Banyak orang mengira rasa lelah hanya muncul setelah melakukan aktivitas fisik yang berat. Padahal, tidak sedikit yang merasa tubuhnya lesu meski seharian lebih banyak duduk, bekerja di depan komputer, atau bahkan berada di rumah. Apa yang sebenarnya terjadi?

Lelah identik dengan bekerja keras. Karena itu, ketika tubuh terasa tidak bertenaga padahal aktivitas fisik tidak banyak, sebagian orang menjadi bingung. Ada yang mengira dirinya kurang bugar. Ada pula yang langsung mengonsumsi vitamin dengan harapan tenaga segera kembali.

Padahal, rasa lelah tidak selalu berasal dari otot yang bekerja terlalu keras. Tubuh memiliki banyak sistem yang saling berkaitan. Ketika salah satunya terganggu, sinyal yang muncul bisa berupa kelelahan, meskipun secara fisik kita hampir tidak melakukan aktivitas yang berat.

Memahami penyebabnya menjadi langkah penting agar rasa lelah tidak sekadar ditutupi, tetapi benar-benar dicari sumbernya.

Baca Juga: TBC Sudah Ada Obatnya. Lalu Mengapa Kasusnya Masih Banyak?

Lelah Tidak Selalu Berasal dari Aktivitas Fisik

Menurut Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., rasa lelah dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kurang tidur, pola makan yang tidak seimbang, dehidrasi, stres berkepanjangan, hingga efek samping beberapa jenis obat. Dalam kondisi tertentu, kelelahan juga dapat menjadi gejala dari masalah kesehatan seperti anemia, gangguan tiroid, diabetes, atau infeksi yang belum disadari.

Hal serupa dijelaskan oleh Mayo Clinic, yang menyebut bahwa kelelahan merupakan gejala yang sangat umum, tetapi penyebabnya bisa sangat beragam. Karena itu, penting untuk melihat keseluruhan kondisi tubuh, bukan hanya berfokus pada seberapa banyak aktivitas yang dilakukan.

Aktivitas mental pun menguras energi. Berjam-jam berkonsentrasi, menghadapi tenggat pekerjaan, mengambil banyak keputusan, atau terus-menerus berpindah perhatian dari satu tugas ke tugas lain dapat membuat otak bekerja tanpa henti. Meski tubuh tampak diam, energi tetap banyak digunakan.

Kurang tidur yang berlangsung beberapa hari juga sering tidak disadari dampaknya. Seseorang mungkin masih mampu menyelesaikan pekerjaan, tetapi tubuh membutuhkan usaha yang lebih besar untuk mempertahankan konsentrasi dan kewaspadaan. Akibatnya, rasa lelah muncul meski aktivitas fisik tidak meningkat.

Baca Juga: Dunia yang Kita Lihat Belum Tentu Sama. Apa yang Dirasakan oleh Orang dengan Autisme?

Kebiasaan Sehari-hari Dapat Membantu Mengembalikan Energi

Apabila rasa lelah diduga berkaitan dengan pola hidup, beberapa perubahan sederhana dapat membantu tubuh memulihkan diri. Tidur yang cukup dengan jadwal yang teratur menjadi fondasi utama karena sebagian besar proses pemulihan berlangsung saat kita beristirahat.

Memenuhi kebutuhan cairan juga tidak boleh diabaikan. Dehidrasi ringan saja dapat membuat tubuh terasa lemas dan menurunkan kemampuan berkonsentrasi. Mengonsumsi makanan bergizi dengan kandungan karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral yang seimbang membantu tubuh memperoleh energi yang dibutuhkan untuk beraktivitas.

Menariknya, bergerak secukupnya justru dapat mengurangi rasa lelah. Jalan kaki ringan, peregangan, atau olahraga intensitas sedang secara rutin membantu melancarkan sirkulasi darah dan meningkatkan kebugaran, terutama bagi mereka yang lebih banyak duduk sepanjang hari.

Namun, bila rasa lelah berlangsung selama beberapa minggu, tidak membaik setelah beristirahat, atau disertai gejala lain seperti berat badan turun tanpa sebab yang jelas, sesak napas, demam berkepanjangan, atau jantung berdebar, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan tidak ada kondisi medis yang mendasarinya.

Yang perlu diingat, rasa lelah bukan musuh yang harus selalu dilawan. Seringkali, ia adalah cara tubuh mengingatkan bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan. Mendengarkan sinyal itu sejak awal jauh lebih baik daripada memaksakan diri terus bekerja hingga tubuh benar-benar kehabisan tenaga. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.