Tuberkulosis atau TBC bukanlah penyakit baru. Obatnya tersedia, pengobatannya sudah jelas, bahkan dapat disembuhkan. Namun, hingga kini TBC masih menjadi salah satu masalah kesehatan terbesar di Indonesia. Mengapa hal itu masih terjadi?

Ketika mendengar kata TBC, sebagian orang mungkin langsung membayangkan batuk yang tak kunjung sembuh. Sebagian lainnya justru merasa takut karena penyakit ini masih sering dikaitkan dengan stigma negatif.

Padahal, TBC bukan lagi penyakit yang tidak dapat diobati. Dengan diagnosis yang tepat dan pengobatan yang dijalani hingga tuntas, sebagian besar penderita memiliki peluang yang sangat baik untuk sembuh.

Ironisnya, meski pengobatan sudah tersedia, jumlah kasus TBC di Indonesia masih tergolong tinggi. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata terletak pada keberadaan obat, melainkan pada banyak faktor lain yang saling berkaitan.

Baca Juga: Dunia yang Kita Lihat Belum Tentu Sama. Apa yang Dirasakan oleh Orang dengan Autisme?

Pengobatan Ada, tetapi Banyak Kasus Terlambat Ditemukan

Tuberkulosis disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang umumnya menyerang paru-paru dan menular melalui percikan udara ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara. Gejala yang paling dikenal adalah batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu, tetapi penyakit ini juga dapat disertai demam berkepanjangan, keringat malam, penurunan berat badan, hingga tubuh yang mudah lelah.

Menurut World Health Organization [WHO], salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian TBC adalah masih banyaknya penderita yang belum terdiagnosis atau baru memeriksakan diri ketika penyakit sudah berkembang lebih jauh. Selama belum mendapatkan pengobatan, seseorang tetap berpotensi menularkan bakteri kepada orang-orang di sekitarnya.

Menurut dr. Erlina Burhan, Sp.P[K], dokter spesialis paru dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, keterlambatan diagnosis sering terjadi karena masyarakat menganggap batuk berkepanjangan sebagai keluhan biasa. Tidak sedikit yang memilih membeli obat batuk sendiri atau menunggu hingga gejalanya membaik, padahal pemeriksaan sejak dini justru dapat menghentikan rantai penularan lebih cepat.

Selain itu, sebagian penderita juga menghentikan pengobatan ketika merasa kondisinya mulai membaik. Padahal, terapi TBC umumnya harus dijalani selama minimal enam bulan sesuai anjuran tenaga kesehatan. Jika pengobatan terputus, bakteri yang masih tersisa dapat berkembang kembali dan berisiko menjadi kebal terhadap obat, sehingga penanganannya menjadi jauh lebih sulit.

Baca Juga: Sering Kepanasan atau Mudah Menggigil, Benarkah Ada Hubungannya dengan Golongan Darah?

Mengendalikan TBC Tidak Cukup Mengandalkan Obat

Keberhasilan mengendalikan TBC juga sangat dipengaruhi oleh faktor sosial dan lingkungan. Rumah dengan ventilasi yang kurang baik, kepadatan hunian, status gizi yang kurang optimal, hingga minimnya pemahaman masyarakat mengenai gejala TBC dapat membuat penularan lebih mudah terjadi.

Di sisi lain, stigma masih menjadi tantangan yang tidak kalah besar. Sebagian penderita memilih menyembunyikan penyakitnya karena takut dijauhi atau dianggap membawa penyakit yang memalukan. Akibatnya, mereka menunda pemeriksaan atau enggan memberi tahu orang-orang terdekat yang sebenarnya juga perlu menjalani pemeriksaan jika memiliki risiko tertular.

Padahal, TBC bukan penyakit yang harus disembunyikan. Penyakit ini dapat disembuhkan jika didiagnosis lebih awal dan pengobatannya dijalani secara tuntas sesuai petunjuk tenaga kesehatan. Dukungan keluarga, kepatuhan minum obat, serta lingkungan yang memahami kondisi pasien justru menjadi bagian penting dari proses penyembuhan.

Tingginya angka TBC bukan berarti dunia kehabisan cara untuk mengatasinya. Tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana masyarakat mengenali gejalanya lebih cepat, berani memeriksakan diri tanpa rasa malu, dan menyelesaikan pengobatan hingga tuntas. Sebab, obat memang mampu membunuh bakteri, tetapi kepedulian dan kesadaran bersama adalah hal yang akan benar-benar membantu memutus rantai penularannya. [][Vikalena Lasmoskwa/KK]

Penulisan dan riset artikel ini dibantu AI serta telah melalui proses kurasi Redaksi.