagasan, kerjakan satu. Dari sepuluh paragraf yang terdengar pintar, hapus enam kalau memang tidak menambah apa-apa.
Teknologi mengajari kita membuat lebih banyak. Mungkin manusia perlu belajar kembali membuat lebih sedikit.
Sebab AI slop sebenarnya bukan sekadar persoalan estetika buruk. Ia adalah konsekuensi dari sebuah zaman yang mulai menyamakan kemampuan memproduksi dengan alasan untuk memproduksi. Kita sudah melihat ke mana logika itu membawa kita.
Pada YouTube, konten yang dibuat dari templat dengan sedikit variasi dianggap tidak autentik untuk kepentingan monetisasi. Di Deezer, puluhan ribu lagu AI dapat masuk setiap hari sementara hanya sebagian kecil aktivitas mendengarkan yang menuju musik tersebut. Dua industri yang berbeda sedang berhadapan dengan pertanyaan yang serupa: apa yang harus dilakukan ketika teknologi mampu menghasilkan pasokan jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memberi perhatian?
Saya tidak ingin kembali ke masa ketika membuat sesuatu harus sulit. Saya juga tidak percaya bahwa sebuah karya otomatis lebih bernilai hanya karena manusia menghabiskan seratus jam membuatnya. AI dapat membantu manusia bekerja lebih cepat, mencoba kemungkinan yang sebelumnya terlalu mahal, bahkan memberi kesempatan kepada orang yang tidak mempunyai keterampilan teknis tertentu untuk mengekspresikan gagasannya. Itu kemajuan yang layak dirayakan.
Well, kemudahan seharusnya membebaskan waktu kita untuk berpikir lebih baik, bukan membebaskan kita dari keharusan berpikir. Mungkin itu sebabnya saya mulai tidak terlalu terkesan ketika melihat sesuatu yang sekadar indah.
Saya ingin tahu siapa yang memilihnya. Mengapa ia dibuat. Apa yang ingin dikatakan. Apa yang sengaja dibuang. Apa yang membuat karya itu hanya bisa menjadi dirinya sendiri dan tidak dapat diganti dengan seribu hasil generasi berikutnya.
Sebab dunia tampaknya tidak sedang kekurangan sesuatu untuk dilihat. Kita justru kebanjiran.
Dan di tengah banjir itu, mungkin pekerjaan kreatif manusia akan bergeser. Nilainya bukan lagi terutama pada kemampuan menghasilkan sesuatu, melainkan pada keberanian menentukan apa yang pantas mengambil sedikit waktu dari kehidupan orang lain.
AI telah membuat pertanyaan “bisakah ini dibuat?” semakin mudah dijawab. Jawabannya hampir selalu: bisa. Pertanyaan berikutnya jauh lebih manusiawi: apakah ini memang perlu dibuat? []
Bandung, 06 Oktober 2026